Pemuda Muslim Milenial
by
Filan
- March 25, 2019
Serbuan kata menghujani pikiran, adanya jika tidak tertuang dalam
ide tulisan akan menjadi uap yang tak bernilai. Serbuan kata terkadang
berkumpul menjadi satu pikiran, yang ada jika dituruti bisa jadi menambah
kegalauan ataupun prasangka yang tidak-tidak.
Kembali aku bertemankan pada sebuah catatan dunia, yang tentunya ini sebagai cara rehat yang ampuh untuk mengendalikan serbuan kata negatif dalam pikiran. Beruntungnya, karena KuasaNya lah yang telah menggerakkan tangan untuk membolik-balik halaman pada catatan dunia. Aku tersemangati olehnya, tentunya untuk menulis dan menyampaikan kembali kepada kalian.
Kembali aku bertemankan pada sebuah catatan dunia, yang tentunya ini sebagai cara rehat yang ampuh untuk mengendalikan serbuan kata negatif dalam pikiran. Beruntungnya, karena KuasaNya lah yang telah menggerakkan tangan untuk membolik-balik halaman pada catatan dunia. Aku tersemangati olehnya, tentunya untuk menulis dan menyampaikan kembali kepada kalian.
Terkadang diri selalu menuruti keinginan yang dibuatnya sendiri,
berlaku tanpa arah bahkan hanya untuk menuruti kesenangan saja. Bukan begitu
yang dirasa oleh kita, anak muda yang dikenal hidup di zaman milenial ini?
Aku belajar dari seorang sahabat Rasulullah bernama Mush’ab bin Umair, dalam usianya yang dulu masih terbilang muda, telah merelakan kesenangan dunia untuk mendapatkan akhirat, tetap terus berusaha untuk mendapatkan kasih sayang dari Rasulullah. Sungguh bukan hal yang mudah bagi seorang pemuda, tentunya termasuk diri ini, untuk tidak bermandikan kesenangan dunia.
Berkaca kembali pada cerita seorang remaja yang tak mengenal siapa dirinya, mungkin ini adalah refleksi diriku yang sudah lalu, aku mencarinya, ya—mencari siapa diriku sebenarnya. Tujuan hidup yang membuat aku bertanya apa lagi yang harus aku perbuat, kemana lagi aku menuruti kesenangan diri, dan payahnya lagi tidak mau berbenah. Bukankah kita, seorang muslim sangatlah istimewa di hadapan Allah, sebagaimana yang telah Allah tuliskan dalam kalam Ilahinya, Al Imran ayat 110
Aku belajar dari seorang sahabat Rasulullah bernama Mush’ab bin Umair, dalam usianya yang dulu masih terbilang muda, telah merelakan kesenangan dunia untuk mendapatkan akhirat, tetap terus berusaha untuk mendapatkan kasih sayang dari Rasulullah. Sungguh bukan hal yang mudah bagi seorang pemuda, tentunya termasuk diri ini, untuk tidak bermandikan kesenangan dunia.
Berkaca kembali pada cerita seorang remaja yang tak mengenal siapa dirinya, mungkin ini adalah refleksi diriku yang sudah lalu, aku mencarinya, ya—mencari siapa diriku sebenarnya. Tujuan hidup yang membuat aku bertanya apa lagi yang harus aku perbuat, kemana lagi aku menuruti kesenangan diri, dan payahnya lagi tidak mau berbenah. Bukankah kita, seorang muslim sangatlah istimewa di hadapan Allah, sebagaimana yang telah Allah tuliskan dalam kalam Ilahinya, Al Imran ayat 110
كُنتُمۡ خَيۡرَ أُمَّةٍ أُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ
تَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَتَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَتُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِۗ
وَلَوۡ ءَامَنَ أَهۡلُ ٱلۡكِتَٰبِ لَكَانَ خَيۡرٗا لَّهُمۚ مِّنۡهُمُ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ
وَأَكۡثَرُهُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ ١١٠
110. Kamu adalah umat
yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma´ruf, dan
mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab
beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang
beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik
Merekalah umat Islam, yang disebutkan oleh Allah sebagai umat yang
terbaik. Bukan dengan sia-sia Allah menjadikan segala sesuatu di dunia ini,
termasuk kamu wahai diri. Ada yang menarik ingin ku ceritakan, ketika kita
berusaha terus untuk mendekat kepadaNya, dengan terus mengupayakan segala aktivitas kita senantiasa berlandaskan ibadah kita kepada Allah, Allah akan terus mendekat kepada kita
juga. Ingat dan selalu percaya dengan perkaataan so-sweet Allah satu ini
Allah Ta’ala berfirman, ‘Aku tergantung persangkaan hamba kepadaKu. Aku bersamanya kalau dia mengingat-Ku. Kalau dia mengingatku pada dirinya, maka Aku mengingatnya pada diriKu. Kalau dia mengingatKu di keramaian, maka Aku akan mengingatnya di keramaian yang lebih baik dari mereka. Kalau dia mendekat sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Kalau dia mendekat kepada diri-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Kalau dia mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendatanginya dengan berlari.” (HR bukhari, no. 7405 dan Muslim, no. 2675)
MasyaAllah, so sweet ya Allah, udah pedekate-in Allah aja.
Pernah tidak, terbesit pemikiran, beruntung sekali kita menjadi
seorang muslim sedari lahir?
Bagi kalian yang belum pernah terfikirkan perkataan ini, mungkin dengan mencoba meluangkan waktu untuk menyimak cerita-cerita para mualaf, kita bisa tambah bersyukur menjadi seorang muslim, terlebih telah terlahir menjadi seorang muslim.
Karenanya tidak ada seorangpun yang dapat menduga kapan pintu hidayah Allah akan terbuka kepada masing-masing diri ini.
Begitu juga yang dirasakan oleh pemuda berkebangsaan Norwegia, Ibrahim. Tidak ada yang dapat menyangka pintu hidayah Allah terbuka setelah beberapa kejadian hidup dilewati olehnya, seperti kisahnya yang mendapatkan ketenangan hidup menjadi seorang muslim setelah melewati masa kesedihannya, yaitu menjadi saksi sekaligus korban hidup dalam kejadian penembakkan berdarah yang mematikan puluhan teman-teman sekolahnya di suatu pulau bernama Utoya di Norwegia pada sekitar enam tahun yang lalu.
Siapa sangka, karena kejadian tersebut, mengantarkan Ibrahim pada sebuah pertanyaan tentang kematian, kemana lagi setelah kehidupannya sekarang? Pernah tidak dari masing-masing kita memikirkan jawaban pertanyaan ini, mungkin yang ada---jarang sekali ya kita sebagai muslim mempertanyakan pertanyaan yang sama seperti Ibrahim tanyakan pada dirinya, karena mungkin kita yang terlahir menjadi seorang muslim sedari lahir sudah tahu jawabannya, atau mungkin karena sudah tahu jawabannya kita jadi terlena—tidak mempersiapkan diri setelah kehidupan pertama ini.
Bagi kalian yang belum pernah terfikirkan perkataan ini, mungkin dengan mencoba meluangkan waktu untuk menyimak cerita-cerita para mualaf, kita bisa tambah bersyukur menjadi seorang muslim, terlebih telah terlahir menjadi seorang muslim.
Karenanya tidak ada seorangpun yang dapat menduga kapan pintu hidayah Allah akan terbuka kepada masing-masing diri ini.
Begitu juga yang dirasakan oleh pemuda berkebangsaan Norwegia, Ibrahim. Tidak ada yang dapat menyangka pintu hidayah Allah terbuka setelah beberapa kejadian hidup dilewati olehnya, seperti kisahnya yang mendapatkan ketenangan hidup menjadi seorang muslim setelah melewati masa kesedihannya, yaitu menjadi saksi sekaligus korban hidup dalam kejadian penembakkan berdarah yang mematikan puluhan teman-teman sekolahnya di suatu pulau bernama Utoya di Norwegia pada sekitar enam tahun yang lalu.
Siapa sangka, karena kejadian tersebut, mengantarkan Ibrahim pada sebuah pertanyaan tentang kematian, kemana lagi setelah kehidupannya sekarang? Pernah tidak dari masing-masing kita memikirkan jawaban pertanyaan ini, mungkin yang ada---jarang sekali ya kita sebagai muslim mempertanyakan pertanyaan yang sama seperti Ibrahim tanyakan pada dirinya, karena mungkin kita yang terlahir menjadi seorang muslim sedari lahir sudah tahu jawabannya, atau mungkin karena sudah tahu jawabannya kita jadi terlena—tidak mempersiapkan diri setelah kehidupan pertama ini.
Hati nuraninya yang telah menuntun ia untuk berserah diri hanya
kepada Allah, sebelum ia mengenal Islam pun, ketika kejadian penembakan hatinya
merasa takut khawatir, namun dirinya terdorong untuk mengikuti bacaan do’a dari
salah seorang muslim yang sedang berada di tempat kejadian—sama sepertinya. Padahal
juga ada orang lain yang sama-sama berdo’a---tentu dengan cara yang berbeda, tetapi
ia lebih memilih untuk mengikuti bacaan seorang muslim, dengan ikut mengangkat
kedua tangannya.
Allah akan selalu ada untuk setiap hambaNya yang mencari keberadaanNya, pencarian jawaban atas pertanyaan Ibrahim, membuahkan hasil dengan dipertemukan ia pada Islam, yang pada akhirnya lisannya mengakui kebesaran Allah melalui kalimat syahadat, masyaAllah.. walaupun awalnya memang sulit untuk berjalan menujuNya, dengan melalui serangkaian peristiwa yang membuat dirinya terguncang, tetapi dengan keteguhan hatinya mencari tahu tentang qada’ dan qadar Nya, mudah bagi Allah membukakan pintu hidayah kepada siapa saja yang mau mengetuk pintuNya.
Allah akan selalu ada untuk setiap hambaNya yang mencari keberadaanNya, pencarian jawaban atas pertanyaan Ibrahim, membuahkan hasil dengan dipertemukan ia pada Islam, yang pada akhirnya lisannya mengakui kebesaran Allah melalui kalimat syahadat, masyaAllah.. walaupun awalnya memang sulit untuk berjalan menujuNya, dengan melalui serangkaian peristiwa yang membuat dirinya terguncang, tetapi dengan keteguhan hatinya mencari tahu tentang qada’ dan qadar Nya, mudah bagi Allah membukakan pintu hidayah kepada siapa saja yang mau mengetuk pintuNya.
Pijakan kuat untuk seorang pemuda zaman sekarang adalah dengan
mengetahui dirinya siapa, tentu ini harus berlandaskan ilmu tauhid, yang sudah
pernah dibahas lebih dulu dalam surat Al Fatihah, jika lupa bisa dibaca lagi
dalam postingan blog ini (Iman yang perlahan Menumbuhkan Cinta 1 dan Iman yang perlahan Menumbuhkan Cinta 2).
Kita adalah seorang pemuda muslim, berbanggalah! Karenanya kita adalah bagian dari umat yang terbaik. Tidak cukup berhenti untuk mengetahui diri sebagai seorang muslim saja, kita seorang pemuda harus benar-benar mengetahui apa tujuan hidup kita didunia ini.
Ada yang mengatakan tujuan hidupnya, adalah kesuksesan, mendapat nilai yang bagus, jabatan yang tinggi, pujian dari rekan-rekan, boleh—bisa jadi itu dijadikan sebagai tujuan kita. Tetapi yang harus kita ketahui bersama, yang terpenting adalah tujuan kita harus dibersamai dengan keimanan kita.
Tidak mau kan kita berlelah mendaki gunung lewati lembah, menyusuri sungai seperti ninja hatori untuk sampai pada tujuan, tetapi kitanya masih saja terus tidak tahu arah, atau bisa jadi kita kehilangan arah bahkan menyudahi di tengah perjalanan.
Maka dengan usaha yang berlandaskan iman dan takwa kepada Allah tidak akan membuahkan hasil yang sia-sia, karenanya kita mendapatkan kekuatan selama perjalanan kita, dan merasa terus tersemangati karena yang kita tahu Tuhan kita---sangatlah menyukai orang-orang yang terus berusaha seperti firman Allah dalam surat Al Insyirah ayat tujuh dan delapan
Kita adalah seorang pemuda muslim, berbanggalah! Karenanya kita adalah bagian dari umat yang terbaik. Tidak cukup berhenti untuk mengetahui diri sebagai seorang muslim saja, kita seorang pemuda harus benar-benar mengetahui apa tujuan hidup kita didunia ini.
Ada yang mengatakan tujuan hidupnya, adalah kesuksesan, mendapat nilai yang bagus, jabatan yang tinggi, pujian dari rekan-rekan, boleh—bisa jadi itu dijadikan sebagai tujuan kita. Tetapi yang harus kita ketahui bersama, yang terpenting adalah tujuan kita harus dibersamai dengan keimanan kita.
Tidak mau kan kita berlelah mendaki gunung lewati lembah, menyusuri sungai seperti ninja hatori untuk sampai pada tujuan, tetapi kitanya masih saja terus tidak tahu arah, atau bisa jadi kita kehilangan arah bahkan menyudahi di tengah perjalanan.
Maka dengan usaha yang berlandaskan iman dan takwa kepada Allah tidak akan membuahkan hasil yang sia-sia, karenanya kita mendapatkan kekuatan selama perjalanan kita, dan merasa terus tersemangati karena yang kita tahu Tuhan kita---sangatlah menyukai orang-orang yang terus berusaha seperti firman Allah dalam surat Al Insyirah ayat tujuh dan delapan
“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain (7) Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap (8)”
Ya hanyalah kepada Allah kita semua berharap! Inilah bentuk iman
yang harus disetai dalam setiap usaha kita, teman. Lagi-lagi iman, ya memang
harus! Ketika lelah yang dirasa tak benilai ibadah, maka sudah saatnya untuk
rehat dulu dan memperbaiki niat. Tanda lelah yang hampir tak bernilai ibadah bisa jadi datang
karena adanya pikiran negatif yang mengada-mengada--seperti penulis alami saat
ini, ketika membayangkan begitu menyeramkannya ruang siding skripsi, ini
berlebihan bukan main, kita sudah mengusahakan seharusnya kita tinggal pasrah
saja, berprasangka baik kepada Allah! eits untungnya saja diselamatkan oleh
Allah dari pikiran jahat yang dibuat oleh diri.
Solusi dari penulis jika kalian alami yang seperti penulis alami, kalian bisa meninggalkan sebentar tugas yang memberatkan pikiran, dan luangkan waktu buat baca Al-Qur’an (itu sebaik baik cara) tetapi jika mau dengan cara lain, pilih cara lain yang bisa mendekatkan diri kita kepada Allah seperti membaca buku moivasi Islam, dengerin ceramah, atau pilihan terakhir adalah tidur (hehe ini dianjurkan kalau bener-bener ngantuk berat saja). Tentu solusi ini ditujukan untuk menyerap energi positif lagi, dengan cara ini penulis mendapat kekuatan untuk terus melanjutkan tugas. Yang terpenting janganlah berhenti, dan terus melangkah.
Solusi dari penulis jika kalian alami yang seperti penulis alami, kalian bisa meninggalkan sebentar tugas yang memberatkan pikiran, dan luangkan waktu buat baca Al-Qur’an (itu sebaik baik cara) tetapi jika mau dengan cara lain, pilih cara lain yang bisa mendekatkan diri kita kepada Allah seperti membaca buku moivasi Islam, dengerin ceramah, atau pilihan terakhir adalah tidur (hehe ini dianjurkan kalau bener-bener ngantuk berat saja). Tentu solusi ini ditujukan untuk menyerap energi positif lagi, dengan cara ini penulis mendapat kekuatan untuk terus melanjutkan tugas. Yang terpenting janganlah berhenti, dan terus melangkah.
Bersemangatlah pemuda, tidak ada kata terlambat untuk kamu yang mau
memperbaiki dri—menjadi pribadi muslim yang lebih baik lagi. Yang dikata
terlambat, jika masa tua mu sudah menghampiri, namun tidak ada perolehan atau
capaian untuk bekal akhirat yang kamu raih semasa mudamu. Sebagai pemuda jaman
milenial yang dikata orang, boleh saja mengikuti perkembangan teknologi—namun, diingatkan
kembali untuk tetap berlandaskan pada iman. Sudah bekerja keras, bersusah payah
mengikuti zaman, menuntut keberhasilan ini-itu, sementara diri masih lemah
dalam keimanan, ketika belum bisa tercapai, maka yang ada diri menuruti
perangkap setan---meragukan keadilanNya, naudzubillahi min dzalik..jangan ya
teman pemuda.
Inilah yang perlu kita pahami bersama. Allah sangat menyukai
hambaNya yang bekerja keras, jika kamu mau memahami lebih mendalam maksud salah
satu ayat tentang ikhitiar diatas (Surat Al-Insyirah ayat 7-8) tentu kamu akan terus tersemangati dan terlebih kamu
mendapat rasa semangat hanya semata-mata ingin mendapat cintanya Allah karena yang
menyuruh perintah untuk terus berikhtiar adalah langsung dari firman Allah.
Salahnya adalah jika ketika diri terus menerus beriktiar namun ikhitiar kita tidak dibarengi dengan niat yang baik. Jika kita hanya ingin mendapat cintanya Allah karena kita telah menaati perintah Allah untuk terus berusaha, maka pastinya tidak ada rasa penyesalan pada diri ketika keinginan belum tercapai sementara diri telah berusaha maksimal.
Ini pelajaran untuk para pemuda agar tidak menuhankan ikhtiar, karena Allah---satu-satunya Dzat yang Maha Menentukan, Dia memiliki hak untuk menentukan sejauh mana kita berhasil mendapatkan hasil dari ikhtiar kita.
Jadi jangan sekali-sekali mempertanyakan keadilanNya karena keinginan kita yang belum terwujud, kita tidak tahukan pelajaran apa yang tersembunyi dari ikhtiar yang belum melahirkan hasil yang dinginkan oleh kita, bisa jadi Allah sedang mempersiapkan hasil yang lebih baik untukmu dari serentetan ikhtiar yang telah kamu jalani.
So, Pemuda zaman milenial, adalah pemuda yang rajin senantiasa berusaha—berjuang mencapai cita-cita dengan tak lupa mengikutsertakan iman didalam ikhtiarnya.
Salahnya adalah jika ketika diri terus menerus beriktiar namun ikhitiar kita tidak dibarengi dengan niat yang baik. Jika kita hanya ingin mendapat cintanya Allah karena kita telah menaati perintah Allah untuk terus berusaha, maka pastinya tidak ada rasa penyesalan pada diri ketika keinginan belum tercapai sementara diri telah berusaha maksimal.
Ini pelajaran untuk para pemuda agar tidak menuhankan ikhtiar, karena Allah---satu-satunya Dzat yang Maha Menentukan, Dia memiliki hak untuk menentukan sejauh mana kita berhasil mendapatkan hasil dari ikhtiar kita.
Jadi jangan sekali-sekali mempertanyakan keadilanNya karena keinginan kita yang belum terwujud, kita tidak tahukan pelajaran apa yang tersembunyi dari ikhtiar yang belum melahirkan hasil yang dinginkan oleh kita, bisa jadi Allah sedang mempersiapkan hasil yang lebih baik untukmu dari serentetan ikhtiar yang telah kamu jalani.
So, Pemuda zaman milenial, adalah pemuda yang rajin senantiasa berusaha—berjuang mencapai cita-cita dengan tak lupa mengikutsertakan iman didalam ikhtiarnya.
Ada perkataan yang penulis suka, ini disampaikan oleh iman—salah satu
tokoh dari film pendek yang berjudul Mencintai Iman
Dengan pengetahuan, kau mungkin bisa melaju secepat yang kamu mau,tetapi hanya dengan iman kau bisa sampai di tujuan
مَنۡ
عَمِلَ صَٰلِحٗا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤۡمِنٞ فَلَنُحۡيِيَنَّهُۥ
حَيَوٰةٗ طَيِّبَةٗۖ وَلَنَجۡزِيَنَّهُمۡ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا كَانُواْ
يَعۡمَلُونَ ٩٧
97.
Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam
keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang
baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang
lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan
Cari tahu kisah Mush’ab bin Umair selanjutnya di https://kisahmuslim.com/4799-mushab-bin-umair-teladan-bagi-para-pemuda-islam.html
Cari tahu kisah Ibrahim Mualaf dari Norwegia di
Jazirah Islam https://www.youtube.com/watch?v=Pui28QCK-iY
atau https://www.youtube.com/watch?v=Edu7Sdv_gIk
Jika punya waktu luang, penulis sarankan buat nonton film pendek “Mencintai
Iman”
https://www.youtube.com/watch?v=I3-3JHnEdcc&t=11s
Inspirasi tulisan dari buku Mba Dewi Nur Aisyah yang berjudul "Awe Inspiring Me", terimakasih mba dewi, berharap suatu saat nanti bisa menerbitkan buku sendiri seperti Mba Dewi..aamiin
Inspirasi tulisan dari buku Mba Dewi Nur Aisyah yang berjudul "Awe Inspiring Me", terimakasih mba dewi, berharap suatu saat nanti bisa menerbitkan buku sendiri seperti Mba Dewi..aamiin





