Dunia Tempatnya Capek!
Hari-hari berlalu dengan cepat. Kembali menyimpan kenangan dalam album kehidupan. Satu per satu datang lalu pergi, silih berganti. Tak terasa kaki ini mengulang kembali di pijakan yang sama. Melayangkan salam perpisahan kepada orang terkasih. Melabuh pada kota yang dikata megapolitan. Hai, bersua kembali! Semoga pijakkan kaki ini tetap menguat penuh keyakinan akan kuasaNya. Semoga ya begitu juga menjadi semoga bagi kalian, para pejuang yang tak kenal lelah menjelejahi bumi Allah.
Ah dunia memang tempat persinggahan yang melelahkan ya? Jika tidak bersegera dipeluk oleh keimanan, menjadi sayang saja waktu lelah dunia terbuang tanpa menghiraukan berkah. Mungkin bagi kita sulit ya memaknai rencana Allah. Tetapi bukankah tugas kita sudah jelas disebutkan untuk beribadah? Maka tidaklah cukup menjelajahi bumi Allah tanpa rasa tunduk kita sebagai seorang hamba. Alih-alih menetap, keberadaan kita hanyalah sementara di dunia. Segala sesuatu di dunia memiliki titik akhirnya masing-masing. Tidak ada yang kekal, kecuali dengan izinNya menjadi kekal. Abadi hanya milik Allah semata.
Mengeja kembali pelajaran apa yang sudah dituliskan hari lalu. Allah mengajarkan sebuah makna kebahagiaan yang paling mendasar. Karena dikata mendasar itulah maka jadilah tidak banyak yang sampai bertahan menyelam lebih dalam. Hanya memaknai kebahagiaan diatas permukaan. Tak mudah kecuali bagi orang-orang yang terus menerus memanjatkan do'a untuk ketetapan iman pada Islam. Semoga Allah beri kita kemampuan untuk menyelami makna setiap firmanNya ya lebih dalam lagi. Alhamdulillah, bukan persoalan materi sebagai sangu di kota rantau, yang terutama adalah sangu keilmuan untuk selalu tetap menguat pada keimanan kita. Bergetar jari ini, karena sungguh apa yang telah dan akan tertulis merupakan bagian pembelajaran untuk diri ini.
When life gets hard. Saat kita berada di persimpangan pada tiga pilihan, jalan maju, mundur atau bertahan. Semua adalah pilihan dan pilihlah menurut versi terbaik kamu tanpa melupakan untuk melibatkan Allah. Aku belajar dari tafsir surat Al Balad ayat 4, bahwa manusia akan istirahat dari kepayahannya ketika masuk surga maka jangan terlalu berangan besar dunia akan menjadi tempat peristirahatan kita. Semua orang di dunia dalam keadaan bersusah payah, tidak ada kelezatan dan peristirahatan yang sempurna kecuali di surgaNya Allah kelak. Semua orang akan diuji, ujian merupakan salah satu bukti perhatianNya Allah kepada kita. Dari ujian itulah kita akan mencari tempat untuk bersandar, mencari sajadah untuk bersujud, dan puncaknya adalah derajat keimanan kita akan bertambah. Belajarlah untuk percaya bahwa segala sesuatu yang datang menimpa kita, merupakan skenarioNya Allah yang dipilih paling baik untuk kita jalani.
Dan kebahagiaan mendasar dalam ajaran Islam adalah bagi orang mukmin yang menghiasi dirinya dengan hati yang penuh akan ketenangan, ketentraman meskipun pada saat itu ia sedang menghadapi kepayahan.
Benar berarti ya, dunia memang tempatnya capek. Tempat kita untuk selalu berikhtiar mencari bekal di akhirat kelak. Bukan untuk menjadi tempat kita memujanya sampai lelah dalam kelalaian.
Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia selalu didepanmu, kenalilah Allah disaat lapangmu, niscaya Dia akan mengenalmu dalam sempitmu. Ketahuilah, apa yang salah takkan menimpamu, apa yang menimpamu bukan sesuatu yang salah. Tak ada pertolongan tanpa kesabaran. Tak ada kesenangan tanpa kesusahan dan tak ada kemudahan tanpa kesulitan
Foto oleh Hakan Nural dari Pexels

