Belajar dari Seorang Hafidz Cilik

by - June 18, 2019


Hati yang menangis karena melihat diri yang sebenarnya lebih kecil dihadapan anak kecil yang sungguh luar biasa. Dibuat kagum olehnya. Diri yang lalai memanfaatkan kesempurnaan fisik yang telah dipunyanya, diri yang lalai untuk menjadi hambaNya untuk selalu mencinta kepadaNya. 

Terimakasi dek, kamu sudah hadir membawa cerita, walaupun tak secara langsung kakak dipertemukan denganmu, tetapi rasanya sudah bersyukur kakak bisa mengenal siapa dirimu. 

Bagi kita, mungkin sungguh sangatlah mudah untuk berlari. Bagi kita, mungkin sungguh sangatlah mudah untuk bernyanyi atau paling tidak dapat menghasilkan suara yang jelas untuk diperdengarkan. Bagi kita, mungkin sungguh sangatlah mudah untuk bergerak kemana saja tanpa perlu ditemani oleh alat bantu yang mengiringi langkah kita. Masya Allah wa tabarakallah..

Cerita adek yang membuat kita semakin tersadar, akan Kuasa dan KebesaranNya yang tidak memiliki batasan.

Darinya, aku belajar untuk membangun semangatku lagi dalam menghafal Al-Qur'an. Bukan perkara yang mudah, menjadi seorang hafidz dan hafidza karena perlu kemauan diri yang kuat tentunya dibersamai dengan penuh harap, ya- semua karena KuasaNya. 

Aku belajar dari bundamu dek, yang merendah selalu ketika memperdengarkan cerita tentangmu, aku tahu ada usaha yang telah keras kamu perjuangkan, namun bundamu mengingatkan kepada para pecinta Al Qur'an bahwasanya hanyalah Allah saja yang dapat menggerakkan kemauan seseorang untuk membaca Al-Qur'an. Hanyalah Allah saja, yang akan memudahkan kita untuk membaca Al-Qur'an, dan masya Allah kamu salah satu hamba yang terpilih dek.

Ada rasa gelisah yang semakin menjadi, ketika bulan yang dirindukan telah pamit, meninggalkan salam perpisahan, sehingga diri harus merajut rindu kembali. Aku semakin tenggelam akan rasa bersalah karena telah melewati hari di bulan suci Ramdhan tanpa banyak meluangkan waktu untuk belajar menghafal Al-Qur'an kembali. 

Pikirku, belum waktu yang tepat untuk diriku, karena anggapan diri penuh dengan dosa, ada rasa kecewa pada diri yang dulunya sudah mencoba untuk menghafal namun menguap karena masih terlena dengan tugas dunia. Harapan yang pupus, dulu pernah menuliskan impian, aku berharap menjadi seorang penghafal Al Qur'an di tanah rantau ini, aku memasang target delapan juz selama belajar di jenjang studi strata satuku ini, itu berarti satu juz untuk satu semesternya. 

Qadarullah, Allah telah memberikan izin untuk belajar lagi, walaupun aku belum bisa mencapai sesuai target namun Allah masih memberikan kesempatan usia, kehidupan untuk diri ini agar kembali bersemangat mempelajari Al Qur'an. Masih di bilangan juz yang sama dari sejak masuk kuliah sampai sekarang, aku masih belajar untuk terbiasa melafalkan kalam Ilahinya di satu juz yang menjadi awal cerita hafalanku. Masya Allah wa Alhamdulillah tetap harus bisa disyukuri, karena lewat cerita dari adek, diri ini jadi tersemangati kembali.

Rasanya ingin memeluk adek, dan mencium kening dan tangan adek. Terharu bukan main ketika mendengar takjub dari lantunan kalam Ilahi yang disampaikan oleh adek. Kakak rasa adek tidak bisa dibilang mempunyai kekurangan, ketika tahu riwayat penyakit adek yang di vonis mengidap kelumpuhan otak, masya Allah menurut kakak bukanlah sebuah kekurangan adek namun sebuah anugerah untuk adek.

Masya Allah, lewat penyakit atau keterbatasan yang dimiliki oleh seseorang, Allah masih memberikan harapan untuk setiap hambaNya, termasuk kepada adekku spesial ini. Lewat cerita adek, bagaikan membukakan tabir dari sebuah logika manusia, cerita adek telah memunculkan harapan baru untuk orang tua adek atau bahkan orang tua lain yang memiliki anak dengan penyakit yang sama seperti adek, bahwa kenyataan lewat penyakit tersebut ada kebaikan-kebaikan yang tersimpan, yang diberikan oleh Allah. Memunculkan harapan, memupuk kepercayaan kembali, dan berjuang untuk memberikan inspirasi kepada orang lain, itu yang adek ajarkan kepada kakak, dan kakak rasa bukan kepada kakak saja, namun pada semua kaum muslim, Masya Allah wa tabarakallah

Kalau belum tahu siapa adek yang aku maksud ini, kalian harus menonton video di akhir postingan blog ini. Sebuah keharusan bagi setiap muslim untuk menguatkan ikatan imannya. Ketika dirasa waktu sudah terbuang percuma, ada baiknya kita menyisihkan waktu dengan bersegera mencari kebaikan, salah satunya bisa memanfaatkan waktu dengan mencari kisah-kisah inspratif. Bagiku ini adalah sebuah keasyikan tersendiri, ketika dirasa diri penuh dengan kekurangan dan kemalasan, misal hari ini rasanya malas sekali untuk menghafal Al-Qur'an, kita bisa mengatasinya dengan mencari kisah-kisah inspiratif seseorang yang mempunyai pengalaman hebat dengan Al Qur'an salah satunya cerita adek Naja ini. 

Mengapa perlu mengeksplor diri dengan meluangkan waktu sebentar menjadi penonton, pendengar, ataupun pembaca kisah-kisah inspiratif? Karena lewat cara tersebut, kita bisa membangun semangat lagi untuk memperjuangkan iman kita. Dan sedihnya, memang tak mudah bagi kaum milenial memanfaatkan waktu hidupnya dengan baik, tak terkecuali diri ini, karena diri juga seorang pembelajar yang masih belajar untuk membenahi diri. Untuk pengingatku dan pengingatmu, jangan lelah untuk memperkaya diri dengan ilmu yang baik, dan jangan lelah untuk berbenah menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Pernah aku mendengar salah satu tausiyah dari ustadz Adi Hidayat, tentang menjaga keistiqomahan untuk mengerjakan suatu amal. Misal ingin istiqomah untuk bisa khusyuk dalam sholat, yang harus dipelajari diantaranya adalah keutamaan solat khusyuk (apa ganjaran bagi orang yang senantiasa mendirikan sholat dengan khusyuk). Kedua, mempelajari kemudharatan yang mungkin akan terjadi jika amalan tersebut ditinggalkan. Dari mempelajari dua sisi yang berbeda tersebut, kita insya Allah akan tersemangati untuk istiqomah mengerjakan suatu amalan. Masya Allah..

Tulisan ini menghasilkan tinta-tinta muhasabah diri. Bahwa sesungguhnya masih banyak kekurangan yang dimiliki diri, dan sesungguhnya masih banyak potensi diri yang belum dimanfaatkan dengan baik. Bunda dan adek Naja telah mengajarkan kepada kita semua, bahwa tak ada yang bisa menghalangi dahsyatnya Kuasa Allah, walaupun teknologi kedokteran mengatakan adanya kelumpuhan otak pada diri seorang manusia, lewat perintahNya "kun fa yakun, jadilah maka jadilah! manusia tersebut dapat dengan mudah menghafal Al-Qur'an dengan keterbatasan otak yang dimilikinya. Masya Allah.

Muhasabah bagi diri ini, kita yang sudah seharusnya bersyukur akan nikmat sehat kesempurnaan anggota badan, apakah sudah bisa menjadikan Al-Qur'an sebagai teman setia hidup kita? La haula wala quwaata illa billah, bergetar jari ini untuk melanjutkan kalimat berikutnya. 

Kita telah penuh dikelilingi dengan kemudahan masih saja sulit untuk meraih Al Qur'an kita,  masih saja enggan untuk mempelajari ; menghafal ; membaca ; bahkan menyentuh Al Qur'an sekalipun. Ada apa denganmu diri, sudah mulai lupa kah diri bahwa Al Qur'an akan memberi syafaat untuk kita di akhirat kelak. Jangan menanti waktu penyesalan ketika tiba saatnya pulang, merasakan rasa yang sama dirasakan oleh para pendahulu, orang yang sudah tiada memohon untuk dihidupkan kembali agar ia mengisi waktu hidupnya dengan banyak beribadah. 

Masihkah kehidupan akan dilihat esok, masihkah kita mau berdiam diri menjadi diri yang selamanya tak mau berbenah? Kembali aku merenung atas apa yang telah aku tuliskan. Bukan menjadi pengingatmu saja, tetapi tulisan ini adalah catatan kehidupanku yang mungkin aku butuhkan untuk membaca ulang kembali. Terimakasih Adek Naja dan bunda, dari beliau aku banyak belajar untuk bersemangat kembali menghafal Al-Qur'an, Insya Allah.


Aku mengingat kembali, menemukan catatan kajian tafsir yang dibawakan oleh Ustadz Mubarak Bamuallim, Lc., M.H.I. Dalam kajiannya tersimpan cerita anak dengan ayahnya, ketika itu seorang anak sedang mengamati ayahnya yang selalu rajin membaca Al-Qur’an namun tak kunjung hafal selain Al Fatihah dan surat-surat pendek (persis dengan diri ini).

Anak tersebut mendekat dan berkata kepada ayahnya “ Wahai Ayah, Engkau rajin membaca Al-Qur’an namun tak kunjung engkau hafal selain sedikit, lalu apa gunanya buatmu?”
Ayahnya menjawab, “Ada gunanya, permisalan bacaanku ini seperti jika engkau mengambil air laut dengan keranjang bambu.”
“Bagaimana bisa? Tentu airnya akan keluar dari celah keranjang.
“Kalau engkau benar ingin tahu coba lakukan saja” jelas ayahnya.
Maka si anak mengambil keranjang bambu yang biasa mereka gunakan menampung arang untuk mengambil air laut. Berkali-kali ia mencoba untuk mengambil tetapi sia-sia, airnya selalu tumpah melaui celah-celah keranjang. Pada akhirnya si anak menyerah, karena lelah, ia protes pada ayahnya “ Sungguh ini pekerjaan yang sia-sia, tidak ada gunanya, yah.”
“Tidak.” Jawab ayahnya“Engkau memang tidak bisa mengambil air laut, tetapi coba lihat keranjang bambu itu.”Si anak melihat da ia baru menyadari bahwa keranjang itu kini bersih tanpa ada bekas hitam dari arang. “Adakah kau lihat sedikit saja warna hitam bekas arangnya?” Tanya sang ayah“Tidak ada , sudah bersih” jawab si anak“Seperti itulah, aku memang tidak mampu menampung Al-Qur’an dalam kepalaku, namun Al-Qur’an telah membersihkan hatiku”

MasyaAllah, Ustadz Adi Hidayat juga menambahkan bahwa keutamaan seorang yang bertemankan dengan Al-Qur’an adalah terlindungi dirinya dari perbuatan yang buruk. Al-Qur’an membuat bersih hati para pembacanya, Allah memberikan malaikat khusus untuknya yang mendampingi terus kehidupan orang yang hobi membaca Al-Qur’an, Malaikat khusus yang disebut oleh Allah adalah malaikat Syafaratil Qiramil Baroroh yaitu malaikat yang menjaga kebaikan. Masya Allah, ayo kita bersemangat untuk menajadikan Al-Qur’an sebagai teman hidup kita!








You May Also Like

0 $type={blogger}


Terimakasih sudah membaca, mohon beri komentar yang bijak dan sesuai dengan topik yang dibahas