Mencintai Diri Sendiri (Muhasabah Diri)
Ketika takbir ramai terdengar, memenuhi seisi ruangan kota penuh budaya satu ini. Aku kembali bertemankan pada penaku, mengambil catatan kehidupanku kembali. Bersyukur yang harus segera aku ucap, ketika rasa rindu ini terbayarkan oleh pelukan erat kekasih di kampung halaman.
Allah izinkan aku untuk bisa
merasakan kehangatan berkumpul bersama keluargaku di Jogja. Pelukan Mba yang
lebih dulu menghangatkan, menyambut kedatanganku beberapa menit setelah tuntas
bis yang ku naiki menepi dijalan. Teringat bagaimana cerita perjalanan yang
telah ku lalui selama empat bulan ini di tanah rantau tanpa kehangatan seorang
Mba disampingku. Bercerita banyak didalam mobil, aku mencoba menceritakan semua
perasaan dari mulai sedih yang mengisi sebulan penuh di awal tahun sampai
menceritakan bahagia ketika telah menuntaskan dua sidang sekaligus dalam kurun
waktu empat bulan.
Rasanya tak percaya, aku telah
melalui hampir satu semester ini, bertambah rasa syukurku ketika aku menyadari
bahwa proses yang telah aku lalui selama ini, hanya semata-mata datang karena
dimudahkan oleh pertolongan Allah subhanallahu wa ta’ala.
Sesampai dirumah, aku disambut
hangat kembali oleh pelukan yang erat; Mama, Papa, dan Mas. Ah lebai memang
benar dikata kakak-kakakku, anak terakhir selalu identik dengan karakter yang
mellow. Beryukur yang haru ku ucap kembali, ketika akhirnya merasakan beberapa
hari sebelum saatnya datang Hari Raya Idul Fitri, aku bisa merasakan
kebersamaan buka bersama dengan keluargaku, berangkat bersama ke masjid untuk
menunaikan solat tarawih. Bahagia bercampur haru yang mengisi sesak pada hati
ini.
Alhamdulillah bini'matihi
tattimus shalihaat
Satu persatu lembaran kehidupan
terlewati, sebisa mungkin kita menyisakan lembaran untuk mengisi dengan tinta
evaluasi. Ada banyak harapan yang aku taruh pada pundakku, meninggalkan beban
yang sudah tak kepalang lagi aku pikirkan begitu dalam. Namun, aku lupa untuk
berjeda mengapresiasi diriku selama ini, aku selalu menyuruhnya untuk bekerja
keras mengejar deadline, memenuhi harapan orang lain pada diriku, menuntut
kesempurnaan ini-itu. Masya Allah, aku lupa dengan satu pelajaran untuk
mencintai diriku sendiri.
Memang selama ini, kalau bukan
diri kita, siapa lagi yang akan mengapresiasi atas pencapaian yang telah kita
raih, karena tentunya penilaian orang berbeda-beda. Ini yang menjadi catatan
evaluasi untuk diriku, aku selalu saja menyalahkan diriku ketika apa yang
terjadi tidak sesuai dengan harapan, parahnya ini bisa membuat aku berdiam lama
memikirkannya dan mengutuk diriku sendiri. Menyalahkan keadaan dan menyalahkan
diri sendiri seakan menjadi tipis untuk dibedakan.
Mencintai diri sendiri bukan
berarti puas dan berhenti, hanya saja kita perlu berjeda untuk mendamaikan peperangan
batin. Bukan bermakna kerendahan diri, mengecap dengan cap yang salah untuk
diri. Seringkali pikiran kita ini dipusatkan oleh sebuah pencapaian, dan
parahnya lagi dibumbui oleh pembanding-pembanding yang kita buat sendiri. Belum
mencapai tujuan, kita sudah mulai merasa rendah diri, membandingkan bekal yang
dipunya oleh orang lain. “Dia lebih pandai, dia lebih cantik, dia lebih
beruntung daripada saya..” dan perkataan lain yang memupuk citra negatif pada
diri.
Dengarlah teman, aku tahu
setiap kita pernah merasakan ini, tetapi kita masih mempunyai kelebihan yang
belum tentu dimiliki oleh orang lain, dan pastinya yang mengetahui kelebihanmu
adalah dirimu sendiri. Bukan untuk memutuskan berhenti ketika tahu lawan kita
lebih hebat dari kita, bukan untuk memutuskan behenti ketika tahu medan perang
kita bukanlah zona aman kita. Dan disini kata mencintai diri tersematkan untuk
kamu pupuk menjadi pohon rindang yang akan menyejukkan hatimu, kita tahu bahwa
masing-masing dari kita punya kelebihan dan kekurangan, masing-masing kita
punya kesempatan yang sama untuk merasakan pada sebuah tujuan tertentu.
Bejedalah sebentar untuk menyakini bahwa dirimu sangatlah berharga karena Engkaulah yang terpilih oleh Allah untuk dilahirkan didunia yang indah ini.
Mencintai diri sendiri bukanlah
mengangungkan diri, menebar kesombongan yang dimiliki oleh diri. Mencintai diri
sendiri merupakan cara berterimakasih kita kepada Allah yang telah memberikan
begitu banyak kebaikan untuk diri kita.
Kesempurnaan yang mutlak
hanyalah milik Allah, sementara kemaksuman (terepeliharanya dari dosa) hanya
dipunyai oleh Rasul Allah.
Sehingga sudah dengan pasti
kita sebagai seorang manusia tidak lepas dari kekurangan, Inilah yang harus
kita yakini, bahwa apa yang telah kamu lalui hanyalah semata-mata dari
pemberian Allah dan kekurangan yang didapat oleh kita adalah sebuah kewajaran
bagi kita seorang manusia.
Jika kamu terus mengutuk dirimu
atas keinginanmu yang belum tercapai, inilah waktunya kamu untuk berjeda
sebentar untuk mencintai dirimu sendiri. Dia telah banyak meluangkan waktu dan
tenaga untuk membantu dirimu untuk mencapai yang dimau oleh mu, ya—dia, adalah
dirimu yang selalu menemani hari-hari mu. Dengan mencintai dirimu, dan mengenal
dirimu, kamu akan bisa mencintai PenciptaMu, yang telah Maha Baik memberikan
kesempatan hidup untukmu.
©Yogyakarta, 8 Juni 2019


0 $type={blogger}
Terimakasih sudah membaca, mohon beri komentar yang bijak dan sesuai dengan topik yang dibahas