Tak Ingin Padam : Jagalah Agar Tetap Bersinar!
Setiap orang tentu memiliki pemikiran yang berbeda. Norma atau
aturan sopan santun yang ditanam dalam asuhan keluarga, juga tentu memiliki
perbedaan. Nyatanya tidak semua orang dapat menerima perbedaan itu. Kembali, diri
ini diingatkan melalui ujian yang diberikan olehNya. Berhadapan lagi dengan
seseorang yang pernah singgah membuat luka pada hati ini, memang tidak mudah
dan cukup menguras emosi. Papa selalu
mengingatkan untuk tetap berbuat baik kepada setiap orang dan tetap
mengusahakan untuk memberikan kesan yang baik karena barangkali itulah perjumpaan
terakhir kita. Memang tidak mudah untuk tetap berusaha melaksanakan pesan papa,
karena sesekali respon masing-masing orang akan berbeda dalam menilai sikap
kita.
Di masa pandemi seperti ini membuat kita terpaksa menjalin
komunikasi jarak jauh. Kaget, marah bercampur sedih, kiranya begitulah gambaran
perasaan yang menyerbu serentak dalam diri ini. Merenungi apa yang menjadi kesalahan
dalam berkata. Tersadar, bahwa kesalahanpahaman bisa saja terjadi ketika kita tidak
dapat berinteraksi secara langsung apalagi berinteraksi melalui tulisan yang
tidak bernada dan tidak menampilkan mimik wajah kita. Sebenarnya ada celah keinginan
untuk marah, namun untungnya disadarkan oleh Allah untuk fokus hanya kepada
Allah saja.
Ya, jeda diantara kelana, sudah seharusnya kita berjeda ketika rasa
lelah menghampiri diri kita, rasa lelah yang tidak datang sendiri karena juga mengundang
perasaan lain yang merugikan kita. Bejeda untuk berpikir dua kali sebelum
bertindak sembari memupuk kesabaran, karena meyakini bahwa Allah menyukai
orang-orang yang bersabar. Memilih untuk fokus pada apa yang Allah sukai saja.
Memilih untuk tetap berbuat baik dan mengusahakan untuk menjalankan pesan dari papa.
Alhamdulillah bersyukur, tidak menuruti hawa nafsu ini. Sambil berdo’a agar diberikan jalan keluar
yang terbaik, merasa bersyukur lagi karena pada akhirnya Allah ijinkan untuk
menata ulang hati ini kembali. Hanya kepada Allah saja, kita semua memulangkan
perasaan sedih, kecewa, marah, dan berlindung dari segala penyakit hati.
“Selalu tinggalkan kesan yang baik, barangkali itu pertemuan akhir”
Tidak mudah menjalani pesan diatas. Tersadar bahwa yang saya
perbuat adalah hal yang keliru karena terus mengusahakan memberikan kesan yang
baik, sementara melupakan bahwa masing-masing diri kita memiliki pemikiran yang
berbeda, otomatis respon yang kita terima akan berbeda juga. Tersiksa sendiri
yang dirasakan ketika hanya fokus untuk mendapatkan penilaian baik dari orang
lain. Padahal sudah tahu bahwa tidak semua orang dapat dibuat senang oleh kita.
Ya pesan diatas adalah sebaik-baik usaha manusia, namun bukan menjadi suatu
kegagalan dalam diri yang sedang mengupayakan pesan diatas jika nantinya kita menemukan
kekecewaan yang didapat dari respon orang lain. Lagi, karena sejatinya.. tidak
semua orang dapat dibuat senang oleh kita
Tersadar kembali bahwa setiap diri seseorang memiliki Cahaya, yang
dimana cahaya tersebut merupakan gambaran bagaimana Allah bekerja dalam diri
kita. Teringat kembali apa yang pernah ditulis oleh teman dekat saya, Ukhti Fakhriyah
Elita dalam bukunya ‘Its Okay to Not Be Okay’. Setiap diri kita pernah
menemukan permasalahan hidup. Permasalahan yang hadir mengundang kecamuk perasaan yang sewaktu-waktu dapat menggelapkan
hati kita. Jika kita menuruti hawa nafsu hingga akhirnya membuat kita lalai
dalam berperilaku baik, maka cepat-cepatlah ingat Allah. Gantilah fokus kita
pada Allah. Cari saja apa yang disukai oleh Allah, ketimbang harus beredebat
dengan permasalahan kita. Nyatanya, dalam permasalahan tersebut tidak selamanya
hati kita terselimuti dengan kegelapan, jika kita dapat menyalakan Cahaya-Nya dalam
hati kita. Percaya atau tidak, inilah bentuk kasih sayang Allah, ada manusia
yang bisa menyikapi permasalahan dengan kesabaran dan dapat mengambil hikmahnya
karena pada dirinya tersimpan Cahaya Allah yang selalu ia jaga untuk tetap bersinar,
ketimbang ia membiarkan kekesalan menumpuk menjadi titik hitam yang dapat
menggelapkan hatinya. Cahaya Allah dalam diri ini merupakan sebuah hadiah yang
bisa saja wujudnya berupa pemahaman baru, penjagaan dari perilaku buruk, ataupun perasaan tenang dalam diri.
Mari sejenak kita renungi firman Allah dalam surat Al Muthafiffin
ayat 14
ÙƒَÙ„َّاۖ بَÙ„ۡۜ رَانَ عَÙ„َÙ‰ٰ Ù‚ُÙ„ُوبِÙ‡ِÙ… Ù…َّا
Ùƒَانُواْ ÙŠَÙƒۡسِبُونَ ١٤
14. Sekali-kali tidak
(demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka
Dalam hadist berikut diterangkan makna ayat tersebut
Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda
“Seseorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam
hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta
bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka
ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang
diistilahkan “ar raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Sekali-kali
tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati
mereka’.”
Ibnu Qayyim Al Jauziya rahimahullah mengatakan “Jika dosa semakin
bertambah, maka itu akan menutupi hati pemiliknya”. Ibnu Taimiyah rahimahullah
menyebutkan perkataan Hudzaifah dalam fatwanya, Hudzaifah berkata “Iman membuat
hati nampak putih bersih. Jika seseorang hamba bertambah imannya, hatinya akan
semakin putih”.
Tentu ini menjadi bagian dari tugas diri untuk berlatih sabar
kembali. Kita bisa saja melewati ujian entah dengan cara apa yang kita pilih,
namun jika melupakan untuk mengikutsertakan Iman didalamnya, sudah pasti kita
termasuk orang-orang yang merugi dan menemukan kebuntuan dalam perjalanan kita.
Bersyukur jika kita bisa menyadari bahwa kita tidak dapat melalui ujian dengan
sendirinya, maka sudah seharusnya kita memulangkannya kepada Allah,
menghidupkan kembali Cahaya Allah dalam diri kita.
Ada tulisan menarik yang meneduhkan, Tulisan dibawah ini, saya
kutip dari Kak Thessa Revananda Putri
Ingin lenyap. Begitu kira-kira. Nurani tergelap kita pernah bersuara. Kekhawatiran terbesar kita pernah mengudara. Ketakutan kita pernah tak henti-hentinya bercengkrama. Memanipulasi seluruh batas logika dan rasional diri kita. Menjelajah seluruh ruang sunyi dalam diri kita. Yang jika, kita sampai hati mematuhi dan mengimani seluruh rasa itu. Mungkin, kita akan menjadi manusia yang paling menyesal dan merugi pada akhirnya. Karena telah mengizinkan, seluruh bayang dan ilusi itu, singgah dalam benak. Menjadi sebuah keyakinan meskipun tidak diaminkan. Dan Tuhan, begitu baiknya menyeka seluruh niat itu. Agar tidak sampai terjadi. Karena Ia tahu, masih ada setitik iman dan harapan, yang terbenam dalam benak. Masih ada setitik kebaikan, untuk-Nya dapat mempertimbangkan. Menghendaki segala kemuliaan arah dan jalan. Agar kelak sampai di tujuan. Yang meskipun titik itu berukuran sangat kecil, dan begitu kasat pandang.
Sumber Inspirasi :
It’s Okay to Not Be Okay (baca di KBM App: fakhriyahelita)
Rumaysho.com : Maksiat Menggelapkan Hati
Ilustrasi foto oleh Ozgur Ozkan dari Pexels

