Makna Al Fatihah : Iman yang Perlahan Menumbuhkan Cinta (2)

by - January 01, 2019


Kerumunan orang disana mengantarkan aku pada sebuah dimensi yang jauh dan berbeda. Dimana aku tenggelam pekat dalam tarian bahasa, yang membuat aku terdiam. Perubahan yang terjadi seiring membuat melodi yang senada, semakin aku memikirkannya semakin aku merasa bersalah pada diri. 

Menyesuaikan apa yang dikata orang dan meredam semua keterbatasanku, menuntut agar semua orang senang denganku, namun aku lupa banyak sifat orang yang tak bisa aku terjemahkan satu persatu, maka aku bukanlah seorang yang sempurna untuk bisa membuatmu bahagia, begitupun jika kamu ingin membahagiakan orang lain. 

Namun aku percaya, kebahagiaan itu akan ada apabila aku dan kamu saling mengerti dan memahami, kebahgiaan yang tercipta karena ada rasa ikhlas didalamnya. Jika perilaku dariku membuatmu tidak senang, maka carilah rasa ikhlas yang bisa kamu terima dalam diriku, karena sebenarnya aku masih mempertahankan tali pertemanan ini, maka aku izinkan kecewamu sesaat datang namun aku harap cepat berpulang. 

Jika perilaku orang membuatmu tidak senang, maka carilah rasa ikhlas yang bisa kamu terima dalam dirinya, karena sebenarnya kita tidak pernah tahu apa alasan--tepatnya orang tersebut memperlakukanmu demikian. 

Aku percaya, semoga menjadi percayamu juga, setiap orang memiliki pilihannya masing-masing dalam berbuat, dalam berucap, banyak alasan yang tidak sepenuhnya kita ketahui yang memang sulit untuk mengandai alasannya dengan pikiran yang jernih, tugas kita sederhana namun terasa berat jika tidak mau perlahan mempraktikkannya, berbuat baik itu saja

Pertemuan ini tidak akan selamanya abadi, masing-masing dari kita sudah mempunyai batas waktu untuk hidup, hidup bukanlah sebatas persoalan you only live once, yang membuat kamu benar-benar mengejar kebahagiaan hidup di dunia karena takut dikata “ketinggalan zaman”, namun maknai istilah itu dengan ”ya memang hidup hanyalah sekali, maka dirasa sia-sia jika kita tidak mau belajar untuk berbuat baik dan menjadikan diri kita sebagai orang yang bermanfaat”.  La haula wala quwwata illa billah.


Pada bagian pertama dalam judul tulisan “Iman perlahan menumbuhkan cinta”, penulis telah menyampaikan beberapa makna dari potongan ayat surah Al Fatihah dari ceramah Ustadz Nouman, walaupun dirasa belum sepenuhnya benar dan runtut dalam penyampaiannya karena penulis terus belajar, semoga dengan tulisan kemarin, pembaca bisa memahami bahwa ada dua poin penting yang harus dimaknai oleh benar dalam hati. 

Pertama,  Iman, percaya bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang Maha Esa, kedua kita hanyalah seorang budak—hanyalah hamba Allah yang sudah seharusnya menjalankan perintah tuannya (Rabb).

Bagai benang kuat yang tersusun rapi sehingga menjadi kain yang indah, seperti itulah analogi yang dapat mewakili gambaran dari Al Fatihah, sebagai benang yang akan menguatkan ayat-ayat berikutnya, menguntai menjadi satu kesatuan dalam kitab Al-Qur’an. Al Fatihah menjadi surat pembuka bagi para pembaca Al-Qur’an, bagi orang yang pertama kali mengenal Islam, bagi orang yang sedang belajar mendirikan sholat, karena didalamya tersimpan rahasia pelajaran tauhid. 

Bukankah jika kita ingin menjalin hubungan sosial dengan seseorang, maka sudah menjadi otomatis kita akan mencari tahu identitas sesorang tersebut lebih dulu, bukan? Itulah mengapa, seorang muslim yang selamanya tidak terlepas hubungannya dengan Allah, sudah seharusnya mengetahui Allah lebih dulu, maka melalui Al Fatihah yang diletakkan sebagai surah pembuka dalam Al-Qur’an, Allah sebenarnya telah mengenalkan sifat-sifat istimewa Nya kepada kita.

Rabbil ‘alamin merupakan pelajaran tauhid pertama yang Allah sampaikan untuk mengenalkan diriNya kepada hamba-hambaNya. Kata Rabb memiliki lima arti yang istimewa.

1. Al Malik yang artinya pemilik, Allah mengenalkan diriNya sebagai Tuhan yang Maha Memiliki. Segala sesuatunya yang kita punya dan sudah ada di dunia beserta kebendaharaan di langit tidak lain hanyalah milik Allah semata. Maka sesungguhnya jika kita mengira seseroang ataupun sesuatu itu milik kita, percayalah tidak ada satupun hak kita untuk memilikinya selamanya, karena dengan izin Allah akan kembali semuanya kepada Allah.

2. Wa Mun’im yang artinya Allah Maha Pemberi hadiah. Bahwa sesungguhnya yang kamu anggap milikmu adalah hadiah yang Allah berikan untukmu. Jika didalam hati kita memaknai, apa yang melekat dan tergenggam pada diri kita, maka tidak lain semuanya adalah pemberian dari Allah.

3. Sayid, yang artinya Allah mempunyai kewenangan yang penuh. Melalui izinnya, segala sesuatu dapat berjalan. Allah mempunyai kuasa atas segala sesuatu.

4. Wal Qoyim artinya Allah memastikan segala sesuatunya tetap bersama, tidak bercerai berai. Seperti halnya untaian sel yang membentuk jaringan lalu tersusun menjadi sebuah organ, maka dengan izinNya segala sesuatu akan saling bergantung dalam menyelesaikan tugas.

Dari kelima arti tersebut terkandung dalam satu kata Rabb, Allah menujukkan sifatnya yang Maha memiliki segala sesuatu, tidak hanya sebatas memiliki namun juga memupuk PenciptaanNya dengan kasih sayang melalui sifatNya yang Maha Pemberi Hadiah, tidak cukup dengan memberi kasih sayang, Allah Maha Kuasa mempunyai kuasa penuh atas apa yang dimilikiNya, dan memastikan segala sesuatu yang ada di bumi dan pembendaharaanNya di langit dapat berjalan dengan baik. MasyaAllah Allahuakbar..

Selanjutnya adalah ‘alamiin, kita terbiasa dengan terjemahan lengkapnya rabbil ‘alamiin adalah Tuhan seluruh alam. Allah memberi tahu kepada hambaNya lewat surat pembuka ini, bahwa tidak ada yang dapat merubah kedudukanNya sebagai Tuhan, sepanjang waktu berjalan dari peradaban satu ke peradaban lain, tidak terikat oleh adanya perbedaan waktu, budaya, dan bahasa. 

Allah adalah Tuhan yang tetap berdiri satu diatas berjalannya perbedaan waktu, tempat, ataupun karakteristik-karakteristik yang tumbuh menjadi gaya hidup mausia. Hal ini menujukkan tidak ada yang dapat merubah kedudukanNya sebagai Tuhan yang Maha Esa, walaupun kita berbeda zaman, kita berbeda budaya, berbeda waktu tempat tinggal, tidak ada yang dapat merubah kedudukaNya sebagai Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan di Indonesia adalah sama dengan Tuhan yang ada di Amerika atau dilain tempat, tetaplah satu, kedudukan Tuhan itu dipegang oleh Allah subhanallahu wa ta’ala.

Ar Rahman dan Ar Rahim, sebenarnya makna dari kedua sifat ini telah penulis singgung di bagian pertama. Namun disini, penulis ingin mencoba untuk menjelaskan kembali yang disampaikan oleh Ustadz Nouman secara rinci dan sederhana. 

Didahului dengan mengenalkan Ar Rahman, sebagai sifat Allah yang Maha Pengasih, terdapat tiga sifat yang tersirat yang penulis catat dari ceramah Ustadz Nouman yaitu ekstrim, sesuatu yang terajadi langsung, dan tidak selamanya. Pertama adalah ekstrim, Ar Rahman dan Ar Rahim merupakan penggambaran sifat Allah yang penuh cinta dan kasih sayang kepada hambaNya, yang membedakan Ar Rahman menujukkan bahwa bentuk cinta Allah yang ekstrim atau melebihi ekspektasi yang dikira oleh setiap hambaNya.

Pernah tidak kita berfikir, orang-orang diluar sana atau bahkan bisa jadi ini yang terjadi pada diri kita, selama ini kita malas-malasan untuk beribadah malahan menjauh dari kata takwa kepadaNya, atau orang-orang yang tidak seiman dengan kita, permisalan tersebut bisa dijadikan sebagai bahan renungan untuk kita, kenapa ya selama ini hidup orang-orang (yang termasuk kedalam permisalan diatas) masih saja diberikan kenikmatan hidup? 

Maksudnya disini kenikmatan hidup bisa didapat dari sudut pandang yang bermacam-macam, bisa jadi kenikamatan hidup adalah jabatan kerja yang tinggi atau hidup enak punya rumah dan mobil, atau bahkan kenikmatan hidup bisa dimaksudkan dengan berkumpul bahagia bersama keluaraga. Ya kenapa ya orang-orang yang sudah jelas jauh ingkar dari perintahNya masih saja diberi kenikmatan hidup? 

Inilah yang disebutkan Ar Rahman, yaitu bentuk cintaNya yang ekstrim, see.. jauh dari apa yang kita ekspektasikan bukan? Karena setiap kita pasti pernah punya anggapan orang-orang (yang masuk dalam permisalan diatas) akan mendapat sesuai apa yang diperbuat. Ya benar, tetetapi tidak untuk sekarang atau sementara waktu. 

Bentuk cinta Allah yang dikemas dalam Ar Rahman ini  memang ekstrim, siapa pun bisa mendapatkan cintaNya, kasih sayangNya, Allah memberi kepada setiap makhluk ciptaanNya tidak terkecuali, namun yang perlu diketahui apakah cinta yang Allah berikan ini akan abadi akan selamanya? Sifat kedua yang tersimpan dari Ar Rahman ini adalah sesuatu yang terjadi secara langsung, cintaNya dapat kita rasakan secara langsung, tidak perlu menunggu waktu yang lama, cintaNya kepada kita dapat kita nikmati langsung didunia ini. 

Namun jika secara langsung apakah berarti akan selamanya kita mendapatkan/merasakan sifat Ar Rahman-Nya Allah? Ketahuilah, bahwa sifat Ar Rahman ini hanyalah bersifat sementara tidak selamanya Allah akan memberi belas kasih dan memberikan cintaNya kepada kita semua * (dengan tanda bintang diatas).

Maka adakah bentuk cinta Allah yang abadi? Jawabannya..tentu ada. Allah tidak hanya mengikutsertakan sifatNya Ar Rahman saja namun juga Ar Rahim. Ar Rahim menggambarkan cinta Allah yang mengandung dua makna yaitu permanen dan tidak harus sekarang. 

Ketika seseorang mencoba untuk memanfaatkan bentuk cintaNya Allah (Ar Rahman), Allah telah menyeimbangkan bentuk cintaNya (dengan mengikutsertakan Ar Rahim setelah Ar Rahman), di satu sisi terdapat cinta Allah yang selalu ada untukmu secara ekstrim dan langsung dapat kamu rasakan, namun di sisi lain jangan pernah kita memanfaatkan bentuk cintaNya Ar Rahman dengan melakukan sesuatu yang dibenci olehNya karena bentuk cinta Ar Rahman hanyalah bersifat sementara. 

Cinta tersebut bisa jadi hilang setelah kita meninggalkan dunia, namun cinta Ar Rahim akan selalu kekal dan selalu ada (tidak langsung dapat dirasakan) bagi setiap hambaNya yang mau sabar memupuk kebaikan demi kebaikan semasa hidupnya dan tentunya taat menghamba kepadaNya. 

*Untuk itu Allah memberi peringatan di ayat selanjutnya ”Maliki yaumiddin” Tuhan yang Menguasai Hari Pembalasan, hanyalah kepadaNya semua amal perbuatan kita semasa hidup akan dimintai pertanggung jawaban. Allah akan memberikan cintaNya yang kekal (Ar Rahim) bagi setiap hambaNya yang tidak menyia-nyiakan bentuk cinta Ar RahmanNya semasa hidupnya. La haula wala quwwata illa billah.

Ketika kita sudah mengenal kepada siapa kita selamanya bergantung yaitu dengan mengetahui sifat-sifat Allah yang telah tergambarkan pada awal surat Al Fatihah, sudah seharusnya pada setiap diri kita mengakui untuk menghamba kepadaNya. Maka dari itu ayat selanjutnya, adalah menceritakan kedudukan kita di dunia yaitu Iyya kana’budu

Penghambaaan yang tergambarkan disini terwujud dari hati yang ikhlas bahwa dari lisan kita sendirilah yang mengakuinya, maka Tuan pemilik kamu dan aku, tidak akan memaksakan kita untuk menjadi hambaNya. 

Allah tidak menggunakan kata perintah pada ayat ini, bukan u’budullah! (jadilah budak Allah) melainkan iyya kana’ budu (hanya dan sungguh hanya kepada Allah kami menyembah) kata ini dipilih sebagai gambaran pernjanjian kamu dan aku kepada Sang Pencipta, Allah, bahwa apa yang dikeluarkan dari lisan kita yang jatuh pada ayat ini adalah merupakan bentuk pengakuan dan keiklasan kita menjadi seorang hamba (budak) dari Tuan Pemilik Alam semesta ini, Allah subhanallahu wa ta’ala

“Ya Allah aku sungguh menghamba kepadaMu, aku sendiri yang mengakui sebagai hambaMu”

Sangat disayangkan dan sedih yang dirasakan, apabila perjanjian ini dikeluarkan dari lisan yang tak memahami dengan benar maksud perkataan “iyya kana’budu”, dengan mengetahui bahwa kitalah hambaNya, maka sudah seharusnya kita siap menerima dan menjalankan apapun itu perintah dari Tuan kita. MasyaAllah.

Diantara seorang budak dan tuan, sudah pasti ada kata yang tersematkan diantara keduanya, yaitu tugas. Hubungan budak dan tuan terjalin karena ada tugas untuk kita yang tak lain adalah perintah dari tuan kita. 

Maka sudah seharusnya seorang budak meminta arahan dari tuan, apa yang seharusnya diperbuat. Ayat selanjutnya yaitu wa iyya ka nas’tain (dan hanya kepada Engkau, kami meminta pertolongan). Dalam bahasa Arab terdapat berbagai macam kata yang memiliki arti “bantuan” namun Allah memilih kata nasta’in, karena memang kata yang berartikan “bantuan” ini adalah spesial dipilih untuk hambaNya. Allah gunakan nasta’in dari kata isti’ana yang merujuk pada bantuan yang spesifik. 


Dengan mengatakan nasta’in yang tersematkan pada potongan ayat kelima Al Fatihah ini (iyya ka nasta’in), kita sedang mengutarakan bahwa 

“Ya Allah.. aku sudah berusaha dan tetap akan berusaha, Engkau yang Maha Melihat, sungguh Engkau pasti telah Melihatku lebih dulu sebelum aku mengadu padaMu, aku memohon kepadaMu, aku membutuhkan bantuanMu, maka izinkanlah aku termasuk bagian dari hambaMu yang diberikan pertolongan olehMu” 

MasyaAllah, bantuan ini akan kita dapatkan jika kita sudah berusaha lebih dulu, ternyata itulah prinsip bantuan dari Allah

Ketika kita mau merenungi bahwa banyak sekali kisah-kisah yang dapat mewakili bentuk keberadan prinsip pertolongan dari Allah, ketika Nabi Ibrahim a.s di hukum untuk masuk ke dalam bara api, tidak serta merta pertolongan Allah datang dan langsung mematikan apinya, melainkan Nabi Ibrahim a.s berserah diri kepada Allah dan tetap menjalankan hukuman itu, ketika melihat Nabi Ibrahim a.s telah berusaha (masuk ke dalam api) maka disitulah pertolongan Allah datang, Allah menjadikan api itu dingin sehingga tidak melukai badan Nabi Ibhrahim a.s. 

Begitu juga jika kita mau mengambil ibrah dari Perang Badar ataupun peperangan di zaman Rasulullah, tentara Badar telah berusaha lebih dulu untuk memerangi musuh-musuh Allah, barulah datang pasukan malaikat (sebagai bentuk pertolongan Allah) untuk membantu menyelesaikan peperangan Badar. MasyaAllah.. 

Dari Al Fatihah telah mengajarkan kepada kita untuk berusaha mengeluarkan kemampuan kita lebih dulu, dan yakin bahwa pertolongan Allah itu pasti ada untuk kita jika kita mau berusaha lebih dulu serta tetap terus mengikutsertakan Allah didalam usaha kita. 

Allah tidak ingin kita pasrah begitu saja, dan tenggelam dalam angan-angan yang berselimutkan kemalasan, hamba Allah adalah hamba yang senantiasa berusaha untuk mencapai sesuatu yang diinginkannya tanpa tak lupa juga mengikutsertakan Allah dalam usahanya.

Apa yang dibutuhkan oleh seorang budak untuk menjalankan tugas menghamba kepada Tuannya? Sudah pasti kita membutuhkan bimbingan, arahan, petunjuk dari Allah. Ihdina (tunjukilah, bimbinglah kami), bentuk hadiah yang terbaik dan tentunya berharga yang Allah berikan kepada setiap hambaNya, sebuah petunjuk yang tak lain adalah kunci kita untuk menjalani hidup. 

Melalui petunjuk, kita akan sampai dengan selamat kepada tujuan kita. Sirathal mustaqim yaitu jalan yang lurus. 

Bentuk dari permintaan petunjuk ini telah merangkap tiga arti, tujukilah kami KE jalan yang lurus, bimbinglah kami untuk dapat MELALUI setiap jalur, HINGGA sampai pada jalan yang lurus. 

Jika kita meminta arahan ini (ihdina sirathal mustaqiim) kita telah meminta ketiganya untuk diberikan jalur yang tepat menuju jalan yang lurus, agar selalu ditemani oleh Allah di setiap perjalanan kita melaui setiap jalur untu menuju jalan yang lurus, dan meminta agar ditetapkan langkah kita pada jalan yang diinginkan olehNya (karena dalam perjalanan ini tentunya akan membuat kita bosan, lengah, lupa atau bahkan memutuskan untuk berbalik arah). 

MasyaAllah semakin mendalami ayat dalah surat Al Fatihah ini, membuat kita semakin dispesialkan oleh Allah sebagai hambaNya, karena ternyata dari beberapa kalimat yang Allah pilihkan dalam surat ini begitupun pastinya pada setiap kata didalam surat lain, telah kita pelajari banyak sekali makna yang tersirat didalamnya, maka sudah seharusnya kita mencari tahu makna-makna tersebut. Allahuakbar..

Sirath memiliki arti bukan sekedar jalan yang lurus, melainkan jalan yang lebar, berbahaya dan jauh. Lalu disandingkan dengan kata Al Mustaqiim, berasal dari kata istiqoma yang berarti berdiri tegak, berdiri lurus keatas. Tujuan kita bukan ke kanan, ke kiri, ataupun kedepan, melainkan melangit penuh dengan ketauhidan kita pada Allah (ke atas). Jika dapat digambarkan jalan yang dimaksud disini adalah jalan yang lurus, lebar, jauh, berbahaya, dan tegak lurus keatas. 

Semakin meningkat perjalanan kita, semakin membuat kita meninggalkan kecintaan kita pada dunia. Namun semakin tinggi puncak yang kita panjat, semakin lebih berbahaya dan terasa sakit bukan jika kita terjatuh? Maka disinilah kita membutuhkan petunjuk Allah secara terus menerus agar selalu dinaungi oleh perlindunganNya, dan tentunya memohon agar tetap berada pada jalurNya (istiqomah).

Lalu apa yang kita peroleh, dan apa yang akan meningkat pada diri kita? Seperti halnya sebuah mercusuar yang dapat mengetahui keberadaan lautan lepas, atau bahkan seperti puncak perbukitan kamu dapat melihat penjuru kota yang kamu diami, begitu juga semakin meningkat jalur yang kamu tempuh akan semakin meningkat penglihatanmu untuk melihat yang sesungguhnya, yang mungkin tidak bisa dilihat orang lain, penglihatan yang membawa pada pengetahuan baru untukmu. 

Bukan pembukaan mata batin (bisa melihat segala sesuatu yang gaib) melainkan penglihatan yang terhubung oleh qolbu, ketika kamu semakin giat mendekat kepada Nya, maka banyak sekali kebaikan yang Allah berikan kepadamu, salah satunya penglihatan ini, penglihatan hikmah yang bisa aku sebut, MasyaAllah, semakin merinding dan dibuat takjub oleh ayat-ayat Allah. 


Terkadang orang lain tak bisa melihat apa yang terjadi dibalik setiap kejadian yang telah dilaluinya, namun dengan penglihatan hikmah ini kamu bisa saja melihatnya dengan sisi yang berbeda sehingga mengantarkan qolbumu untuk tetap terus berprasangka baik kepadaNya, ya Allah..


Itulah yang akan kita dapatkan jika kita mau sabar berproses menuju melangit kepadanya, semakin tinggi semakin jelas kita akan menangkap keseluruhan keadaan disekitar kita.

Ketika kita membutuhkan petunjuk sudah seharusnya kita mempelajari dari pengalaman-pengalaman orang sebelumnya. Bisa jadi pengalaman-pengalaman orang yang telah melalui tugas dari Tuan (Rabb) merupakan pengalaman yang sukses sebagai contoh yang baik untuk kita teladani atau bahkan sebaliknya, pengalaman kegagalan sebagai contoh yang harus kita hindari agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Sudah pasti kita akan membutuhkan kedua contoh tersebut untuk kita ambil sebagai teladan dan pelajaran. 

Tidak serta merta Allah memerintahkan kita untuk senantiasa meminta petujuk namun Allah juga menyeimbangkan dengan pemberian beberapa kisah dalam Al-Qur’an yang terangkum menjadi tiga karakter contoh dalam surat Al Fatihah ini yaitu diantaranya An ‘amta, Al Maghdub alaihim, dan Ad Dholin sehingga dari ketiga contoh tersebut kita dapat meneladani dan mengambil pelajaran untuk menjalani tugas Allah.

An’amta merupakan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah. Banyak sekali tokoh-tokoh sebelum kita yang terkisahkan dalam Al-Qur’an yang berpegang teguh untuk senantiasa taat kepada Allah, salah satunya yang teristimewa adalah Nabi dan Rasul Allah, dalam kisah tersebut juga diikutsertakan keterangan sebagai akan menemukan jaminan atau balasan dari apa yang telah diperbuat oleh orang-orang sebelum kita. 

Sebagai contoh yang buruk yang harus kita hindari adalah golongan orang yang termasuk dalam Al Maghdub alaihim (mereka yang dimurkai) dan Ad Dholin (mereka yang sesat). Al Maghdubi alaihim merupakan gambaran sikap beberapa orang Yahudi tertentu yang memiliki ilmu, pengetahuan soal agama Islam dengan baik karena kecerdasan dan kelebihan yang Allah berikan namun pengetahuannya tidak membuat ia mengambil keputusan yang benar untuk taat kepada Allah. Sementara Ad Dholin merupakan gambaran sikap dari seseorang yang tidak berilmu dan tidak berusaha mencari keberadaan ilmu yang benar sehingga membuatnya tidak taat kepada Allah. 


Maka sudah seharusnya sebagai seorang muslim kita meneladani sikap-sikap yang baik yang telah terkisahkan dalam Al-Qur’an untuk kita, giat untuk menutut ilmu-ilmuNya, mendengar dan menerima dengan hati yang ikhlas setiap ilmu Islam yang kita peroleh, lalu mengaplikasikannya dengan perbuatan, tentunya melandasi perbuatan kita dengan ilmu-ilmu (syari’at) yang dibenarkan dalam Islam.

MasyaAllah inilah akhir dari penjelasan Al Fatihah yang belum sepenuhnya sempurna penulis tulis, karena sebenarnya banyak sekali pelajaran-pelajaran yang kita dapat pelajari dari satu surat pmbuka ini. 

Untuk itu, penulis merekomendasikan pembaca untuk ikut serta merasakan apa yang penulis rasakan (takjub, haru, merinding, perasaan campur aduk lainnya) melalui video ceramah dari Ustadz Nouman Ali Khan (klik saja), semoga Allah senantiasa memberikan kita petunjuk, perlindungan kepada kita semua. Aamiin ya rabbal alamiin

You May Also Like

1 $type={blogger}

  1. Terimakasih telah membacanya sampai selesai, silahkan memberi masukan kepada penulis di kolom komentar..

    ReplyDelete


Terimakasih sudah membaca, mohon beri komentar yang bijak dan sesuai dengan topik yang dibahas