Kembali, di Yogyakarta

by - January 23, 2019


Namamu terpanggil dalam lamunanku yang mendalam, seakan denting jam berhasil memekakan telingaku dari balik kelambu. Jari ini semakin sulit untuk mengetik huruf, lalu tak lama bibir ini semakin sulit untuk mengeja kata. Pagiku bersama asa yang ku bawa, melangkah jauh sampai pada ratusan kilometer dari kota asalku. Rasanya tetap sama, seperti latar yang aku kenal dulu, ya..kanak - kanak di taman sulfat, penuh gairah semangat dihiasi oleh langit penuh harap.

Enam belas tahun sudah, namanya terpanggil kembali untuk menyuarakan mimpi yang dulunya belum tersampaikan. Kanak-kanak ini tumbuh menjadi remaja lalu dewasa. Alih-alih meneruskan mimpi menjadi pemain piano hebat, ia lebih memilih untuk menjadi penari bahasa. Sungguh bagi dia menyesuaikan harapan dan kenyataan tidaklah mudah, mungkin saat ini seperbagian hidupnya hadir dalam kehidupanku.

Aku teringat pada kehidupan masa kecilku dulu, ingatan yang seharusnya bisa perlahan ku tinggalkan. Karena jika terlalu memikirkannya, aku semakin tenggelam dalam arus keinginaku untuk kembali pada kehidupanku dulu. Tidak mudah memang melupakan hal yang membahagiakan hati kita, ah tunggu.. sebenarnya aku takut jika aku kembali pada hati yang penuh dengan kekesalan. Aku sedang melangkahkan kakiku untuk maju, ini baru permulaan, hal yang konyol jika aku mengurungkan niatku untuk melanjutkan cerita, dan konyol lagi jika aku ingin memutar ulang waktu untuk kembali.

Dari dia, aku belajar untuk tetap kuat. Apapun rintangan yang telah ditakdirkan bertemu kita, aku akan belajar dari dia, untuk menikmatinya. Dari dia, aku belajar untuk mengucap syukur. Bahwa kenyataannya adalah hal yang wajar, jika tak tersampai sesuai rentang target yang dibuat oleh kita.

Aku bisa menentukan pilihanku sekarang, memilih apa yang akan terjadi hari ini dan kedepannya. Aku berlalu dalam ingatan masa kecilku, bahagia yang terasa, sesaat aku tersadar ini hanyalah sebuah memori yang terus menghampiri alam bawah sadarku yang membuat aku berlama dan melupakan kuasa Ilahi. Karena semua perjalanan ini sudah menjadi rencanaNya.

Dan aku kembali, untuk melanjutkan cerita di ranahku sekarang ini..

Kisah Kasih

Kasih, salam rindu ini semakin naik mengudara
Bagai angin bersahutan
Kau buat aku mendekat

Kasih, raga ini tak ingin menjauh
Meninggalkan tokoh yang telah kau buatkan untukku
Kau berhasil membuat kenangan indah dari cerita lalu

Kasih, langkah kaki ini selalu ingin ditemani
Namun apa daya, ketika Ilahi telah menyuarakan takdir
Seakan mninggalkanku sendiri yang payah dalam mengimani

Kasih, sajak ini kembali tertulis
Ketika rangkaian cerita tentangmu tak ku temui kembali
Lalu, ku pilih saja untuk berdamai dengan sendiri

Kasiih, telah kau pertemukan aku dengan handai
Melempar satu, diua buah candaan, yang berhasil membuatku tertawa geli
Kau membuatku kembali mengenang, masa remaja berbalut seragam biru putih

Kasih, kehangatan tokohmu datang kembali menyambutku
Usil kau hadirkan kenangan cinta remaja berbalut seragam putih abu-abu
Kau buat aku belajar untuk tidak sembarang menaruh hati, agar nantinya tak berakhir semu

Kasih, salam rindu ini kembali terucap
Entah  kemana lagi, langkah kaki ku akan bekelana
Namun harap ku masih sama, agar tetap bisa meyapamu, kembali pulang 



Ada yang merindu dalam diam. Tidak ada yang dapat mengira bahkan seorang tokoh utama dalam sebuah cerita, kemana waktu akan berlalu sampai mengantarkan ia pada sebuah ranah. Ramai yang terlihat, dan hangat yang terasa. Awalnya ada sebuah penolakan diri, untuk mengikuti jalan cerita Ilahi. Aku ingin tetap disini, dan tak ingin mengulang salam perpisahan, menjauh dengan teman-teman lama seperti yang sudah-sudah ku lakukan,dulu waktu di Kota Apel dan berlanjut lagi pada Kota Harapan. Pikirku,hidup menjadi anak perumahan adalah pilihan latar terakhir keluargaku. Namun ternyata cerita nomaden keluarga kami masih berlanjut. Sampai pada akhirnya tangan Kuasa mengantarkan aku pada sebuah kota penuh budaya satu ini. 

Dengan berat hati, aku layangkan salam perpisahan untuk teman-teman di Kota Harapan. Terasa jarak sudah berani menjadi alasan di kehidupanku untuk tidak bertemu dengan mereka lagi meninggalkan rasa sesak yang susah berpisah dengan mereka, hal itu yang aku rasakan juga sewaktu kanak-kanak di Kota Apel. Inilah sebuah garis takdir yang harus aku lalui, dan bukan tanpa alasan bahkan sia-sia semua hal ini terjadi. Pastilah, ada hikmah Ilahi yang tersimpan didalamnya.

Yogyakarta di tahun 2009, tepat dimana aku meninggalkan bangku sekolah dasar dan melanjut ke sekolah tingkat pertama. Siapa yang menyangka, cerita di kota ini berlanjut lebih lama dibandingkan dengan kota kelana keluargaku sebelumnya. Aku sebut ia Kasih, karenanya banyak orang terkasih dalam kehidupanku yang menjadi alasan ku untuk terus pulang. 

Seperti halnya sebuah roda kehidupan yang berputar, dari Kasih--aku banyak belajar arti dari sebuah kata "penerimaan". Aku hanya ingin mengatakan lewat tulisan ini, bahwasannya secepat apapun waktu berputar dan mengantarkanmu pada sebuah latar yang sebenarnya tak ingin kau singgahi bahkan untuk menetap lebih lama...

Percayalah setiap detik dan menit kehidupan yang akan kamu lalui, ada hikmah Ilahi yang tersimpan didalamnya, percayalah jalan kehidupanmu kini adalah pilihan yang terbaik untukmu, karena sebenarnya apa yang tidak disenangi oleh kita bisa jadi itulah yang terbaik untuk kita ,dan sebaliknya. Semoga kita tetap selalu mengenggam erat Iman pada Nya. Aamiin ya rabbal alamiin




©Yogyakarta, 24 Juni 2020

*menjadi pelajaran, untuk menyimpannya dengan baik, postingannya sebelumnya di tahun 2019 terhapus :(

You May Also Like

0 $type={blogger}


Terimakasih sudah membaca, mohon beri komentar yang bijak dan sesuai dengan topik yang dibahas