Pertemanan Iman
Tak mudah bagiku untuk
mengawali percakapan, bahkan kepada orang yang sudah aku kenal lama. Terkadang
rasanya sangat payah dalam menyusun kata-kata. Maka tak heran jika teman lama
mengatakan aku lebih banyak diam, ya anggapku bahwa aku tidak punya kuasa untuk
memperdengarkan suaraku untukmu.
Karena sebenarnya yang dirasa
adalah rasa takut menyinggung perasaanmu atau bahkan tidak tahu apa yang harus
dikatakan. Ini refleksi diriku yang telah jauh-lama, mungkin beberapa orang
yang telah lama mengenalku, mengecap diriku sebagai kuper atau
kurang pergaulan.
Tetapi yang aku rasakan saat
itu, percayalah.. orang kuper pun sebenarnya tidak sepenuhnya nyaman untuk
terus-- lama bersendiri, karena aku menyadari diri ini terlahir sebagai makhluk
sosial yang juga membutuhkan teman.
Bergulir cepat, aku tak yakin
apakah cap kuper itu
sudah menghilang. Walaupun bagi kalian yang baru mengenal aku dalam waktu dekat
ini, menganggap tidak ada yang salah pada diri ini, karena tampaknya kalian
(dan aku juga merasakan perubahan ini) menganggap aku banyak memiliki teman
disini. Sulit untuk dipercaya, seorang aku, meluangkan diri untuk menceritakan
tentang pertemanan. Karena topik pertemanan biasanya tidak menjadi bagian
favorit dalam tulisanku.
Aku semakin menyadari, selama
ini motif pertemananku hanyalah sebagai pemenuhan kebutuhan untuk tidak
merasakan kesendirian atau bahkan hanyalah pemenuhan “prestise” supaya dikenal
diri ini “banyak teman” ah begitu sangat mengutamakan alasan ego memang.
Ada alasan hikmah pastinya, mengapa
Allah mengantarkan aku untuk menetap sementara disini, yang mungkin ini salah
satunya hikmah istimewa yang kudapat. Aku semakin merasakan untuk tetap belajar
mendekat kepada-Nya, dan tentu ini karena Kuasa-Nya juga yang telah
menggerakkan hati.
Karena Kuasa-Nya juga yang telah mempertemukan aku dengan
lingkungan pertemanan yang senantiasa membuat aku berlomba untuk
mendekat kepada-Nya, yang senantiasa membuat diri ini tetap menjaga frekuensi
satu, hanya kepadaNya saja.
Aku belum pernah merasakan kedekatan pertemanan seperti
ini, entahlah mungkin ini yang dinamakan pertemanan iman, pertemanan yang
telahir bukan karena alasan ego semata namun ikatan iman yang didalamnya mampu
merangkul dan mencairkan hati yang keras seperti hati ini.
Pertemanan iman awalnya tidak
aku sadari, karena memang diri selalu menganggap “teman ya sudah teman, kita
cukup mengenal saja dan bertegur sapa saja, sesekali bertukar cerita atau
bersenda gurau”.
Pertemanan Iman yang awalnya
membuat aku iri, karena melihat ada teman yang jauh lebih soleha—jauh lebih
mempunyai kemauan diri yang kuat untuk mendekatkan diri kepada Allah
dibandingkan dengan apa yang diri punya. Itulah mengapa aku menyetujui jika
memang ini disebut pertemanan iman, karena didalamnya ada kata iman yang
tersemat untuk selalu memacu diri-- berlomba dalam kebaikan. Indahnya.. inilah
salah satu hikmah yang aku dapatkan di kota rantau, yang mungkin juga menjadi
hikmah atas penolakan yang aku dapatkan dari beberapa universitas impianku.
Aku belajar darinya untuk
tidak lagi iri yang berlebihan kepadanya, walaupun iri dalam kebaikan—soal
akhirat, dibolehkan. Tetapi yang harus diketahui adalah seberapa jauh perasaan
iri yang boleh kita rasakan, atau yang dapat kita tolerir.
Karena yang namanya iri tetap
saja akan membahayakan untuk perasanya jika terus menerus dituruti, yang ada
hanyalah meninggalkan kebencian pada seseorang yang kita iri. Maka, aku tidak
boleh membiarkan perasaan ini berlama menetap di hati, aku ikhlaskan saja
temanku yang jauh lebih soleha, aku jadikan ia sebagai penyemangat diri untuk
berbenah dan belajar untuk mengikuti gerakan kedekatannya kepada Allah.
Dan bersyukur sekali, aku
bisa menerima perasaan ini—yang awalnya memang tidak mudah untuk mengikhlaskan,
karena rasanya ingin juga mendekat kepada Allah, ingin juga menjadi tempat
perhatiannya Allah. MasyaAllah aku sampai bingung aku merasakan apa sewaktu
itu, tetapi perasaan itu yang membuahkan pertemanan manis yang disebutnya
pertemanan iman.
Aku harus memperbaiki motif
pertemananku, untuk tidak mengutamakan alasan ego. Seharusnya yang aku utamakan adalah
motif pertemanan karena ingin tertular kebaikan dari teman kita dan menebar
kebermanfaatan untuk teman kita.
Rasulullah shallaallahu ‘alaihi wa sallam telah
mengajarkan kita untuk senantiasa menjaga pertemanan dengan teman-teman yang
baik, agar kita juga bisa terpengaruh oleh kebaikan teman kita. Seperti yang
sering kita dengar dalam hadist Bukhari dan Muslim.
Nabi
Muhammad shallaallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
“Perumpamaan teman duduk yang baik dan teman duduk (sepergaulan) yang buruk adalah seperti pembawa misk (minyak wangi) dan pandai besi. Si pembawa misk mungkin akan memberimu (minyak wangi) atau engkau membeli minyak itu darinya atau engkau mendapatkan baunya yang harum. Sedangkan pandai besi, mungkin akan membakar pakaianmu atau kamu dapati bau yang busuk darinya” (HR. Bukhari dan Muslim).
Pertemanan
yang dapat meninggalkan bau busuk bahkan membakar pakaianmu merupakan
peretemanan yang tidak senantiasa mendorong kita dalam berbuat baik malah
membuat kita terdorong untuk melakukan keburukan yang di benci Allah, naudzubillahi min
dzalik. Pertemanan yang seperti ini hanya berlaku untuk di dunia saja,
tidak langgeng untuk di akhirat, bahkan mereka akan saling bermusuhan.
Allah
telah berfirman dalam surat Az Zukhruf
ٱلۡأَخِلَّآءُ
يَوۡمَئِذِۢ بَعۡضُهُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ إِلَّا ٱلۡمُتَّقِينَ ٦٧
67.
Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang
lain kecuali orang-orang yang bertakwa
MasyaAllah
dengan takwa yang terikat, kita akan bisa bertemu teman, di akhirat,
InsyaAllah..
”berteman
karena Allah, terikat karena keimanan kepada Allah, menjadikan pertemanan itu
bernilai ibadah.”
Dan diri
inilah tugasmu untuk senantiasa dapat meneladani Rasulullah shallaallahu
‘alaihi wa sallam, yaitu dengan meneladani akhlak beliau yang
sungguh mulia dalam menjalin pertemanan. Diantara teladannya adalah bersikap
ramah, rendah hati, memperlakukan orang/teman dengan sama, tidak suka berdebat dengan
teman atau mencela temannya, tolong menolong, tidak terlalu suka banyak
berbicara, serta tidak suka turut campur persoalan yang bukan urusanya.
MasyaAllah
sungguh mulia akhlak Rasulullah dalam mengahargai pertemanan. Semoga kita, umat
Islam, senantiasa dimasukkan dalam golongan yang diberikan kemudahan dalam
meneladani akhlak beliau, Rasulullah S.A.W, aamiin..
Ada yang
terlewat, diri ini yang suka merasa terkecilkan hatinya karena teman-teman yang
berbeda pendapat, aku pernah mendengar dari salah satu ceramah Ustadz Adi
Hidayat, beliau mengatakan seseorang yang datang di kehidupan kita bisa saja ia
membawa banyak manfaat untuk kita.
Teman yang
belum bisa bersemangat dalam beribadah bisa jadi ia hadir dalam kehidupanmu
membawa banyak manfaat untukmu, anggaplah ini sebagai ladang amalanmu yang
membuatmu jadi lebih dekat lagi dengan Allah. Jangan terburu-buru untuk mencari
teman yang baik, dan meninggalkan ia yang belum bisa bersemangat dalam
beribadah.
Ingat bisa
jadi pertemanan membawa manfaat untukmu, karena dengan cara membersamai teman
kita, mendakwahkan secara perlahan dan dengan perkataan yang lembut, insyaAllah
ini juga bisa disebut sebagai pertemanan yang dilandasi takwa kepada
Allah.
Ah
mudahnya aku menuliskan kata penutup di akhir tulisan ini, sejatinya sungguhlah
praktiknya tidak mudah, lagi-lagi aku bertemankan dengan ketakutan, karena aku
lebih suka untuk menghindari perdebatan, jadilah hanyalah lewat tulisan ini aku
berharap bisa menyemangati diri untuk bisa membersamai teman-temanku di jalan
Allah.
Sungguh,
hanya kepada-Nya saja kita kembalikan perkara pertemanan dunia ini, karena
apalah daya dari diri kita yang sudah mengajak teman kita dalam bersemangat
ibadah, jika Allah belum mengizinkan pintu hatinya terbuka, maka hanya
kepada-Nya saja lah kita kembalikan ini semua. Allah yang Maha Membolak
balikkan hati manusia, hanya kepadaNya kita berserah diri atas upaya telah kita
lakukan. Karena dengan do’a yang selalu diiringi dengan ikhtiar adalah sebagian
dari usaha kerja keras kita juga. Maka teman, janganlah berhenti untuk selalu
mendo’akan untuk kebaikan teman-teman kita.
Sumber :



0 $type={blogger}
Terimakasih sudah membaca, mohon beri komentar yang bijak dan sesuai dengan topik yang dibahas