Untukmu, Seorang Pembelajar
by
Filan
- January 25, 2019
Dingin terasa
sampai hati, membuat beku yang tersisa. Lisan yang tak pernah berhenti
menyuarakan pada prasangka yang lupa akan dosa. Dunia semakin membawanya larut,
larut dalam kata “biasa”. Menyelam penuh dengan raga yang menyombong,
mengeruhkan air yang mulanya jernih.
Aku kembali
berteman pada pena dalam sebuah catatan dunia yang kembali mengundangku untuk
lamat berfikir kembali.
Bukanlah
seorang pemilik apalagi seorang penguasa, tidak terlepas dari pengharapan agar
orang mengganggapnya ia sehat dan ia benar. Terkadang perihal dunia membuat
kita ingin dibela, sehingga mengajukan banding untuk disuarakan ke hakim yang
masih belum sempurna dalam keadilannya.
Terkadang
perihal dunia membuat kita ingin disanjung, agar dikenal kita lah pemenangnya,
kita lah yang benar, kita lah yang patut dihormati. Perihal dunia yang semakin
tak karuan, mengacau berputar pada pikiran, berprasangka yang kembali mengulat,
merontokkan cantiknya daun yang kembali tumbuh.
Bersaudara dikatanya, namun terletak samar untuk membedakan. Bersaudara namun memakan daging saudaranya sendiri, sampai yang membusuk pun dihiraukan dan tetap untuk dirasa.
Aku mulai bergumam kecil, ketika melihat penampakan
dunia yang semakin menyeramkan. Siapa yang benar akan menyuarakan dirinya
dengan lantang dan penuh pembelaan, mencari tahu kesalahan dari yang lemah dan
yang hanya terlihat olehnya saja.
Apa semua ini karena kita mulai sudah tak percaya?
Atau mungkinkah diri yang semakin melangit, lupa bahwa ada kedudukan diatas
langit? Diri yang terlahir memang tak sempurna seperti yang diinginkan orang,
bahkan lupa pada tujuan di perjalanannya.
Ketika laut merah mengombak pasang, menaik lalu
meluluh lantakkan sebuah kepercayaan sehingga hanya berfokus pada kesalahan
lawan bicaranya, aku mulai menyadari. Diri yang tak selamanya baik dalam
berlisan, payah dalam pengakuan maaf, bahkan terombang-ambing pada lautan lisan
manusia.
Apalah sebuah arti hidup, jika kita tak mau
berbenah sehingga membiarkan perangai buruk merasuk di tubuh kita. Aku ingin
belajar untuk memaafkan keadaan, untuk memaafkan orang-orang yang selama ini
tak mengerti apa yang aku rasakan.
Biarkanlah orang tersebut berpendapat tentang diri
kita seperti apa, toh diapun tak selamanya akan membiarkan kita menjadi topik
pembicaraannya terus menerus, toh kitapun masih punya Allah yang Maha Adil.
Berkaca pada dunia, semakin membuatku belajar, bahkan rasanya ingin saja untuk
berpulang dengan damai.
Ah belum waktunya untuk berpulang. Waktu bagaikan
sebuah rahasia, tak perlu kita menunggu dan meminta, akan tiba datangnya nanti
untuk berpisah dengan dunia. Maka diri, janganlah kamu larut pada kata “biasa”
yang dikata orang, (membicarakan kesalahan orang adalah hal yang biasa, marah
dengan orang dalam waktu satu dua tiga atau pun menyudahkan hubungan
silaturahmi adalah hal yang biasa). Karena yang “biasa” akan membahayakan
dirimu.
Jika orang lain menganggapmu aneh karena ada yang
“tak biasa” dari dirimu, maka boleh jadi kamulah yang teristimewa, karena mau
menghindari semua kebiasaan buruk penghuni dunia ini. Maafkan teman, jika diri
lebih memilih untuk tidak mau mendengar kesalahan orang, karena pada dasarnya
diri takut akan larut dalam pembicaraan yang tak seharusnya dibicarakan.
Aku pun masih bingung untuk menanggapi semua
cerita ghibah yang
mengalir di dunia, masing-masing dari kita memiliki kekurangan, jika memang
kekurangan tidak ingin diketahui orang maka janganlah mengumbar kekurangan
orang lain. Ah pena ini hal yang memberatkan untuk dituliskan, karena akupun
masih belajar untuk tidak berprasangka buruk pada orang lain. Semakin akhir
tulisan ini, semakin jelas apa yang dimaksud pena untuk diri kita—lebih
tepatnya diriku.
Sajak pembelajar untuk diriku dan dirimu, bahwa
tak ada yang sempurna pada diri setiap pribumi dunia, jika tidak ingin
“disuarakan” maka janganlah “menyuarakan”, prasangka yang tidak-tidak jika
dibiarkan menjadi sebuah cerita yang akan membekas pada lautan dosa, jika
cerita tersebut lahir menjadi sebuah kebiasaan, maka akan sulit untuk merangkai
kata maaf dan diri tidak akan selamanya bisa berbenah menjadi seorang
pembelajar----yang ada hanyalah perlahan kita memupuk buah dosa.
Adalah hal yang sia-sia jika menuruti keinginan
orang dan mencari kesalahan orang, maka bersikaplah menjadi seorang pembelajar
yang dapat mencari hikmah, yang dapat memaafkan. Sejatinya kita berbeda, maka
hargailah sebuah perbedaan itu.
Pelajaran dari Jum’at Berkah
©Yogyakarta, 18 Januari 2019




