Dibuat Haru oleh SkenarioNya
by
Filan
- August 24, 2019
Alhamdulillah, telah melewati beberapa sidang yang pada akhirnya berakhir
dengan tangisan haru. Ada rasa takut melangkah awalnya, untuk mendaftarkan diri
ke sidang skripsi, karena apa? Lagi-lagi masalah kurang percaya diri yang
terkadang muncul tiba-tiba, sebenarnya masih percaya gak percaya telah melalui
hampir episode akhir di kehidupan mahasiswa strata-1 ini.
Sempat
bercerita di blog ini, tentang ketakutan yang dibuat olehku sendiri, ya..
seperti waktu pertama kali mau terjun mengambil data di rumah sakit, masya
Allah.. Aku ingin berbagi cerita nih, semoga cerita ini bisa menjadi
penyemangat buat kalian, untuk terus berprasangka baik pada Allah.
Jadi nih
awalnya, waktu di bulan Januari aku dihadapi oleh kedilemaan yang luar biasa.
Jujur, ada rasa sedih ketika balik pulang ke Jogja buat acara pernikahan mba,
sedihnya…karena bakal ditinggal sendirian di Jakarta. Kedua sedihnya karena…
sebelum hari keberangkatan ke Jogja, aku dipanggil buat menghadap ke bagian
penelitian di RS Pasar Rebo.
Penelitian
aku awalnya terkait data penyakit di rumah sakit, eh tidak tahunya bukan kabar
bahagia ku dapat (kirain udah rampung masalah perizinan) malah
dapat rasa sedih yang masya Allah.. (kalau diingat-ingat itu jadi lebih tambah
bersyukur sekarang ini) karena aku disuruh ngurus surat perizinan ke Dinas
Kesehatan Jakarta dan itu kurang lebih memakan waktu yang cukup lama, dan itu
sebagai persyaratan untuk mendapat data rekam medis.
Waktu
aku mepet banget buat ngurusi segalanya itu karena sorenya jadwal keberangkatan
aku ke Jogja, dan aku ke Jogja gak bentar, lumayan lama..dua minggu, dan itu
udah buat aku down karena udah kerasa hawa-hawa bakal mundur
buat sidang proposal apalagi lulus tepat waktu di semester 8 itu
kayak ndak masuk akal.
Aku
terima aja, mau gimana lagi, aku pulang ke rumah ibu di Jaktim buat nemuin mba
nata, dan masih inget naik gojek ke arah stasiun Tanjung Barat terus kehujanan,
ya Allah bener-bener suasana menjelang sore itu mendukung banget buat nangis,
Qadarullah, ini bersyukur banget serasa diri diromantisin sama Allah, Allah
ingetin aku buat berdo’a di sepanjang perjalanan ke stasiun Tanjung Barat
Aku
percaya do’a yang dipanjatkan di kala hujan itu insya Allah mustajab.. dan
masih inget aku nangis di kala hujan itu sambil berdo’a.. “Ya Allah hamba pengen bisa lulus tepat waktu bisa wisuda segera, hamba pengen banget bahagiain
papa mama” Itu bener nangis sepanjang perjalanan, untungnya hujan jadi tidak
terlihat kalau nangis. Sampe sekarang kalau inget itu, aku bisa nangis lagi,
tapi nangis karena terharu, ya Allah begitu baiknya Engkau sudah kasih
kemampuan untuk diri hamba melalui sidang sampai diakhir ini sampai akhirnya
bisa merasakan dapat gelar SKM di semester 8, intinya Alhamdulillah lulus dengan
tepat waktu.
Sebelumnya juga merasakan hal yang sama—dapat tantangan buat ke
rumah sakit sendirian, jujur aku takut kalau baru pertama kali ke suatu tempat,
kalau misal udah ditemenin di hari pertamanya, insya Allah berani buat kelanjutannya.
Tapi ini bener-bener dari awal nentuin judul pake data rekam medis, pergi-pergi
ke RS sendirian.
Sempet
ni predikat manjanya keluar, minta ditemenin kakak ke RSCM rumah sakit
yang pertama kali aku pilih buat jadi tempat penelitianku wkwkw sudah dengan
pasti mba nata sulit buat ditaklukan, dia itu tipe mba yang suka ngelatih
adiknya jadi mandiri, otomatislah aku jalan sendiri ke beberapa RS.
Lanjut,
setelah dua minggu ke Jogja, selang berapa hari ada bimbingan skripsi. Diantara
teman-temanku sebimbingan, aku seorang diri yang tidak punya progres sama
sekali. Down? Iya bener down banget, dan aku gak
punya topik bahasan buat bimbingan, gak bawa draft skripsi cuma mau tanya solusi dari masalah keterlambatan perizinan aku buat ambil data RS.
Keputusannya
hmm aku gak nemuin titik nemu, malah yang ada, aku tambah ciut,
karena memang dosen pembimbing nyuruh aku buat kasih lihat data rekam medis
dulu sebelum aku maju ke sidang proposal. Sementara… dari pihak RSnya minta
buat proposal penelitianku udah disetujuin lebih dulu di sidang proposal baru
diijinin buat terima data rekam medis, ini bener-bener gak ada titik temunya
sama sekali kalau tetap menggunakan penelitian ini.
Oh iya,
sekedar pengen kasih tau, itu proposal penelitian aku awalnya sudah sampai bab
4, tinggal diajuin ke sidang proposal, dan itu udah bulan Februari bulan dimana
seharusnya sudah bisa daftar untuk sidang proposal. Disitu aku bener-bener
capek pikiran dan tenaga karena baru pulang juga dari Jogja, tapi masya Allah
lagi-lagi pertolongan Allah semua, dengan cepat Allah kasih ide buat aku ganti
topik penelitian.
Dan
dibuat terharunya lagi, alhamdulillah, aku jarang ngerasain
kesulitan buat nemuin dosen pembimbingku, beliau selalu kasih jadwal bimbingan,
mudah ditemui, dan selalu mengusahakan untuk menepati janji ketemuan, tidak
sama sekali diberi kesulitan buat daftar sidang proposal dan skripsi asal
sering bimbingan.
Fyi, kalau awal-awal masalah keterlambatan
perizinan data di RS, aku ambil sisi positifnya, keputusan bulat
dari beliau yang gak ijinin aku buat daftar sidang proposal karena datanya
belum terlihat itu bukan berarti menunjukkan beliau mempersulit aku,
masyaAllah aku percaya sama niat baik beliau dibalik solusi yang buat aku down itu,
karena waktu aku ganti topik, beliau antusias dukung penelitian
baruku, ya... sebenarnya beliau pengen aku ganti topik penelitian biar
memudahkan aku), masyaAllah..
Sekedar mau berbagi, bagi kalian pembaca yang sedang persiapan skripsi, meminta
dosen pembimbing yang baik itu perlu diikutsertakan dalam do’a kita juga.
Intinya apa-apa harus ikut sertakan Allah.
Aku ganti judul skripsi dengan menggunakan data sekunder, dan lagi-lagi dibuat terharu kalau flash back..inget perjuangan ngumpulin teori di pertengahan bulan Februari-Maret, yang tadinya aku bukan seorang anak yang suka buat plan, tiba-tiba jadi anak ambis yang buat plan. Aku jalan sendirian, gak ada temen-temenku yang sama-sama lagi bimbingan proposal (karena mereka udah dikasih lampu hijau buat daftar sidang proposal di bulan Februari--Maretnya ujian proposal).
Intinya
aku yang harus inisiatif sendiri bimbingan. Februari baru mulai bab 1 lagi,
masyaAllah.. yakin ini skenarioNya yang buat aku terharu..
Sepanjang Februari-Maret aku bisa nyelesaiin proposal sampai bab 4, dan pada akhirnya diijinin maju untuk daftar sidang di bulan Maret (Aprilnya ujian proposal), jadwal sidangku selisih satu bulan sama temen-temen sebimbinganku lainnya.
Sepanjang Februari-Maret aku bisa nyelesaiin proposal sampai bab 4, dan pada akhirnya diijinin maju untuk daftar sidang di bulan Maret (Aprilnya ujian proposal), jadwal sidangku selisih satu bulan sama temen-temen sebimbinganku lainnya.
Aku
sharing disini, buat ingetin kalau pertolongan Allah itu selalu terbuka luas
bagi para hambaNya yang mau berusaha, sungguh kalau bukan karena Allah yang
kasih kekuatan buat hati aku yang lagi dilanda dobel kesedihan (ditinggal kakak sendirian di perantauan plus ditinggal temen-temen sebimbingan sidang
proposal), aku mungkin akan malas-malasan ngerjainnya.
Disaat
rasa dobel kesedihan itu, aku jadi belajar, betapa lemahnya diri ini maka
tersadar bahwa diri tidak bisa melaluinya dengan sendirinya, Aku perlu bantuan
Allah, aku hanyalah hambaNya, dan aku percaya bahwa pertolongan Allah itu
dekat, tinggal kemauan kita saja yang mau menjemputnya atau tidak.
Dan fyi,
topik penelitian aku lumayan tidak mudah cari sumbernya dari jurnal nasional,
dan kebanyakan memang sitasinya dari jurnal luar negeri. Jalannya gak mulus
guys, gak sesederhana yang aku ceritain, aku sempet males, ngeluh iya, Ditambah
hari menjelang sidang aku, dihadapi sama tugas magang, gak semulus yang
dibayangkan. Karena waktu belajar buat menguasai proposal jadi terbagi fokus
sama waktu magang. Masya Allah semua karena Allah, yang telah memudahkan setiap
urusan manusia.
Tanggal
18 April 2019, akhirnya tiba jadwal sidang proposal aku.. tidak semulus yang
aku harapkan. Lagi-lagi Allah uji aku di sidang ini. Sempet gak percaya pada
akhirnya diluluskan dari sidang ini, karena masalah dalam penelitianku bisa
dikatakan lumayan fatal. Ya, terkait perhitungan variabel dependen yang gak
sama waktunya dengan perhitungan variabel independen, yang sempet dosen bilang
kalau kasusnya kayak gini mending data primer aja. Ya Allah langsung lemes
dibilangin kayak gitu, perlu usaha lagi buat merombak latar belakang dan
metodologi kalau pake data primer.
Selesai
sidang dan telah menjawab beberapa pertanyaan, sambil menunggu keputusan lulus
atau tidaknya, aku diluar sudah cemas (lebih tepatnya pasrah kalau ngulang
sidang pun aku sudah ikhlas). Oh iya, ada pelajaran hidup nih yang bisa aku
bagi, dari beberapa kejadian yang pernah aku alami sendiri, aku ngerasa dua
perasaan yaitu ikhlas yang dibersamai dengan penuh harap kepada Allah, insya
Allah itu akan mengantarkan kita pada hasil yang terbaik untuk kita.
Tiba-tiba….
(guys, aku dibuat ge er lagi sama Allah) aku diingetin pada tausyiahnya Ustadz
Adi Hidayat, ada do’a yang bisa dilantunkan ketika diri sudah tidak tahu lagi
apa yang harus diucapkan (intinya sudah kehabisan kata-kata untuk berdo’a).
Do’a yang aku maksud disini adalah ayat ke 10 dari surat Al Kahfi, coba guys
dibaca baik-baik artinya :
إِذۡ أَوَى ٱلۡفِتۡيَةُ إِلَى ٱلۡكَهۡفِ
فَقَالُواْ رَبَّنَآ ءَاتِنَا مِن لَّدُنكَ رَحۡمَةٗ وَهَيِّئۡ لَنَا مِنۡ
أَمۡرِنَا رَشَدٗا ١٠
10.
(Ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu
mereka berdoa: "Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari
sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami
(ini)"
Do’a itu
aku langitkan terus sambil nunggu keputusan kelulusan dari dosen. Alhamdulillah
karena pertolongan Allah, akhirnya aku dinyatakan lulus sidang proposal.
Tidak
mengelak, aku sempet down setelah sidang proposal, sempet
stress juga wkwk. Sebenarnya aku punya kekuatan teori untuk mempertahankan
penelitianku dengan menggunakan data sekunder, tapi lagi-lagi aku harus
berperang dengan diriku sendiri untuk mengalahkan ketakutan. Singkat cerita,
setelah berdiskusi dengan dosen pembimbing, akhirnya aku diijinin tetap
menggunakan penelitianku dengan syarat aku bisa mepertahankannya dengan teori
yang ada didepan para dosen penguji aku nantinya. Alhamdulillah..
Ada
drama kehidupan lagi guys, ujiannya gak berhenti sampai disitu. Selesai sidang
proposal aku dituntut untuk bisa menyelesaikan hasil dan pembahasan dalam waktu
cepat, untuk mengejar jadwal sidang skripsi paling akhir yaitu dibulan Juni,
dan persyaratan pemberkasan paling akhir dikumpulin pada tanggal 29 Mei 2019,
itu berarti aku hanya punya waktu 1 bulan untuk menyelesaikan skripsi jika
berkeinginan lulus tepat di semester 8.
Masya
Allah, jujur selama menyelami dunia perskripsian, aku serasa dikejar oleh waktu
terus, dikit-dikit buka laptop cari referensi juga pernah merasakan tidur pagi.
Ternyata benar ya yang dikata oleh orang-orang, skripsi itu bagaikan bayangan
kita, yang sehari harinya akan menggentayangi kita terus jika tidak
diselesaikan secepatnya.
Muncul
perasaaan bersalah guys sebenarnya, mengerjakan tugas dunia ini telah membuat
aku melewati malam tanpa solat tahajud. Sedih rasanya, apalagi waktu pengerjaan
hasil dan pembahasan di bulan Ramadhan. Belajar dari kesalahan dari pengerjaan
di awal-awal skripsi, makin ke akhir bab aku jadi merenggangkan waktu
kebersamaanku dengan skripsi. Aku membagi waktu pengerjaan dari pagi sampai
dzuhur, setelah dzuhur tidur siang agar malamnya bisa fresh solat tarawih, dan
bangun lagi menyempatkan nyikripsi di sore sampai menjelang maghrib, seusai
solat tarawih aku lanjutkan lagi untuk nyikripsi tapi aku usahakan gak sampai
lewat jam 12 malam.
Alhamdulillahnya
walaupun gak setiap hari di bulan Ramadhan bisa meluangkan waktu untuk solat
tahajud, tetapi aku sudah bersyukur bisa mengisi satu mingguku dengan paling
tidak satu, dua, atau tiga kali solat tahajud.
Ada pembelajaran juga nih buat kalian, anak mahasiswa yang suka bergadang tapi pengen juga untuk solat tahajud. Jadi… aku pernah bertanya sama temenku lulusan pesantren dan melanjut kuliah di kedokteran UIN Jakarta, ukhti cantik yang insya Allah sebentar lagi akan menjadi dokter muda, dia berbagi tips disaat tugas perkuliahan menumpuk sampai memaksakan diri untuk bergadang, dia menyempatkan dulu untuk solat lail sebelum akhirnya tidur, solat lail yang dimaksud disini bisa solat witir, solat taubah, yang pada intinya dikerjakan waktunya bersamaan sama waktu solat tahajud, masya Allah ya. Nah ternyata kita juga bisa melakukan ibadah sebelum tidur juga, hal ini juga dijelaskan dalam cuplikan tausiyah (klik) berikut
Intinya
guys, bagi kalian yang sulit untuk bangun sebelum subuh untuk meluangkan solat
tahajud, kita bisa kok dapat pahala yang besar juga dengan mengerjakan amalan
ibadah sebelum tidur, seperti baca Al-Qur’an, solat witir, solat taubah, dan
lain sebagainya. Jadi jangan bersedih ya, ketika tugas banyak yang menuntut
kita bergadang pada akhirnya membuat kita merasa bersalah tidak meluangkan
waktu untuk solat tahajud. Inget Allah itu Maha Baik, “Allah
menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu (Surat Al
Baqarah ayat 185).”
Lanjut lagi ceritanya, setalah mengupayakan berbagai cara untuk menyelesaikan bab akhir skripsi, Qadarullah, gak keburu guys buat daftar sidang akhir skripsi di bulan Juni. Tetapi masyaAllah, diluar dugaan, prodi aku akhirnya buka jadwal sidang akhir skripsi tambahan lagi untuk di bulan Juli (dengan persyaratan pemberkasan pendaftaran sudah masuk di prodi maksimal tanggal 1 Juli pengumpulannya). Alhamdulillah, pada saat itu aku udah bener-bener pasrah, karena pendaftaran di tanggal 29 Mei mepet banget buat aku, karena besoknya aku udah pulang untuk persiapan lebaran Idul Fitri di Jogja. Masya Allah rencanaNya Allah.
Singkat cerita…Alhamdulillah Allah
ijinin aku untuk sidang akhir skripsi setelah pulang lebaran dari Jogja. Dan
sungguh dibuat haru lagi, ketika aku bisa menuntaskan tugas akhir aku dan
mendapat gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat tepat di tanggal 15 Juli 2019,
tepat di hari ulang tahun Mama. Ini bagaikan kado spesial untuk Mama, yang
selama ini udah banyak do’a yang dilangitkan untuk anak-anaknya. Alhamdulillah
SKM!
Diambil dari (https://www.boombastis.com/wisuda-indonesia-ruwet/39182)
Alhamdulillah, pada akhirnya kita bertuju (sebimbingan) bisa lulus di waktu yang bersamaan😊
Terimakasih untuk keluargaku, mama papa, ketiga kakakku yang selama ini sudah menjadi support system aku yang udah mau dengerin sesi curhat skripsi di video call setiap weekend.
Terimakasih juga untuk dosen pembimbing, dosen penguji, teman-teman
Biostatistika dan Informatika Kesehatan, teman-teman seperjuangan angkatan 2015
Kesehatan Masyarakat UIN Jakarta. Alhamdulillah ala kulli hal..

