Catatan Anak Rantau
(Cover Novel "Anak Rantau" karya Ahmad Fuadi)
Langit
mulai memerah, senja yang dinanti akan menyapa kembali kota yang dikenal penuh
budaya ini. Aku masih menanti kalimat seseorang yang teramat aku cintai di
dunia ini, aku bersikeras tidak akan mengambil langkah jauh apabila kata ikhlas
belum sampai terdengar di telingaku. Tidak seperti biasanya, seroang aku, anak
perempuan yang dikenal keluarganya sebagai anak yang paling manja, memilih
untuk merantau.
Predikat "manja" yang rasanya membuat aku bosan dan ingin melepaskannya, tetapi sebenarnya bukan itu yang menjadi alasan kuatku untuk memutusakan keluar dari kota ini.
Masih teringat betul, walapun aku berani mengatakan untuk berjuang mencapai impian dan rasanya akan mati-matian untuk mencapainya, tetapi jika tidak ada satupun, atau hanya sepihak dari orang tuaku mengizinkan, aku akan tetap menahan langkahku.
Bagiku restu orangtua adalah yang utama dalam menentukan jalan hidupku, semua akan aku berhentikan jika memang tidak ada restu dari Mama Papa, meskipun itu yang menjadi keinginan terkuatku saat itu yaitu keinginanku untuk kuliah di Jakarta.
Tidak seperti Papa, Mama mengulur waktu untuk memberi keputusan, hari dimana menjadi hari terakhir pendaftaran SBMPTN, dalam hitungan beberapa jam lagi pendaftaran ujian masuk perguruan tinggi negeri akan ditutup. Saat itu aku belum mendapat restu dari Mama untuk memilih salah satu nama universitas di Jakarta yang sekarang menjadi tempat belajarku.
Aku sudah merencanakan hal yang buruk, jika kalau memang tak ada izin, aku akan tetap berusaha untuk masuk PTN di ranah ini, dan tekadku bulat tidak ingin membebani Mama Papa untuk menguliahkan aku di PTS, kalaupun di tahun 2015 aku tidak mendapatkan PTN, aku sudah ikhlas akan mengulang di tahun berikutnya, walaupun harus bersabar menunggu dua tahun lamanya untuk merasakan bangku kuliah.
Predikat "manja" yang rasanya membuat aku bosan dan ingin melepaskannya, tetapi sebenarnya bukan itu yang menjadi alasan kuatku untuk memutusakan keluar dari kota ini.
Masih teringat betul, walapun aku berani mengatakan untuk berjuang mencapai impian dan rasanya akan mati-matian untuk mencapainya, tetapi jika tidak ada satupun, atau hanya sepihak dari orang tuaku mengizinkan, aku akan tetap menahan langkahku.
Bagiku restu orangtua adalah yang utama dalam menentukan jalan hidupku, semua akan aku berhentikan jika memang tidak ada restu dari Mama Papa, meskipun itu yang menjadi keinginan terkuatku saat itu yaitu keinginanku untuk kuliah di Jakarta.
Tidak seperti Papa, Mama mengulur waktu untuk memberi keputusan, hari dimana menjadi hari terakhir pendaftaran SBMPTN, dalam hitungan beberapa jam lagi pendaftaran ujian masuk perguruan tinggi negeri akan ditutup. Saat itu aku belum mendapat restu dari Mama untuk memilih salah satu nama universitas di Jakarta yang sekarang menjadi tempat belajarku.
Aku sudah merencanakan hal yang buruk, jika kalau memang tak ada izin, aku akan tetap berusaha untuk masuk PTN di ranah ini, dan tekadku bulat tidak ingin membebani Mama Papa untuk menguliahkan aku di PTS, kalaupun di tahun 2015 aku tidak mendapatkan PTN, aku sudah ikhlas akan mengulang di tahun berikutnya, walaupun harus bersabar menunggu dua tahun lamanya untuk merasakan bangku kuliah.
Tidak mudah bagiku untuk memaksa dan membujuk, apalagi kepada Mama, untuk mengiyakan perkataanku saat itu, maka aku biarkan waktu solat untuk membersamainya lebih dulu (ketika itu Mama sedang pakai mukena, lupa persisnya untuk solat Asar atau Dzuhur). Jika kalau memang tak ada izin dari Mama, aku akan merubah pilihanku untuk tetap kuliah di Jogja.
Berawal dari rasa penat sebenarnya, itulah yang menjadi alasan kuat kenapa aku memilih untuk keluar dari kota yang dikenal sebagai kota pelajar ini, kota penuh dengan nama-nama universitas yang keren, kota yang menjadi favorit--sasaran bidikan orang dari luar kota untuk melanjutkan pendidikannya.
Entahlah perasaannya sulit untuk dituliskan disini, karena memang sangat abstrak yang aku rasakan waktu itu, tetapi mungkin saat itu (bisa dikatakan) adalah perasaan di titik terendahku, aku merasakan rasa syukur yang semakin tenggelam hampir aku sulit merasakan, Astaghfirullah.. Penat yang terasa hingga akhirnya-- berujung pada penyesalan yang sebenarnya, ketika rasanya bersalah menjadi seorang anak yang memilih untuk rantau—jauh dari orang tua. Dalam hati berkata, harusnya aku menetap disana, harusnya aku bisa menghabiskan waktu banyak untuk bisa berbakti kepada Mama Papa. La haula walaa quwwata, hanyalah kepadaNya segala sesuatu bisa terjadi.
Sebenarnya
tidak ada yang salah jika kamu memilih untuk merantau, hanya saja keliru jika
alasan yang menguatkanmu untuk merantau adalah alasan yang datang dari ego
sendiri (ingin kebebasan, tanpa aturan orang tua, ingin suasana baru), karena alasan
tersebut tidak akan menguat dalam jangka waktu yang lama, malahan kamu akan
merasakan rasa yang sangat bersalah di hari-hari pertama memijakkan kaki di
tanah rantau, percayalah karena itu yang aku rasakan.
Kamu akan bersusah payah membangun semangatmu kembali, dan membangun rasa percaya diri di tanah rantau, jika kamu tidak mempunyai pijakan dasar yang kuat dan benar sebagai alasanmu untuk merantau.
Maka aku sarankan, merantaulah, karena memang merantau membuat kamu banyak belajar, kamu memang bisa mandiri dalam segala hal, namun aku sarankan hal itu bagi kamu--seorang perantau yang mempunyai alasan perantauan yang tepat bukan sekedar menuruti ego untuk mendapat kebebasan, namun merantaulah dengan beralasan ibadah (membantu orang tua, menutut ilmu di jalan Allah, ingin belajar untuk menjadi pribadi yang baik).
Bersemangatlah! Tidak ada yang perlu disesali, karena pada dasarnya setiap masalah yang membuat kamu kecewa adalah pelajaran terindah untukmu, untuk menjadi pribadi yang lebih kuat.
Kamu akan bersusah payah membangun semangatmu kembali, dan membangun rasa percaya diri di tanah rantau, jika kamu tidak mempunyai pijakan dasar yang kuat dan benar sebagai alasanmu untuk merantau.
Maka aku sarankan, merantaulah, karena memang merantau membuat kamu banyak belajar, kamu memang bisa mandiri dalam segala hal, namun aku sarankan hal itu bagi kamu--seorang perantau yang mempunyai alasan perantauan yang tepat bukan sekedar menuruti ego untuk mendapat kebebasan, namun merantaulah dengan beralasan ibadah (membantu orang tua, menutut ilmu di jalan Allah, ingin belajar untuk menjadi pribadi yang baik).
Bersemangatlah! Tidak ada yang perlu disesali, karena pada dasarnya setiap masalah yang membuat kamu kecewa adalah pelajaran terindah untukmu, untuk menjadi pribadi yang lebih kuat.
Berteman
dengan buku, pena, laptop, hape, merekalah yang menemani setiap malamku ketika
masa satu tahun tidak sekolah—tidak terhubung komunikasi yang baik dengan
teman-teman SMA. Impian
untuk kuliah di kedokteran pupus. Mencoba untuk mendaftar di sekolah kedinasan
berbau statistik juga pupus.
Tetapi jika aku mengingat-ingat kembali, tujuan-tujuan kuliah yang sempat menjadi impianku, ternyata tersimpan rahasia sebuah benang yang menghubungkan kondisiku saat ini dengan masa lalu dan impian yang tidak tercapai, membuat aku geleng-geleng kepala dan berkata “eh ini kan yang aku impikan dulu”.
Tetapi jika aku mengingat-ingat kembali, tujuan-tujuan kuliah yang sempat menjadi impianku, ternyata tersimpan rahasia sebuah benang yang menghubungkan kondisiku saat ini dengan masa lalu dan impian yang tidak tercapai, membuat aku geleng-geleng kepala dan berkata “eh ini kan yang aku impikan dulu”.
Walaupun tidak persis atau sepenuhnya merasakan impian itu terwujud dengan sempurna, tetapi aku merasakan cuplikan impian satu, cuplikan impian dua, cuplikan impian tiga, itu bergabung di satu tempat yang aku rasakan saat ini. MasyaAllah.
Tidak
bisa merasakan menjadi anak kedokteran, tetapi Qodarullah, Allah menempatkan
aku untuk belajar di Kesehatan Masyarakat, sederhananya kalau dokter tugasnya
mengobati, ternyata Allah lebih suka jika aku bertugas untuk mencegah seseorang
untuk sakit, yang sama-sama mempunyai nilai manfaat untuk umat.
Karena dari Kesehatan Masyarakat, banyak sekali ilmu yang didapat, seperti merancang program kesehatan, promosi kesehatan, manajemen pelayanan kesehatan, bagaimana membuat keputusan dan kebijakan kesehatan, dan masih banyak lagi.
Lucunya ketika pernah ditanya abang gojek “kampusnya dimana neng?” lalu aku jawab “fakultas kedokteran..” belum lengkap aku sebut nama fakultasku (waktu dulu sebelum berubah nama jadi fakultas ilmu kesehatan saja), abang gojeknya langsung menyimpulkan “eh eneng dokter ya” masyaAllah..
walaupun bukan, tetapi paling tidak, pernah merasakan dikira dokter oleh orang lain dan termasuk mejadi bagian dari fakultas yang ada embel-embel “kedokteran”nya, bagiku ini membuat aku bahagia dan bertambah syukur.
Kalau ditanya “kuliah dimana?” di awal-awal, masih menjadi MABA (mahasiswa baru), seringnya—lebih tepatnya sukanya si, jawab dengan kasih tahu nama fakultasnya saja tanpa menjelaskan nama program studi, iseng sekali---biar jadi teka-teki, biar sajalah orang yang menyimpulkan sendiri, hehe. Indah ya rencana Allah.
Karena dari Kesehatan Masyarakat, banyak sekali ilmu yang didapat, seperti merancang program kesehatan, promosi kesehatan, manajemen pelayanan kesehatan, bagaimana membuat keputusan dan kebijakan kesehatan, dan masih banyak lagi.
Lucunya ketika pernah ditanya abang gojek “kampusnya dimana neng?” lalu aku jawab “fakultas kedokteran..” belum lengkap aku sebut nama fakultasku (waktu dulu sebelum berubah nama jadi fakultas ilmu kesehatan saja), abang gojeknya langsung menyimpulkan “eh eneng dokter ya” masyaAllah..
walaupun bukan, tetapi paling tidak, pernah merasakan dikira dokter oleh orang lain dan termasuk mejadi bagian dari fakultas yang ada embel-embel “kedokteran”nya, bagiku ini membuat aku bahagia dan bertambah syukur.
Kalau ditanya “kuliah dimana?” di awal-awal, masih menjadi MABA (mahasiswa baru), seringnya—lebih tepatnya sukanya si, jawab dengan kasih tahu nama fakultasnya saja tanpa menjelaskan nama program studi, iseng sekali---biar jadi teka-teki, biar sajalah orang yang menyimpulkan sendiri, hehe. Indah ya rencana Allah.
Satu
benang terungkap dan membuat syukur kembali terucap, mengungkap rahasia-rahasia
benang berikutnya. Dulu pernah sempat mendaftar Kesehatan Masyarakat UI di
SNMPTN, tahun pertama lulus SMA, memang dulunya ada rencana keluarga untuk
pindah ke Jakarta, jadi aku memutuskan untuk melanjutkan kuliah di Jakarta.
Tidak bisa dipungkiri, keinginan awalku selesai lulus SMA adalah melanjutkan kuliah di Kesehatan Masyarakat, tertambat hati ini sampai mencari tahu apa yang akan dipelajari di jurusan tersebut.
Jadi, sebenarnnya aku mengakui, bukanlah kuliah di kedokteran yang menjadi keinginan pertamaku, MasyaAllah.. Allah Maha Mengetahui ya atas setiap keinginan hambaNya. Keinginan pertamaku yang seharusnya aku bisa konsisten untuk terus perjuangkan, pada akhirnya--- sekarang Allah mengabulkan keinginanku untuk kuliah di Kesehatan Masyarakat.
MasyaAllah Lahaula walaa quwwata illa billah. Walaupun tidak sepenuhnya terwujud lengkap dengan nama universitas yang aku inginkan waktu itu, yaitu UI, tetapi Qodarullah---Allah menempatkan aku untuk kuliah di UIN yang notabene dosen-dosenku kebanyakan merupakan alumnus UI, jadi berasa belajar di UI, karena dosen-dosenpun juga orang UI. Alhamdulillah
Tidak bisa dipungkiri, keinginan awalku selesai lulus SMA adalah melanjutkan kuliah di Kesehatan Masyarakat, tertambat hati ini sampai mencari tahu apa yang akan dipelajari di jurusan tersebut.
Jadi, sebenarnnya aku mengakui, bukanlah kuliah di kedokteran yang menjadi keinginan pertamaku, MasyaAllah.. Allah Maha Mengetahui ya atas setiap keinginan hambaNya. Keinginan pertamaku yang seharusnya aku bisa konsisten untuk terus perjuangkan, pada akhirnya--- sekarang Allah mengabulkan keinginanku untuk kuliah di Kesehatan Masyarakat.
MasyaAllah Lahaula walaa quwwata illa billah. Walaupun tidak sepenuhnya terwujud lengkap dengan nama universitas yang aku inginkan waktu itu, yaitu UI, tetapi Qodarullah---Allah menempatkan aku untuk kuliah di UIN yang notabene dosen-dosenku kebanyakan merupakan alumnus UI, jadi berasa belajar di UI, karena dosen-dosenpun juga orang UI. Alhamdulillah
Benang
lain, kamu tahu tidak, rasanya ketika banyak sekali penolakan yang membuat kamu menjadi
semakin khawatir, dan mencoba berbagai cara untuk berlari melewatinya tanpa
kamu lihat kompas dan meninggalkan begitu saja tujuan kamu? Yang penting terus
lari, dalam hati berharap menemukan jalan keluarnya, tanpa berhenti dan
berfikir apa yang sebenarnya menjadi tujuanku.
Itu yang pernah aku alami, aku mencoba untuk mendaftar segala macam nama jurusan yang ada di perkuliahan, sampai-sampai nama jurusan yang aneh dan tidak pernah terbanyangkan sekalipun untuk memilihnya, akhirnya aku beranikan diri untuk mendaftar.
Bagai orang yang mengalir begitu saja tanpa arah dan tujuan yang jelas di karenakan sudah tertumpuk rasa kekecawaan dan diburu waktu (baca : rentang jadwal pendaftaran ujian masuk), berharap atas keberuntungan untuk dirinya, aku mencoba menuliskan berbagai pilihan nama jurusan yang bukan termasuk dalam keinginanku.
Salah satunya Geografi, masih inget aku menuliskan Ilmu Lingkungan dan (lupa tepatnya nama jurusannya)---jurusan yang ada embel-embel Kartografi, jujur-- aku sempat tertarik dan penasaran walaupun bukan sepenuhnya atas dasar keinginan. Qodarullah, walaupun tidak tersampaikan untuk kuliah di Fakultas Geografi tepatnya Ilmu Lingkungan atau kartografi (apalah itu nama jurusannya), tetapi di Kesehatan Masyarakat ini ada matakuliah yang berbau geografi juga, yaitu Sistem Informasi Geografis, mempelajari bagaimana cara buat peta morbiditas atau masalah kesehatan lainnya sebagai bahan informasi yang nantinya bisa jadi bahan untuk mengambil keputusan kesehan. MasyaAllah kesampaian ini mah. Alhamdulillah.
Itu yang pernah aku alami, aku mencoba untuk mendaftar segala macam nama jurusan yang ada di perkuliahan, sampai-sampai nama jurusan yang aneh dan tidak pernah terbanyangkan sekalipun untuk memilihnya, akhirnya aku beranikan diri untuk mendaftar.
Bagai orang yang mengalir begitu saja tanpa arah dan tujuan yang jelas di karenakan sudah tertumpuk rasa kekecawaan dan diburu waktu (baca : rentang jadwal pendaftaran ujian masuk), berharap atas keberuntungan untuk dirinya, aku mencoba menuliskan berbagai pilihan nama jurusan yang bukan termasuk dalam keinginanku.
Salah satunya Geografi, masih inget aku menuliskan Ilmu Lingkungan dan (lupa tepatnya nama jurusannya)---jurusan yang ada embel-embel Kartografi, jujur-- aku sempat tertarik dan penasaran walaupun bukan sepenuhnya atas dasar keinginan. Qodarullah, walaupun tidak tersampaikan untuk kuliah di Fakultas Geografi tepatnya Ilmu Lingkungan atau kartografi (apalah itu nama jurusannya), tetapi di Kesehatan Masyarakat ini ada matakuliah yang berbau geografi juga, yaitu Sistem Informasi Geografis, mempelajari bagaimana cara buat peta morbiditas atau masalah kesehatan lainnya sebagai bahan informasi yang nantinya bisa jadi bahan untuk mengambil keputusan kesehan. MasyaAllah kesampaian ini mah. Alhamdulillah.
Percayalah
benang yang tak bisa aku urai satu-satu karena Allah sebenarnya menyimpan begitu banyak
hikmah atas setiap kejadian yang terjadi pada hambaNya.
Aku juga pernah mencoba untuk mendaftarkan diri di sekolah kedinasan STIS (Sekolah Tinggi Ilmu Statistik), dengan beralasan---karena memang kalau soal angka aku suka ngutak-utik dan penuh penasaran walaupun tidak sempurna menemukan jawaban yang tepat hehe (tetapi punya rasa asyik tersendiri kalau sudah bertemu dengan angka) dan ditambah aku orangnya juga tidak terlalu suka menghafal.
Lagi-lagi, kalau kita mau ikhlas menerimanya, dan berusaha mencari tahu hikmahnya, akan terasa indah bahkan kamu bisa merasakan apa yang aku rasa dan berkata “eh ini kan yang aku impikan dulu”. Qodarullah bukan STIS yang menjadi tempat tujuan belajarku, Allah menggantikannya dengan ditempatkannya aku di peminatan Biostatistika dan Informatika Kesehatan, sama-sama statistika, sama-sama berteman dengan angka. Indah ya rencana Allah bakalan geleng-geleng kepala bahagia deh, kalau kita mau ikhlas menerimanya.
Aku juga pernah mencoba untuk mendaftarkan diri di sekolah kedinasan STIS (Sekolah Tinggi Ilmu Statistik), dengan beralasan---karena memang kalau soal angka aku suka ngutak-utik dan penuh penasaran walaupun tidak sempurna menemukan jawaban yang tepat hehe (tetapi punya rasa asyik tersendiri kalau sudah bertemu dengan angka) dan ditambah aku orangnya juga tidak terlalu suka menghafal.
Lagi-lagi, kalau kita mau ikhlas menerimanya, dan berusaha mencari tahu hikmahnya, akan terasa indah bahkan kamu bisa merasakan apa yang aku rasa dan berkata “eh ini kan yang aku impikan dulu”. Qodarullah bukan STIS yang menjadi tempat tujuan belajarku, Allah menggantikannya dengan ditempatkannya aku di peminatan Biostatistika dan Informatika Kesehatan, sama-sama statistika, sama-sama berteman dengan angka. Indah ya rencana Allah bakalan geleng-geleng kepala bahagia deh, kalau kita mau ikhlas menerimanya.
Sebenarnya
tulisan ini, ingin aku jadikan sebagai pengingat untukku, masing-masing dari
kita tidak pernah tau apakah ingatan ini akan selalu terjaga, karena segala
sesuatunya adalah pemberian Allah, Allah berhak mengambil semua yang kita punya
kapanpun itu, tidak terkecuali sebuah ingatan. Jika dirasa ini tak banyak
manfaat untuk dibaca, maka jangan melanjutkan untuk dibaca, tetapi sayangnya
penulis mengingatkan ini di akhir hehe Sabar pembaca, tetap lanjutin saja untuk
membaca, karena nanggung tinggal dikit lagi…😀
Tahun
2019 adalah masa terakhir studi jenjang S1-ku, sudah banyak pengalaman orang yang
mengatakan begitu berat melalui skripsi.
Aku ingin mengatakan pada driku sendiri, jika lelah yang kamu rasakan dan rasanya ingin berhenti untuk menyelesaikan tugas ini, baca kembali tulisan dengan judul “catatan anak rantau” ini, diri--kamu sudah banyak melalui perjuangan untuk sampai di bangku kuliah, seharusnya kamu bisa bersyukur diri atas segala tugas kuliah yang rasanya memberatkan kamu...
Allah selalu ada untukmu, buktinya saat penolakan yang terus kamu dapatkan di tahun 2014, Allah tetap berada di dekatmu---Allah ingin mendekatkan kamu pada tujuan yang baik untukmu, jadi.. janganlah berputus asa ya, jadi.. jangan melulu berprasangka buruk ya atas keadaan. Inget ada Allah 😊
Aku ingin mengatakan pada driku sendiri, jika lelah yang kamu rasakan dan rasanya ingin berhenti untuk menyelesaikan tugas ini, baca kembali tulisan dengan judul “catatan anak rantau” ini, diri--kamu sudah banyak melalui perjuangan untuk sampai di bangku kuliah, seharusnya kamu bisa bersyukur diri atas segala tugas kuliah yang rasanya memberatkan kamu...
Allah selalu ada untukmu, buktinya saat penolakan yang terus kamu dapatkan di tahun 2014, Allah tetap berada di dekatmu---Allah ingin mendekatkan kamu pada tujuan yang baik untukmu, jadi.. janganlah berputus asa ya, jadi.. jangan melulu berprasangka buruk ya atas keadaan. Inget ada Allah 😊
Bagi
para pembaca, pengingat ini juga untuk mengingatkanmu. Kamu, seorang mahasiswa
yang sedang menyusun tugas akhir ataupun seorang pekerja yang dituntut oleh
tugas kantor, mungkin ada rasa ingin untuk menyudahkan saja. Cobalah untuk
berhenti sesaat dan beri ruang untuk dirimu (kalau bisa tuliskan apa yang sudah
kamu perjuangkan sehingga dapat mencapai posisimu sekarang ini).
Masing-masing dari kita punya cerita yang berbeda, tetapi muara kita haruslah sama, apa yang sudah dijalani oleh kita dunia ini, tidak lain adalah karena kebaikan yang Allah berikan untuk kita . Maka jangan lelah untuk berjuang, karena selalu ada Allah untukmu.
Masing-masing dari kita punya cerita yang berbeda, tetapi muara kita haruslah sama, apa yang sudah dijalani oleh kita dunia ini, tidak lain adalah karena kebaikan yang Allah berikan untuk kita . Maka jangan lelah untuk berjuang, karena selalu ada Allah untukmu.


0 $type={blogger}
Terimakasih sudah membaca, mohon beri komentar yang bijak dan sesuai dengan topik yang dibahas