Amalan Hati : Ikhlas
by
Filan
- May 27, 2020
Terselip tanya pada diri,
memang apa yang menjadi alasan kamu untuk tetap menghamba padaNya? Adakah yang
demikian, menyampaikan pertanyaan yang sama sepertiku?
Ini bukan pertamakalinya untuk
diriku. Kedua kali atau mungkin sudah sering sekali terlupakan. Dikala malam,
tiba waktunya untuk mengevaluasi diri, aku terpikirkan-- apa selama ini yang ku
lakukan hanya sebatas untuk memenuhi keinginanku? Aku tidak sendiri, lebih
tepatnya alam membawaku pada keramaian. Ya hanya aku dan hati ini, yang tak
kunjung menemukan jawaban yang tepat. Aku meraba niat yang tak pasti selalu ada
hanya untukNya saja.
Pernah mendengarkan kisah cinta yang
tak tertandingi? Jika kita mendekat kepadaNya,
Ia membalasnya dengan berlari mendekat kita. Dalam pengejaraNya sungguh membawa
tak terhingga cinta kasih. Allah sesuai prasangka hambaNya. Aku
tenggelam dalam perenungan diri. Melagukan angan-angan yang tak kunjung penuh.
Menyimak alunan alam yang perlahan lengang, makin rembulan meninggalkan makin
temaram yang aku rasa. Memang benar, sesal datang di
akhir waktu.
Kemana diri, akan kamu bawa kemana amalmu? Sebagai panggung untuk dipertontonkan manusia atau memang murni hanya untuk menghamba padaNya?
Gagap dan payah dalam wujud
pemurnian seorang hamba. Tak selamanya beramal murni untuk kembali padaNya,
untukNya. Masih ada ruang untuk ingin dipuji, masih ada ruang untuk ingin
dilirik oleh dunia.
Bibir ini begitu cepat melafalkan
ayat-ayatNya, kemudian kembali menyelesaikan tugas dunia. Lantas, jika tak
menemui hasil yang diinginkan, cepat-cepat mengadu keadilanNya, seakan kembali
menuhankan pada ikhtiar.
Kembali, renungkan kembali. Ibadahmu sejatinya tidak untuk beralas pada apa yang diinginkan
olehmu saja. Sholat rajin agar mendapatkan sekolah atau
pekerjaan bagus, mengaji atau menghafal Al-Qur'an agar dipandang sebagai orang
shaleh.
Namun, jika tak memohon apapun
kepadaNya, bukankah kita bakal di cap seorang hamba yang sombong? Benar memang
benar, dengan memohon hanya kepadaNya, kita telah mengakui kebenaran akan
keberadaanNya sebagai Dzat yang Maha Pemberi. Allah juga menyukai hambaNya yang
meminta/berdo'a kepadaNya.
Terus berdo'a mengharap
KebaikanNya namun jangan lupakan pelajaran ikhlas di setiap ibadah kita. Ikhlas
hanya untuk mendapat ridhoNya. Itulah wujud ibadah yang paripurna.
Kamu tidak sendiri, aku pun masih belajar untuk ikhlas.
Jika memang berat untuk
menyertakan ikhlas di setiap ibadah kita, paling tidak kita masih mengingat
bahwa Allah membukakan pintu Taubat untuk setiap hambaNya. Sadar,
bahwa diri seorang hamba tak pernah sempurna juga.
Janganlah terus menyalahi diri yang
lalai dalam niat beribadah---masih ingin diketahui oleh orang banyak, masih
ingin disanjung sebagai orang hebat. Tidak apa-apa, manusia kebanyakan bukankah
seperti itu? Tetapi, bukankah lebih baik menjadi manusia yang hanya fokus dalam
perbaikkan diri?
Simpan saja wujud ibadahmu jaaauuh dalam relung hatimu, simpan saja hanya untuk diketahui olehNya.
Hari ini, kebaikan apapun yang kamu buat dan kamu tularkan,
rahasiakan saja pada Tuhan. Jika memang untuk berbagi kebaikan--seperti halnya
menyiarkan kabar donasi, luruskan dulu niatmu, meminta perlindunganNya dari
segala penyakit hati (termasuk riya').
Betapa tenangnya hidup kita
jika hanya fokus pada perbaikkan diri, tak melulu memikirkan persoalan
perlombaan untuk disanjung oleh manusia--yang juga sama seperti kita--yang
punya keterbatasan dalam penilaian.
© Yogyakarta, 17 Mei 2020 (Malam ke- 25 Ramadhan)





