Pertemanan Iman

by - March 15, 2019


Tak mudah bagiku untuk mengawali percakapan, bahkan kepada orang yang sudah aku kenal lama. Terkadang rasanya sangat payah dalam menyusun kata-kata. Maka tak heran jika teman lama mengatakan aku lebih banyak diam, ya anggapku bahwa aku tidak punya kuasa untuk memperdengarkan suaraku untukmu. 

Karena sebenarnya yang dirasa adalah rasa takut menyinggung perasaanmu atau bahkan tidak tahu apa yang harus dikatakan. Ini refleksi diriku yang telah jauh-lama, mungkin beberapa orang yang telah lama mengenalku, mengecap diriku sebagai kuper atau kurang pergaulan. 

Tetapi yang aku rasakan saat itu, percayalah.. orang kuper pun sebenarnya tidak sepenuhnya nyaman untuk terus-- lama bersendiri, karena aku menyadari diri ini terlahir sebagai makhluk sosial yang juga membutuhkan teman. 

Bergulir cepat, aku tak yakin apakah cap kuper itu sudah menghilang. Walaupun bagi kalian yang baru mengenal aku dalam waktu dekat ini, menganggap tidak ada yang salah pada diri ini, karena tampaknya kalian (dan aku juga merasakan perubahan ini) menganggap aku banyak memiliki teman disini. Sulit untuk dipercaya, seorang aku, meluangkan diri untuk menceritakan tentang pertemanan. Karena topik pertemanan biasanya tidak menjadi bagian favorit dalam tulisanku. 

Aku semakin menyadari, selama ini motif pertemananku hanyalah sebagai pemenuhan kebutuhan untuk tidak merasakan kesendirian atau bahkan hanyalah pemenuhan “prestise” supaya dikenal diri ini “banyak teman” ah begitu sangat mengutamakan alasan ego memang.

Ada alasan hikmah pastinya, mengapa Allah mengantarkan aku untuk menetap sementara disini, yang mungkin ini salah satunya hikmah istimewa yang kudapat. Aku semakin merasakan untuk tetap belajar mendekat kepada-Nya, dan tentu ini karena Kuasa-Nya juga yang telah menggerakkan hati. 

Karena Kuasa-Nya juga yang telah mempertemukan aku dengan lingkungan pertemanan yang senantiasa membuat aku  berlomba untuk mendekat kepada-Nya, yang senantiasa membuat diri ini tetap menjaga frekuensi satu, hanya kepadaNya saja. 

Aku belum pernah merasakan kedekatan pertemanan seperti ini, entahlah mungkin ini yang dinamakan pertemanan iman, pertemanan yang telahir bukan karena alasan ego semata namun ikatan iman yang didalamnya mampu merangkul dan mencairkan hati yang keras seperti hati ini.

Pertemanan iman awalnya tidak aku sadari, karena memang diri selalu menganggap “teman ya sudah teman, kita cukup mengenal saja dan bertegur sapa saja, sesekali bertukar cerita atau bersenda gurau”. 

Pertemanan Iman yang awalnya membuat aku iri, karena melihat ada teman yang jauh lebih soleha—jauh lebih mempunyai kemauan diri yang kuat untuk mendekatkan diri kepada Allah dibandingkan dengan apa yang diri punya. Itulah mengapa aku menyetujui jika memang ini disebut pertemanan iman, karena didalamnya ada kata iman yang tersemat untuk selalu memacu diri-- berlomba dalam kebaikan. Indahnya.. inilah salah satu hikmah yang aku dapatkan di kota rantau, yang mungkin juga menjadi hikmah atas penolakan yang aku dapatkan dari beberapa universitas impianku.

Aku belajar darinya untuk tidak lagi iri yang berlebihan kepadanya, walaupun iri dalam kebaikan—soal akhirat, dibolehkan. Tetapi yang harus diketahui adalah seberapa jauh perasaan iri yang boleh kita rasakan, atau yang dapat kita tolerir. 

Karena yang namanya iri tetap saja akan membahayakan untuk perasanya jika terus menerus dituruti, yang ada hanyalah meninggalkan kebencian pada seseorang yang kita iri. Maka, aku tidak boleh membiarkan perasaan ini berlama menetap di hati, aku ikhlaskan saja temanku yang jauh lebih soleha, aku jadikan ia sebagai penyemangat diri untuk berbenah dan belajar untuk mengikuti gerakan kedekatannya kepada Allah. 

Dan bersyukur sekali, aku bisa menerima perasaan ini—yang awalnya memang tidak mudah untuk mengikhlaskan, karena rasanya ingin juga mendekat kepada Allah, ingin juga menjadi tempat perhatiannya Allah. MasyaAllah aku sampai bingung aku merasakan apa sewaktu itu, tetapi perasaan itu yang membuahkan pertemanan manis yang disebutnya pertemanan iman. 

Aku harus memperbaiki motif pertemananku, untuk tidak mengutamakan alasan ego. Seharusnya yang aku utamakan  adalah motif pertemanan karena ingin tertular kebaikan dari teman kita dan menebar kebermanfaatan untuk teman kita.

Rasulullah shallaallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan kita untuk senantiasa menjaga pertemanan dengan teman-teman yang baik, agar kita juga bisa terpengaruh oleh kebaikan teman kita. Seperti yang sering kita dengar dalam hadist Bukhari dan Muslim.

Nabi Muhammad shallaallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, 

“Perumpamaan teman duduk yang baik dan teman duduk (sepergaulan) yang buruk adalah seperti pembawa misk (minyak wangi) dan pandai besi. Si pembawa misk mungkin akan memberimu (minyak wangi) atau engkau membeli minyak itu darinya atau engkau mendapatkan baunya yang harum. Sedangkan pandai besi, mungkin akan membakar pakaianmu atau kamu dapati bau yang busuk darinya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Pertemanan yang dapat meninggalkan bau busuk bahkan membakar pakaianmu merupakan peretemanan yang tidak senantiasa mendorong kita dalam berbuat baik malah membuat kita terdorong untuk melakukan keburukan yang di benci Allah, naudzubillahi min dzalik. Pertemanan yang seperti ini hanya berlaku untuk di dunia saja, tidak langgeng untuk di akhirat, bahkan mereka akan saling bermusuhan.

Allah telah berfirman dalam surat Az Zukhruf

ٱلۡأَخِلَّآءُ يَوۡمَئِذِۢ بَعۡضُهُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ إِلَّا ٱلۡمُتَّقِينَ ٦٧

67. Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa

MasyaAllah dengan takwa yang terikat, kita akan bisa bertemu teman, di akhirat, InsyaAllah..

”berteman karena Allah, terikat karena keimanan kepada Allah, menjadikan pertemanan itu bernilai ibadah.”





Dan diri inilah tugasmu untuk senantiasa dapat meneladani Rasulullah shallaallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu dengan  meneladani akhlak beliau yang sungguh mulia dalam menjalin pertemanan. Diantara teladannya adalah bersikap ramah, rendah hati, memperlakukan orang/teman dengan sama, tidak suka berdebat dengan teman atau mencela temannya, tolong menolong, tidak terlalu suka banyak berbicara, serta tidak suka turut campur persoalan yang bukan urusanya. 

MasyaAllah sungguh mulia akhlak Rasulullah dalam mengahargai pertemanan. Semoga kita, umat Islam, senantiasa dimasukkan dalam golongan yang diberikan kemudahan dalam meneladani akhlak beliau, Rasulullah S.A.W, aamiin..

Ada yang terlewat, diri ini yang suka merasa terkecilkan hatinya karena teman-teman yang berbeda pendapat, aku pernah mendengar dari salah satu ceramah Ustadz Adi Hidayat, beliau mengatakan seseorang yang datang di kehidupan kita bisa saja ia membawa banyak manfaat untuk kita. 

Teman yang belum bisa bersemangat dalam beribadah bisa jadi ia hadir dalam kehidupanmu membawa banyak manfaat untukmu, anggaplah ini sebagai ladang amalanmu  yang membuatmu jadi lebih dekat lagi dengan Allah. Jangan terburu-buru untuk mencari teman yang baik, dan meninggalkan ia yang belum bisa bersemangat dalam beribadah. 

Ingat bisa jadi pertemanan membawa manfaat untukmu, karena dengan cara membersamai teman kita, mendakwahkan secara perlahan dan dengan perkataan yang lembut, insyaAllah ini juga bisa disebut sebagai pertemanan yang dilandasi takwa kepada Allah. 

Ah mudahnya aku menuliskan kata penutup di akhir tulisan ini, sejatinya sungguhlah praktiknya tidak mudah, lagi-lagi aku bertemankan dengan ketakutan, karena aku lebih suka untuk menghindari perdebatan, jadilah hanyalah lewat tulisan ini aku berharap bisa menyemangati diri untuk bisa membersamai teman-temanku di jalan Allah.

Sungguh, hanya kepada-Nya saja kita kembalikan perkara pertemanan dunia ini, karena apalah daya dari diri kita yang sudah mengajak teman kita dalam bersemangat ibadah, jika Allah belum mengizinkan pintu hatinya terbuka, maka hanya kepada-Nya saja lah kita kembalikan ini semua. Allah yang Maha Membolak balikkan hati manusia, hanya kepadaNya kita berserah diri atas upaya telah kita lakukan. Karena dengan do’a yang selalu diiringi dengan ikhtiar adalah sebagian dari usaha kerja keras kita juga. Maka teman, janganlah berhenti untuk selalu mendo’akan untuk kebaikan teman-teman kita.



 


You May Also Like

0 $type={blogger}


Terimakasih sudah membaca, mohon beri komentar yang bijak dan sesuai dengan topik yang dibahas