Pekan Yang Penuh Pembelajaran
Mendung tak berarti hujan, aku mengiyakan perkataannya, pikirku benar juga.
Matahari semakin menyapa hari kian terik. Orang-orang hilir mudik
kesana kemari. Tak terhitung lagi jumlah pribumi yang memenuhi sesak stasiun
kota ini. Ada yang berpakaian santai ada pula dengan gaya pakaian rapi siap
berangkat mencari peruntungan hidup. Peron kereta sudah mulai dipadati oleh
antrian para commuter. Ah betapa terpacu diri dengan orang-orang yang sudah
lebih pagi menyambut hari. Cukup mengenang, memiliki harapan untuk kembali
kesana tak sanggup ku amini dengan keras. Karenanya masih ada rasa untuk saling
membersamai dengan keluarga. Kata orang, Anak bontot memang.
Sudah lama tak melihat keramaian kota. Pagi hariku kini aku awali
dengan jalan pagi, yoga dan sarapan bersama keluarga, merasakan tenang dan
dinginnya suasana pedesaan. Terkadang pagiku juga terlewati tanpa melakukan
rutinitas sehat ataupun sekedar menenangkan diri dengan yoga. Kadang aku merasa
seperti budak korporat, yang mengambil waktu lembur untuk mencapai target
tugas. Akhir pekan kali ini, aku merasakan bersyukur sekali.
Seperti awalan ceritaku diatas. Mendung tak berarti hujan. Siapa
pun dia, pasti pernah mengalami kesalahan atau menemukan kendala yang tidak
disadari tahu tahu berbuntut jadi masalah besar. Minggu berat bagiku kali ini,
sampai aku merasakan tak bisa tidur. Mungkin orang lain menganggap ini adalh
sebuah hal yang remeh. Entah orang berkata apa, mengecap diriku overthinking
pun tak apa. Dua hari di awal pekan, aku disibukkan oleh dua pikiran yang
berlawanan, disatu sisi ingin sekali menyudahi masalah dengan jalan yang tidak
baik disatu sisi lain aku tidak ingin melakukannya. Jika dirunut kembali
permasalahannya, sebenarnya aku pernah mengalami masalah dengan konteks yang
sama. Benar benar rasanya diuji, diuji untuk tetap selalu berpegang pada apa
yang Allah sukai.
Aku merasakan tidak berdaya menyelesaikan masalah ini dengan
sendiri. Berpikir bagaimana cara menyelesaikan masalah tersebut, dari mulai
menceritakan semuanya ke Allah, curhat, dan tiba saatnya untuk menentukan
sikap. Aku tidak ingin menunda waktu untuk menyelesaikan masalah yang sudah
membuat emosiku tidak karuan, takut, bingung, rasa sendiri, tidak nafsu makan,
bahkan susah tidur. Aku percaya Allah selalu ada untuk hambaNya. Merasa sangat
bersyukur sekali, karena sewaktu masih merantau, aku diajarkan oleh Allah untuk
melihat permasalahan dengan jalan keluar yang baik. Aku sangat takut jika
pekerjaan yang aku selesaikan tidak membawa berkah.
Satu persatu aku tuliskan baik buruknya dampak dari sikap yang aku
akan ambil. Dan sudah pasti jika mengambil jalan keluar dengan cara yang tidak
baik, mungkin aku tidak akan merasakan dampaknya secara langsung, mungkin saja
ditahan oleh Allah untuk menjadi pertanggungjawabanku di akhirat. Aku sudah
memikirkan matang-matang jalan keluarnya, walaupun memilih untuk berkata jujur
dan mendiskusikannya itu sangat berat untuk dilakukan, mungkin saja ada orang
yang tidak menerima dengan kesalahan yang aku perbuat atau bahkan mengumpat
diriku dari belakang. Aku sudah tidak peduli dengan penilaian orang, yang aku
pedulikan adalah ridhonya Allah. Oh ya, saat menentukan jalan keluarnya, aku
selalu saja bertanya apa jawaban Allah dari cerita yang sudah aku sampaikan
dalam do'a, walaupun tidak kesampaian untuk solat istikharah, aku merasakan
Allah begitu baik memberikan petunjuk untuk jalan keluar dari masalah yang aku
hadapi. Saat subuh sebelum memulai kerja kembali, aku membaca Al-Qur'an,
terkadang aku membaca artinya, dan diwaktu yang tepat artinya mengarahkan aku
untuk tidak melakukan perbuatan yang dibenci oleh Allah, masya Allah
benar-benar langsung buat lega, ternyata Allah memberikan jawaban dengan cara
seperti ini.
“Dan sesungguhnya mereka telah membuat makar yang besar [791]
padahal di sisi Allah-lah (balasan) makar mereka itu. Dan sesungguhnya makar
mereka itu (amat besar) sehingga gunung-gunung dapat lenyap karenanya.” Q.S
Ibrahim [14] : 46
“Agar Allah memberi pembalasan kepada tiap-tiap orang terhadap apa
yang ia usahakan. Sesungguhnya Allah Maha cepat hisab-Nya.” Q.S Ibrahim [14] :
51
Tanpa mengulur waktu lagi, aku beranikan diriku untuk berbicara apa yang selama ini menjadi kendala aku dalam bekerja. Lagi-lagi dibuat meleleh sama rencanaNya Allah.. Pikirku.. Aku akan banyak sekali mendapatkan kritikan dan dimarahi, sekalipun tidak. Aku bekerja dengan kakak yang menurutku sangat pengertian dengan kondisiku yang kurang berpengalaman, dia pun tak serta merta menyalahi aku seorang diri, tetapi juga kakaknya malah intropeksi diri karena memberikan arahan tugas yang menurut dia tidak straightforward alhasil membawaku pada masalah ini. Alhamdulillah, aku sangat bersyukur aku berhasil melewatinya dan melakukan dengan cara yang disukai Allah
Aku ingin mengatakan ini pada diriku dan ini mungkin bisa menjadi pengingat bagi dirimu juga
“Diri, sudah berapa kali
kamu menemukan masalah yang cukup menguras energi kamu untuk berpikir jalan
keluarnya? Tidak ada satupun masalah yang tidak ada jalan keluarnya. Allah
memberikan suatu masalah kepada hambaNya, tidak akan melebihi dari kemampuan
hambaNya. Jangan berpikir kamu akan sendiri melewatinya, libatkan Allah ya,
ingat masa-masa sulit yang sudah kamu lalui, bukankah semua itu karena kuasa
Allah? Kamu tidak sendiri, ada Allah yang selalu membersamaimu. Ingat terus
untuk selalu memilih jalan keluar yang disukai oleh Allah. Aku tahu menentukan
jalan keluar dari masalah itu membutuhkan waktu, tidak apa-apa. Asal kamu
memulangkan semuanya ke Allah. Dan jangan menunggu lama untuk berbuat baik, aku
tahu.. Tidak mudah mengambil sikap kebaikan, aku tahu rasanya sangat beraat..
Ada kekhawatiran kamu akan mendapatkan posisi yang merugikan di dunia. Tetapi,
dunia ini tidak selamanya akan abadi. Ada masa dimana kamu akan
mempertanggungjawabkan setiap tindakan yang kamu pilih di dunia. Bukan untuk
menakuti, namun yang terpenting ingatlah jalan yang kamu pilih karena
berlandaskan ridho Allah itu adalah yang utama.”
Happy weekend, terimakasih sudah membaca cerita ini!
Ilustrasi foto oleh JESHOOTS.com dari Pexels


