Beranjak Dewasa
Melangkah sendiri memang tidak mudah, apalagi bayang-bayang rasa
takut sering menemani di setiap perjalanan hidup. Oh ini rasanya beranjak
dewasa, tak seperti harap yang dulu pernah terbayang. Tak seperti halnya burung
dengan kedua sayapnya dapat bebas berkeliaran, berpindah satu tempat ke tempat
lain, menemui kawanan burung lainnya, dan menetap pada tempat yang ingin
disinggahi. Kaki ini sungguh payah menentukan tempat persinggahan, menyamarkan
semua rasa takut untuk tetap berdiri kuat. Ah lagi-lagi di persimpangan jalan
yang mempertanyakan sebuah keputusan. Memilih untuk tetap berada disini atau
berpulang pada kenyamanan atau bahkan mencari tempat baru.
Hari-hari berlalu semakin terasa lama bila tak diyakini hati akan
bisa melaluinya. Menemukan kedamaian pada kampung halaman menjadi ragu untuk
dirasakan kembali. Karenanya ada yang menaruh harapan pada pundak yang nyatanya
tak begitu kuat. Nyatanya begitu membutuhkan sandaran juga. Harap demi harap,
kian terasa jelas tersampaikan. Bahwa diri bukanlah seorang kanak-kanak yang
riang bermain di taman sulfat dulu. Bahwa diri bukanlah anak ragil yang selalu
melekat dekat dengan orang tuanya. Menyadari bahwa kehidupan ini akan membawa
diri pada babak baru. Iya babak baru, yang penuh ketidakpastian.
Menghela nafas, menarik diri pada jangkar kesadaran. Hari ini
belum berakhir. Bukankah Tuhan masih baik memberi kehidupan? Bukankah Tuhan
tidak pernah meninggalkan kita sendiri? Sering saja lupa akan
kuasa Nya menjadi dalih mengapa kita
sering menghindar dari tantangan kehidupan. Padahal sudah sungguh baik petunjuk
yang diberikan Tuhan, namun seringkali lalai menjadi teman kita.
Berlari mungkin menjadi pilihan banyak orang untuk mencapai tujuan
pada tepat waktunya, namun adakalanya berjalan menjadi pilihan yang tepat untuk
menikmati setiap keindahan perjalanan yang mungkin tidak terlihat ketika kita
melaju cepat. Berbicara mungkin menjadi pilihan banyak orang untuk
memperdengarkan jelas suaranya kepada orang lain, namun adakalanya menulis
menjadi pilihan yang tepat untuk mengutarakan hati kepada orang lain.
Pilihan-pilihan hidup yang sebenarnya memiliki dua sisi hitam dan putih.
Tidak ada satupun orang yang tahu tentang hari esok. Dan bukan tugas kita untuk
menentukan pilihan hidup, karenanya ada Dzat yang Maha Menentukan Takdir. Namun
bukan maksud untuk berdiam diri tanpa melakukan sebuah perjalanan. Tetaplah
melaju, merencanakan suatu hal yang baik di hari esok, dan taruhlah harap pada
Tuhan Yang Maha Esa saja. Kecewa adalah hal yang wajar untuk dirasakan ketika
kita menemui hal yang tidak sesuai keinginan kita, tidak apa-apa. karena kita
seorang manusia yang memiliki keterbatasan ilmu dibanding Tuhan yang maha
Berilmu, bukankah setiap kejadian yang Tuhan berikan tersimpan hikmah yang baik
untuk kita?
© Jakarta, 3 Maret 2022
Sumber Foto : https://bgr.com/science/dandelion-seeds-wind-physics/
