Kembali, di Yogyakarta
Namamu terpanggil dalam lamunanku yang mendalam,
seakan denting jam berhasil memekakan telingaku dari balik kelambu. Jari ini
semakin sulit untuk mengetik huruf, lalu tak lama bibir ini semakin sulit untuk
mengeja kata. Pagiku bersama asa yang ku bawa, melangkah jauh sampai pada
ratusan kilometer dari kota asalku. Rasanya tetap sama, seperti latar yang aku
kenal dulu, ya..kanak - kanak di taman sulfat, penuh gairah semangat dihiasi
oleh langit penuh harap.
Enam belas tahun sudah, namanya terpanggil
kembali untuk menyuarakan mimpi yang dulunya belum tersampaikan. Kanak-kanak
ini tumbuh menjadi remaja lalu dewasa. Alih-alih meneruskan mimpi menjadi
pemain piano hebat, ia lebih memilih untuk menjadi penari bahasa.
Sungguh bagi dia menyesuaikan harapan dan kenyataan tidaklah mudah, mungkin
saat ini seperbagian hidupnya hadir dalam kehidupanku.
Aku
teringat pada kehidupan masa kecilku dulu, ingatan yang seharusnya bisa
perlahan ku tinggalkan. Karena jika terlalu memikirkannya, aku semakin
tenggelam dalam arus keinginaku untuk kembali pada kehidupanku dulu. Tidak
mudah memang melupakan hal yang membahagiakan hati kita, ah tunggu.. sebenarnya
aku takut jika aku kembali pada hati yang penuh dengan kekesalan. Aku sedang
melangkahkan kakiku untuk maju, ini baru permulaan, hal yang konyol jika aku
mengurungkan niatku untuk melanjutkan cerita, dan konyol lagi jika aku ingin
memutar ulang waktu untuk kembali.
Dari dia, aku belajar untuk tetap kuat. Apapun
rintangan yang telah ditakdirkan bertemu kita, aku akan belajar dari dia, untuk
menikmatinya. Dari dia, aku belajar untuk mengucap syukur. Bahwa kenyataannya
adalah hal yang wajar, jika tak tersampai sesuai rentang target yang dibuat oleh
kita.
Aku bisa
menentukan pilihanku sekarang, memilih apa yang akan terjadi hari ini dan
kedepannya. Aku berlalu dalam ingatan masa kecilku, bahagia yang terasa, sesaat
aku tersadar ini hanyalah sebuah memori yang terus menghampiri alam bawah
sadarku yang membuat aku berlama dan melupakan kuasa Ilahi. Karena semua
perjalanan ini sudah menjadi rencanaNya.
Dan aku kembali, untuk melanjutkan cerita di
ranahku sekarang ini..
Kisah Kasih
Kasih, salam rindu ini semakin naik mengudara
Bagai angin bersahutan
Kau buat aku mendekat
Kasih, raga ini tak ingin menjauh
Meninggalkan tokoh yang telah kau buatkan
untukku
Kau berhasil membuat kenangan indah dari cerita
lalu
Kasih, langkah kaki ini selalu ingin ditemani
Namun apa daya, ketika Ilahi telah menyuarakan
takdir
Seakan mninggalkanku sendiri yang payah dalam
mengimani
Kasih, sajak ini kembali tertulis
Ketika rangkaian cerita tentangmu tak ku temui
kembali
Lalu, ku pilih saja untuk berdamai dengan sendiri
Kasiih, telah kau pertemukan aku dengan handai
Melempar satu, diua buah candaan, yang berhasil
membuatku tertawa geli
Kau membuatku kembali mengenang, masa remaja
berbalut seragam biru putih
Kasih, kehangatan tokohmu datang kembali
menyambutku
Usil kau hadirkan kenangan cinta remaja
berbalut seragam putih abu-abu
Kau buat aku belajar untuk tidak sembarang
menaruh hati, agar nantinya tak berakhir semu
Kasih, salam rindu ini kembali terucap
Entah kemana lagi, langkah kaki ku akan bekelana
Namun harap ku masih sama, agar tetap bisa
meyapamu, kembali pulang
Ada yang merindu dalam diam. Tidak ada yang dapat mengira
bahkan seorang tokoh utama dalam sebuah cerita, kemana waktu akan berlalu sampai
mengantarkan ia pada sebuah ranah. Ramai yang terlihat, dan hangat yang terasa.
Awalnya ada sebuah penolakan diri, untuk mengikuti jalan cerita Ilahi. Aku
ingin tetap disini, dan tak ingin mengulang salam perpisahan, menjauh dengan teman-teman
lama seperti yang sudah-sudah ku lakukan,dulu waktu di Kota Apel dan berlanjut
lagi pada Kota Harapan. Pikirku,hidup menjadi anak perumahan adalah pilihan
latar terakhir keluargaku. Namun ternyata cerita nomaden keluarga kami masih
berlanjut. Sampai pada akhirnya tangan Kuasa mengantarkan aku pada sebuah kota
penuh budaya satu ini.
Dengan berat hati, aku layangkan salam perpisahan untuk
teman-teman di Kota Harapan. Terasa jarak sudah berani menjadi alasan di
kehidupanku untuk tidak bertemu dengan mereka lagi meninggalkan rasa sesak yang
susah berpisah dengan mereka, hal itu yang aku rasakan juga sewaktu kanak-kanak
di Kota Apel. Inilah sebuah garis takdir yang harus aku lalui, dan bukan tanpa
alasan bahkan sia-sia semua hal ini terjadi. Pastilah, ada hikmah Ilahi yang
tersimpan didalamnya.
Yogyakarta di tahun 2009, tepat dimana aku meninggalkan
bangku sekolah dasar dan melanjut ke sekolah tingkat pertama. Siapa yang
menyangka, cerita di kota ini berlanjut lebih lama dibandingkan dengan kota
kelana keluargaku sebelumnya. Aku sebut ia Kasih, karenanya banyak orang
terkasih dalam kehidupanku yang menjadi alasan ku untuk terus pulang.
Seperti
halnya sebuah roda kehidupan yang berputar, dari Kasih--aku banyak belajar arti
dari sebuah kata "penerimaan". Aku hanya ingin mengatakan lewat
tulisan ini, bahwasannya secepat
apapun waktu berputar dan mengantarkanmu pada sebuah latar yang sebenarnya tak
ingin kau singgahi bahkan untuk menetap lebih lama...
Percayalah setiap detik dan menit kehidupan yang akan kamu lalui, ada hikmah Ilahi yang tersimpan didalamnya, percayalah jalan kehidupanmu kini adalah pilihan yang terbaik untukmu, karena sebenarnya apa yang tidak disenangi oleh kita bisa jadi itulah yang terbaik untuk kita ,dan sebaliknya. Semoga kita tetap selalu mengenggam erat Iman pada Nya. Aamiin ya rabbal alamiin
©Yogyakarta, 24 Juni 2020
*menjadi pelajaran, untuk menyimpannya dengan baik, postingannya sebelumnya di tahun 2019 terhapus :(
*menjadi pelajaran, untuk menyimpannya dengan baik, postingannya sebelumnya di tahun 2019 terhapus :(


0 $type={blogger}
Terimakasih sudah membaca, mohon beri komentar yang bijak dan sesuai dengan topik yang dibahas