Berjeda Dulu dari Tugas Dunia
Kita bisa lalui semuanya kan?
Ketika itu kita saling bertanya satu sama lain, saling
menguatkan pinta dalam hati kita. Sebenarnya sudah tahu akan jawaban dari lawan
bicara, sudah pasti ia akan menguatkan diri ini. Seringkali pertanyaan itu
terulang kemabali, bertanya akan kesanggupan dari seorang hamba yang penuh
dengan kelemahan.
Aku dan teman lawan bicaraku sedang mempertanyakan hal itu.
Bagi kita, saling menguatkan itu sangat dibutuhkan. Ketika diri ini belum dapat
menemukan nur cahaya disaat masalah datang, seringkali lisan ini nakal
menanyakan sesuatu yang dilatarbelakangi oleh hilangnya rasa kepercayaan,
tepatnya mungkin meragukan apa yang sudah menjadi prinsip Allah untuk setiap
hambanya.
Ceritaku kali ini tidak
terlepas dari cerita-cerita yang kemarin, masih sendu sebagai latar suasananya.
Sendu yang dirasa boleh saja, ketika itu masih dalam batas kewajaran, dan tidak
merasa terpuruk terus yang berlebihan. Kita masih punya Allah kan? Saat
ini, kita sama-sama berjuang teman, aku ingin sekali untuk bisa segera
menyelesaikan ini semua (tugas akhir) dan kembali ke tempat tinggalku untuk
bisa lebih banyak waktu berbakti kepada kedua orang tua.
Ah ini dimasa-masa kritis
“kepercayaan” jika diteruskan dengan bertemankan kesedihan, yang ada malah
ujungnya rasa penyesalan diri karena telah memutuskan merantau. Jangan
begitu, apa yang sudah terjadi, biarkanlah itu terjadi, sesal yang dirasa hanya
akan memberatkan hati dan pikiranmu saja, lebih baik kita ambil hikmahnya dan
terus bersemangat melangkahkan kaki untu hari-hari esokknya.
Kembali ke pertanyaan awal,
Kita bisa lalui semuanya kan? Aku kembali membuka pikiranku, dan bersyukur
sekali—memang kita harus punya pemicu untuk menjernihkan pikiran, salah satunya
dengan dengerin ceramah. Biasanya kalau sedang bertugas di depan laptop, susah
untuk aku menyambinya dengan mendengarkan pesan-pesan dakwah, yang ada
nih..malah dengerin musik kadang musik positif, kadang instrument aja, kadang
yaa musik jaman now—you know-lah.
Kebiasaan ini udah dari dulu
SMA, sambil belajar dengerin musik. Pengecualian di kondisi seperti ini, aku
jadi tidak bisa fokus ngerjain tugas dengan mendengarkan musik yang biasanya
aku dengarkan, dan ketika aku mencoba untuk dengerin ceramah, mengalir begitu
saja—alhamdulillah, aku bisa fokus kembali (mungkin ini cara Allah buat aku
bisa tenang dalam menghadapi cobaan).
Entah kenapa rasa sendiri
yang aku rasakan akhir-akhir ini membuat aku menerima banyak sekali pelajaran,
khususnya dalam menanggapi sebuah cobaan hidup. Wah berat ya istilahnya,
padahal ini belum seberapa berat loh teman cobaan hidup kita, kalau
kita mau melihat ke bawah, masih banyak orang yang tidak seberuntung
kita.
Maka kalau soal perihal
duniawi, lihatlah kebawah, beda kalau soal perihal akhirat, kita harus lihat ke
atas (orang-orang yang lebih dulu bersemangat dalam ibadahnya kepada Allah).
Cerita santai saja ya,
aku tidak mempersiapkan begitu banyak bahan tulisan untuk akhir-akhir ini,
seperti halnya konten cerita pertamaku di blog, tentu ini akan menjadi pemantik
semangat buat aku untuk bisa lebih disiplin dalam membagi waktu.
Sebenarnya aku punya target
untuk menulis di blog setiap minggunya, Qadarullah belum diijinkan setiap
minggunya karena masih kelabakan dengan tugas akhir yang diburu oleh deadline,
dan Alhamdulillah masih diberikan rasa semangat dari Allah buat nulis sesekali,
mungkin bisa sekali dalam sebulan, dengan intensitas yang jarang dan sudah
pasti jauh dari kata target yang diinginkan, tidak apa-apa ya kita sama-sama
belajar untuk mensyukuri setiap apa yang Allah berikan untuk kita.
Jadi dalam konten cerita kali
ini aku mau menyampaikan apa yang aku dapatkan dari beberapa pesan dakwah dari
salah satu Ustadz favorit-ku, Ustadz Adi Hidayat, semoga Allah terus memberikan
kesehatan dan perlindungan untuk beliau aamiin.
Setiap manusia yang masih
dikatakan hidup, tidak akan terlepas dari yang namanya ujian, ya..kita sama,
kita gak sendirian kok, kalau kamu ngerasa kamu sendiri, kamu salah besar,
setiap orang itu pasti pernah ngerasain di uji oleh Allah. Lalu kenapa ya Allah
menguji hambaNya? Ujian bukan berarti menandakan Allah begitu tega
dengan hambaNya, wah salah besar ternyata, malahan Allah itu sayaaaangg bangeet
sama hambanya.
Ujian dijadikan sebagai tanda rasa cinta-Nya Allah kepada
seorang hamba, kalau tidak diuji berarti Allah gak sayang sama kita? Kembali
lagi ke pernyataan pertama..setiap manusia yang masih dikatakan hidup, tidak
akan terlepas dari yang namanya ujian, jadi kalau mau bertanya hal tersebut
tanyakan dulu, kamunya masih hidup apa gak hehe bercanda..
Sudah pasti Allah tetap sayang kepada setiap hambaNya, mau
dalam kondisi apapun itu hambaNya, Rahmat Allah senantiasa selalu ada
untuk kita.
Alasan yang aku ketahui dari pesan dakwah beliau---mengapa
Allah menguji hambaNya, karena Allah ingin menggugurkan dosa hambaNya yang
sedang diuji, dan Allah ingin mengangkat derajat hambaNya untuk bisa lebih
dekat lagi kepadaNya. MasyaAllah wa tabarakallah.. ini alasan yang baru aku
ketahui, mungkin masih banyak lagi alasan-alasan Allah yang belum diketahui
oleh kita karena terbatasnya ilmu kita dibandingkan dengan ilmu Allah Sang Maha
Menguasai Ilmu.
Tetapi dengan dua alasan dari pesan-pesan dakwah yang
biasanya aku dengarkan, sudah membuat aku semakin takjub sama Kuasa Allah. Terkadang
kita memang harus berjeda dulu dengan tugas dunia, untuk menemukan
jawaban-jawaban dari pertanyaan diri yang suka mengusik mepertanyakan takdirNya.
La haula wala quwwata illa billah.
Bisa jadi orang yang diuji dengan sakit, bukan menjadi
sembuh yang diinginkan oleh Allah, malahan lebih “so sweet” ternyata
alasan Allah yang sebenarnya, kalau kita mau meyakini alasan Allah mengapa
memberikan kita sakit---itu karena Allah ingin jadikan sebuah rasa
sakit pada diri kita sebagai alasan Allah ingin lebih dekat kepada kita.
Pernyataan tersebut yang disampaikan oleh Ustadz Adi, jujur
ini pernyataan langsung jleb di hati, karena hati ini sering
sekali lalai dalam memaknai setiap ujian yang Allah berikan. Jadi prinsipnya,
ujian dari Allah itu sebagai bentuk rasa sayangnya Allah kepada kita, Allah
ingin kita kembali mendekat kepadaNya. MasyaAllah.
Soal hati yang ikhlas dan sabar dalam menjalani setiap
ujian, kalau ditanya apakah kita ikhlas atau tidak, itu memang susah banget
mendefinisikannya, teman.
Ada yang bilang atau kalian pernah baca postingan ig “Ikhlas
itu bisa digambarkan seperti surat Al Ikhlas yang gak ada sebutan ikhlas
didalamnya”
Kalau mau bener-bener tahu apa gak diri ini ikhlas, mending
gausah dipertanyakan deh oleh diri tentang keikhlasan kita, jalani saja, tanda
ikhlas itu ketika hati sudah mulai menerima dan menyanggupi apa yang
sudah menjadi kehendak Allah kepada kita termasuk ujian, tanpa mengungkit apa
yang sudah dilalui oleh kita sebelum masalahnya datang, tanpa menanyakan kenapa
ya ini bisa terjadi.
Dengan kata ikhlas dan sabar, akan mudah rasanya kita
melalui semua, eits sebelumnya ikhlas dan sabar gak datang begitu aja…
Walaupun memang Allah akan memberikan apapun itu sebelum
diminta hambaNya bahkan hambaNya tidak meminta sama sekali. Tetapi untuk
perkara hidup, seperti kita mendapat ujian, penting sekali untuk memohon kepada
Allah untuk diberikan hati yang ikhlas, sabar, kuat dan tenang dalam menjalani
setiap permasalahan hidup.
Memohon hati yang ikhlas dan sabar harus senantiasa kita
sertakan dalam do’a teman, karena yang Maha Membolak-balikkan hati kan Allah,
Allah punya kuasa penuh soal hati kita, alangkah ”so swet”nya kan
kalau kita ijin dulu untuk merasakan suatu hal kepada Sang Pemilik Hati kita
yang sebenarnya.
Aku merasakan begitu baik kuasa Allah, yang aku butuhkan
memang solusi dari setiap ujian yang aku hadapi. Tetapi ternyata solusi itu
sangat sederhana dan bahkan terlupakan memasukkan hal ini dalam kategori solusi
yang Allah berikan, yang sebenarnya kita butuhkan itu gak jauh-jauh dari
kita, solusi yang Allah berikan bukan saja mengenai “apa jalannya apa
outcome dari permasalahan itu” dtetapi lebih dari itu---Allah memberikan solusi
tentang “bagaimana kita bisa mudah dalam proses kita dalam menghadapi cobaan”
salah satunya perkara hati ini teman.
Perkara sabar dan ikhlas itu sebenarnya termasuk solusi
yang Allah berikan untuk kita.
Kalau hati kita udah ikhlas, sabar, terus percaya sama
Kuasa Allah, yakin deh dengan mudahnya Allah akan mendekatkan kita kepada
tujuan kebaikan atas permasalahan dunia yang kita dapatkan.
Yang pasti tujuan kita sama tujuan Allah itu ada bedanya,
mungkin kebanyakan manusia ingin mendapatkan outcome dunia dari permasalahan
hidupnya, tetapi mungkin tujuan Allah sebenarnya ingin manusia untuk
mendapatkan outcome yang bisa jadi bekal di akhiratnya, mungkin dari ujian yang
Allah berikan kepada kita adalah cara Allah membukakan pintu hidayah untuk
kita,
MasyaAllah so sweet--nya Allah, kita harus juga
bisa so sweet ke Allah.
Perkara soal hati yang ikhlas itu juga tidak
membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain, teman. Seperti halnya bulan
dan matahari, keduanya punya waktu bersinar yang bebeda. Jadi jangan merendah
jika orang lain mendapatkan sesuatu yang kamu ingini tetapi kamu sendiri belum
mendapatkannya, tenang ini cuma soal waktu—seperti matahari dan
bulan saja yang punya waktunya masing-masing untuk bersinar.
Ah pelajaran hidup ini membuat aku
semakin aku lega, dan sangat bersyukur kepada Allah..
Kalau kamu jenuh dengan hidupmu, mungkin
itu saatnya kalian untuk berjeda dulu dengan tugas dunia
Kalian juga bisa mendengarkan ceramah
Ustadz Adi di link berikut..
- Dengarkan,Ketika Anda Lagi Banyak Masalah
- HaruskahMengeluh Ketika Ada Masalah
- Motivasi Kehidupandari Ustadz Adi Hidayat LC, MA:
Semoga Bermafaat



0 $type={blogger}
Terimakasih sudah membaca, mohon beri komentar yang bijak dan sesuai dengan topik yang dibahas