Mencintai Diri Sendiri (Muhasabah Diri)

by - June 08, 2019


Ketika takbir ramai terdengar, memenuhi seisi ruangan kota penuh budaya satu ini. Aku kembali bertemankan pada penaku, mengambil catatan kehidupanku kembali. Bersyukur yang harus segera aku ucap, ketika rasa rindu ini terbayarkan oleh pelukan erat kekasih di kampung halaman. 

Allah izinkan aku untuk bisa merasakan kehangatan berkumpul bersama keluargaku di Jogja. Pelukan Mba yang lebih dulu menghangatkan, menyambut kedatanganku beberapa menit setelah tuntas bis yang ku naiki menepi dijalan. Teringat bagaimana cerita perjalanan yang telah ku lalui selama empat bulan ini di tanah rantau tanpa kehangatan seorang Mba disampingku. Bercerita banyak didalam mobil, aku mencoba menceritakan semua perasaan dari mulai sedih yang mengisi sebulan penuh di awal tahun sampai menceritakan bahagia ketika telah menuntaskan dua sidang sekaligus dalam kurun waktu empat bulan. 

Rasanya tak percaya, aku telah melalui hampir satu semester ini, bertambah rasa syukurku ketika aku menyadari bahwa proses yang telah aku lalui selama ini, hanya semata-mata datang karena dimudahkan oleh pertolongan Allah subhanallahu wa ta’ala.

Sesampai dirumah, aku disambut hangat kembali oleh pelukan yang erat; Mama, Papa, dan Mas. Ah lebai memang benar dikata kakak-kakakku, anak terakhir selalu identik dengan karakter yang mellow. Beryukur yang haru ku ucap kembali, ketika akhirnya merasakan beberapa hari sebelum saatnya datang Hari Raya Idul Fitri, aku bisa merasakan kebersamaan buka bersama dengan keluargaku, berangkat bersama ke masjid untuk menunaikan solat tarawih. Bahagia bercampur haru yang mengisi sesak pada hati ini.

Alhamdulillah bini'matihi tattimus shalihaat

Satu persatu lembaran kehidupan terlewati, sebisa mungkin kita menyisakan lembaran untuk mengisi dengan tinta evaluasi. Ada banyak harapan yang aku taruh pada pundakku, meninggalkan beban yang sudah tak kepalang lagi aku pikirkan begitu dalam. Namun, aku lupa untuk berjeda mengapresiasi diriku selama ini, aku selalu menyuruhnya untuk bekerja keras mengejar deadline, memenuhi harapan orang lain pada diriku, menuntut kesempurnaan ini-itu. Masya Allah, aku lupa dengan satu pelajaran untuk mencintai diriku sendiri. 

Memang selama ini, kalau bukan diri kita, siapa lagi yang akan mengapresiasi atas pencapaian yang telah kita raih, karena tentunya penilaian orang berbeda-beda. Ini yang menjadi catatan evaluasi untuk diriku, aku selalu saja menyalahkan diriku ketika apa yang terjadi tidak sesuai dengan harapan, parahnya ini bisa membuat aku berdiam lama memikirkannya dan mengutuk diriku sendiri. Menyalahkan keadaan dan menyalahkan diri sendiri seakan menjadi tipis untuk dibedakan.

Mencintai diri sendiri bukan berarti puas dan berhenti, hanya saja kita perlu berjeda untuk mendamaikan peperangan batin. Bukan bermakna kerendahan diri, mengecap dengan cap yang salah untuk diri. Seringkali pikiran kita ini dipusatkan oleh sebuah pencapaian, dan parahnya lagi dibumbui oleh pembanding-pembanding yang kita buat sendiri. Belum mencapai tujuan, kita sudah mulai merasa rendah diri, membandingkan bekal yang dipunya oleh orang lain. “Dia lebih pandai, dia lebih cantik, dia lebih beruntung daripada saya..” dan perkataan lain yang memupuk citra negatif pada diri. 

Dengarlah teman, aku tahu setiap kita pernah merasakan ini, tetapi kita masih mempunyai kelebihan yang belum tentu dimiliki oleh orang lain, dan pastinya yang mengetahui kelebihanmu adalah dirimu sendiri. Bukan untuk memutuskan berhenti ketika tahu lawan kita lebih hebat dari kita, bukan untuk memutuskan behenti ketika tahu medan perang kita bukanlah zona aman kita. Dan disini kata mencintai diri tersematkan untuk kamu pupuk menjadi pohon rindang yang akan menyejukkan hatimu, kita tahu bahwa masing-masing dari kita punya kelebihan dan kekurangan, masing-masing kita punya kesempatan yang sama untuk merasakan pada sebuah tujuan tertentu. 

Bejedalah sebentar untuk menyakini bahwa dirimu sangatlah berharga karena Engkaulah yang terpilih oleh Allah untuk dilahirkan didunia yang indah ini.

Mencintai diri sendiri bukanlah mengangungkan diri, menebar kesombongan yang dimiliki oleh diri. Mencintai diri sendiri merupakan cara berterimakasih kita kepada Allah yang telah memberikan begitu banyak kebaikan untuk diri kita. 

Kesempurnaan yang mutlak hanyalah milik Allah, sementara kemaksuman (terepeliharanya dari dosa) hanya dipunyai oleh Rasul Allah. 

Sehingga sudah dengan pasti kita sebagai seorang manusia tidak lepas dari kekurangan, Inilah yang harus kita yakini, bahwa apa yang telah kamu lalui hanyalah semata-mata dari pemberian Allah dan kekurangan yang didapat oleh kita adalah sebuah kewajaran bagi kita seorang manusia. 

Jika kamu terus mengutuk dirimu atas keinginanmu yang belum tercapai, inilah waktunya kamu untuk berjeda sebentar untuk mencintai dirimu sendiri. Dia telah banyak meluangkan waktu dan tenaga untuk membantu dirimu untuk mencapai yang dimau oleh mu, ya—dia, adalah dirimu yang selalu menemani hari-hari mu. Dengan mencintai dirimu, dan mengenal dirimu, kamu akan bisa mencintai PenciptaMu, yang telah Maha Baik memberikan kesempatan hidup untukmu.

©Yogyakarta, 8 Juni 2019





You May Also Like

0 $type={blogger}


Terimakasih sudah membaca, mohon beri komentar yang bijak dan sesuai dengan topik yang dibahas