Hai, Apa Kabar?
Sepi mungkin itu adalah rasa yang tersisa selama dua tahun ini. Tak pernah puas memang, yang disebut orang lain bahagia malah sendiri yang ku rasa. Namun, jika menyelemainya lebih jauh, sebenarnya rasa kesendirian hanyalah pengakuan yang tak berarti. Terkadang juga aku tak pernah ingin mengakui bahwa keadaan sekarang tak kemudian menjadi ramai seperti sedia kala. Masih teringat, saat menyandang jadi anak rantau, aku mengadu kesendirian, berharap agar aku bisa selamanya berada dalam dekapan kampung halamanku. Ah aku lupa tanah yang kupijak, aku lupa jika keinginanku yang membuat diriku berkelana, rasa sendiri membuatku tenggelam mengikuti arah yang tak pasti, lalai dalam memaknai arti kehidupan sebenarnya. Bergerak, berjalan bahkan berlari sekalipun, beribadah seharusnya menjadi landasan yang utama.
Hai, apa
kabar dengan hati ini? Sudah bersyukur hari ini? Terkadang, hati ini masih
tertatih menerima keadaan, pintaku bisa berkeliling sudut kota dengan
orang-orang yg membuat diriku nyaman. Satu per satu salam perpisahan kembali
aku sampaikan, tak selamanya cerita ini berakhir pada kebahagiaan. Ada
kalanya berjumpa dan ada kalanya berpisah, hidup dipenuhi dengan makna yang
berlawanan. Ada kalanya merasa yang sedih tak terkira, ada kalanya merasakan
suka cita.
Kini,
berdamai dengan diri sendiri menjadi pilihan. Kembali menjadi anak rumahan
namun bukan seperti biasanya. Rutinitas sehari-hari memacu diriku untuk
berkembang selalu, menuruti tugas demi tugas dan bertumbuh menjadi perempuan
yang dipeluk penuh tanggung jawab. Aku sangat berterimakasih, rasa sendiri tak
membuatku bosan untuk memaknai hidup. Ketika langkahku terhenti untuk menghela
napas sebentar, aku masih bisa melihat wajah orang tuaku yang sibuk dengan
pekerjaannya masing-masing. Masih ku lihat dan ku rasakan semua berkumpul pada
satu rumah tempatku berpulang. Merasakan pulang kantor, pagi berpamitan dengan
orang tua walaupun jarak kantor hanya hitungan langkah, ya berkantor di kamar
sendiri sangatlah mengasyikkan bagi diri yg introvert ini. Begitu baiknya sang
Kuasa menakdirkan aku untuk tetap membersamai keluarga setelah hari-hari
menjadi anak rantau terlalui, Allah kasih aku kesempatan untuk bisa berbakti
kepada orang tua dengan cara unik, bekerja namun tetap berada diantara mereka
lebih dekat dari sebelumnya.
Biarkanlah
semua bergerak mengikuti alur yang dikehendakiNya. Masing-masing manusia yang
sudah dewasa pun akan merasakan demikian, perjumpaan dan perpisahan adalah hal
yang biasa dilakukan. Tak perlu larut untuk mengkhawatirkan keadaan akan
berubah tak sesuai harap kita, yakinlah bahwa semua yang sudah digariskan
adalah versi terbaik untuk dirimu. Sudah lama memang tidak menuliskan
kata-kata, hari-hari yang ku lalui setelah menyandang gelar sarjana membuat
diriku berterimakasih. Ya berterimakasih kepada diri sendiri, yang sudah mampu
tetap mengalah dengan keadaan, dan tangguh untuk tetap berdiri walau masih rasa
takut yang tersisa. Selamat mengarungi perjalanan kehidupan selanjutnya, entah
di persimpangan jalan mana, cerita ini akan memulai babak baru, yang pasti aku
tidak ingin larut memikirkan masa lalu, apalagi rasa cemas pada masa yang akan
datang. Hidup untuk hari ini, hidup untuk saat ini, ada dan utuh bukan untuk
menyesali dan mengkhawatirkan.
Ilustrasi foto oleh Taryn Elliott dari Pexels
©Yogyakarta, 5 Juni 2021


0 $type={blogger}
Terimakasih sudah membaca, mohon beri komentar yang bijak dan sesuai dengan topik yang dibahas