Berjeda Dulu dari Tugas Dunia

by - March 01, 2019

Kita bisa lalui semuanya kan? 

Ketika itu kita saling bertanya satu sama lain, saling menguatkan pinta dalam hati kita. Sebenarnya sudah tahu akan jawaban dari lawan bicara, sudah pasti ia akan menguatkan diri ini. Seringkali pertanyaan itu terulang kemabali, bertanya akan kesanggupan dari seorang hamba yang penuh dengan kelemahan. 

Aku dan teman lawan bicaraku sedang mempertanyakan hal itu. Bagi kita, saling menguatkan itu sangat dibutuhkan. Ketika diri ini belum dapat menemukan nur cahaya disaat masalah datang, seringkali lisan ini nakal menanyakan sesuatu yang dilatarbelakangi oleh hilangnya rasa kepercayaan, tepatnya mungkin meragukan apa yang sudah menjadi prinsip Allah untuk setiap hambanya.

Ceritaku kali ini tidak terlepas dari cerita-cerita yang kemarin, masih sendu sebagai latar suasananya. Sendu yang dirasa boleh saja, ketika itu masih dalam batas kewajaran, dan tidak merasa terpuruk terus yang berlebihan. Kita masih punya Allah kan? Saat ini, kita sama-sama berjuang teman, aku ingin sekali untuk bisa segera menyelesaikan ini semua (tugas akhir) dan kembali ke tempat tinggalku untuk bisa lebih banyak waktu berbakti kepada kedua orang tua. 

Ah ini dimasa-masa kritis “kepercayaan” jika diteruskan dengan bertemankan kesedihan, yang ada malah ujungnya rasa penyesalan diri karena telah memutuskan merantau. Jangan begitu, apa yang sudah terjadi, biarkanlah itu terjadi, sesal yang dirasa hanya akan memberatkan hati dan pikiranmu saja, lebih baik kita ambil hikmahnya dan terus bersemangat melangkahkan kaki untu hari-hari esokknya.

Kembali ke pertanyaan awal, Kita bisa lalui semuanya kan? Aku kembali membuka pikiranku, dan bersyukur sekali—memang kita harus punya pemicu untuk menjernihkan pikiran, salah satunya dengan dengerin ceramah. Biasanya kalau sedang bertugas di depan laptop, susah untuk aku menyambinya dengan mendengarkan pesan-pesan dakwah, yang ada nih..malah dengerin musik kadang musik positif, kadang instrument aja, kadang yaa musik jaman nowyou know-lah. 
  
Kebiasaan ini udah dari dulu SMA, sambil belajar dengerin musik. Pengecualian di kondisi seperti ini, aku jadi tidak bisa fokus ngerjain tugas dengan mendengarkan musik yang biasanya aku dengarkan, dan ketika aku mencoba untuk dengerin ceramah, mengalir begitu saja—alhamdulillah, aku bisa fokus kembali (mungkin ini cara Allah buat aku bisa tenang dalam menghadapi cobaan). 

Entah kenapa rasa sendiri yang aku rasakan akhir-akhir ini membuat aku menerima banyak sekali pelajaran, khususnya dalam menanggapi sebuah cobaan hidup. Wah berat ya istilahnya, padahal ini belum seberapa berat loh  teman cobaan hidup kita, kalau kita mau melihat ke bawah, masih banyak orang yang tidak seberuntung kita. 

Maka kalau soal perihal duniawi, lihatlah kebawah, beda kalau soal perihal akhirat, kita harus lihat ke atas (orang-orang yang lebih dulu bersemangat dalam ibadahnya kepada Allah).

Cerita santai saja ya, aku tidak mempersiapkan begitu banyak bahan tulisan untuk akhir-akhir ini, seperti halnya konten cerita pertamaku di blog, tentu ini akan menjadi pemantik semangat buat aku untuk bisa lebih disiplin dalam membagi waktu. 

Sebenarnya aku punya target untuk menulis di blog setiap minggunya, Qadarullah belum diijinkan setiap minggunya karena masih kelabakan dengan tugas akhir yang diburu oleh deadline, dan Alhamdulillah masih diberikan rasa semangat dari Allah buat nulis sesekali, mungkin bisa sekali dalam sebulan, dengan intensitas yang jarang dan sudah pasti jauh dari kata target yang diinginkan, tidak apa-apa ya kita sama-sama belajar untuk mensyukuri setiap apa yang Allah berikan untuk kita.

Jadi dalam konten cerita kali ini aku mau menyampaikan apa yang aku dapatkan dari beberapa pesan dakwah dari salah satu Ustadz favorit-ku, Ustadz Adi Hidayat, semoga Allah terus memberikan kesehatan dan perlindungan untuk beliau aamiin. 

Setiap manusia yang masih dikatakan hidup, tidak akan terlepas dari yang namanya ujian, ya..kita sama, kita gak sendirian kok, kalau kamu ngerasa kamu sendiri, kamu salah besar, setiap orang itu pasti pernah ngerasain di uji oleh Allah. Lalu kenapa ya Allah menguji hambaNya? Ujian bukan berarti menandakan Allah begitu tega dengan hambaNya, wah salah besar ternyata, malahan Allah itu sayaaaangg bangeet sama hambanya. 






Ujian dijadikan sebagai tanda rasa cinta-Nya Allah kepada seorang hamba, kalau tidak diuji berarti Allah gak sayang sama kita? Kembali lagi ke pernyataan pertama..setiap manusia yang masih dikatakan hidup, tidak akan terlepas dari yang namanya ujian, jadi kalau mau bertanya hal tersebut tanyakan dulu, kamunya masih hidup apa gak hehe bercanda.. 

Sudah pasti Allah tetap sayang kepada setiap hambaNya, mau dalam kondisi apapun itu hambaNya, Rahmat Allah senantiasa selalu ada untuk kita

Alasan yang aku ketahui dari pesan dakwah beliau---mengapa Allah menguji hambaNya, karena Allah ingin menggugurkan dosa hambaNya yang sedang diuji, dan Allah ingin mengangkat derajat hambaNya untuk bisa lebih dekat lagi kepadaNya. MasyaAllah wa tabarakallah.. ini alasan yang baru aku ketahui, mungkin masih banyak lagi alasan-alasan Allah yang belum diketahui oleh kita karena terbatasnya ilmu kita dibandingkan dengan ilmu Allah Sang Maha Menguasai Ilmu. 

Tetapi dengan dua alasan dari pesan-pesan dakwah yang biasanya aku dengarkan, sudah membuat aku semakin takjub sama Kuasa Allah. Terkadang kita memang harus berjeda dulu dengan tugas dunia, untuk menemukan jawaban-jawaban dari pertanyaan diri yang suka mengusik mepertanyakan takdirNya. La haula wala quwwata illa billah.

Bisa jadi orang yang diuji dengan sakit, bukan menjadi sembuh yang diinginkan oleh Allah, malahan lebih “so sweet” ternyata alasan Allah yang sebenarnya, kalau kita mau meyakini alasan Allah mengapa memberikan kita sakit---itu karena Allah ingin jadikan sebuah rasa sakit pada diri kita sebagai alasan Allah ingin lebih dekat kepada kita. 

Pernyataan tersebut yang disampaikan oleh Ustadz Adi, jujur ini pernyataan langsung jleb di hati, karena hati ini sering sekali lalai dalam memaknai setiap ujian yang Allah berikan. Jadi prinsipnya, ujian dari Allah itu sebagai bentuk rasa sayangnya Allah kepada kita, Allah ingin kita kembali mendekat kepadaNya. MasyaAllah.

Soal hati yang ikhlas dan sabar dalam menjalani setiap ujian, kalau ditanya apakah kita ikhlas atau tidak, itu memang susah banget mendefinisikannya, teman.  

Ada yang bilang atau kalian pernah baca postingan ig “Ikhlas itu bisa digambarkan seperti surat Al Ikhlas yang gak ada sebutan ikhlas didalamnya” 

Kalau mau bener-bener tahu apa gak diri ini ikhlas, mending gausah dipertanyakan deh oleh diri tentang keikhlasan kita, jalani saja, tanda ikhlas itu ketika hati sudah mulai menerima dan menyanggupi apa yang sudah menjadi kehendak Allah kepada kita termasuk ujian, tanpa mengungkit apa yang sudah dilalui oleh kita sebelum masalahnya datang, tanpa menanyakan kenapa ya ini bisa terjadi. 

Dengan kata ikhlas dan sabar, akan mudah rasanya kita melalui semua, eits sebelumnya ikhlas dan sabar gak datang begitu aja… 

Walaupun memang Allah akan memberikan apapun itu sebelum diminta hambaNya bahkan hambaNya tidak meminta sama sekali. Tetapi untuk perkara hidup, seperti kita mendapat ujian, penting sekali untuk memohon kepada Allah untuk diberikan hati yang ikhlas, sabar, kuat dan tenang dalam menjalani setiap permasalahan hidup. 

Memohon hati yang ikhlas dan sabar harus senantiasa kita sertakan dalam do’a teman, karena yang Maha Membolak-balikkan hati kan Allah, Allah punya kuasa penuh soal hati kita, alangkah ”so swet”nya  kan kalau kita ijin dulu untuk merasakan suatu hal kepada Sang Pemilik Hati kita yang sebenarnya.

Aku merasakan begitu baik kuasa Allah, yang aku butuhkan memang solusi dari setiap ujian yang aku hadapi. Tetapi ternyata solusi itu sangat sederhana dan bahkan terlupakan memasukkan hal ini dalam kategori solusi yang Allah berikan, yang sebenarnya kita butuhkan itu gak jauh-jauh dari kita, solusi yang Allah berikan bukan saja mengenai “apa jalannya apa outcome dari permasalahan itu” dtetapi lebih dari itu---Allah memberikan solusi tentang “bagaimana kita bisa mudah dalam proses kita dalam menghadapi cobaan” salah satunya perkara hati ini teman. 

Perkara sabar dan ikhlas itu sebenarnya termasuk solusi yang Allah berikan untuk kita. 

Kalau hati kita udah ikhlas, sabar, terus percaya sama Kuasa Allah, yakin deh dengan mudahnya Allah akan mendekatkan kita kepada tujuan kebaikan atas permasalahan dunia yang kita dapatkan. 

Yang pasti tujuan kita sama tujuan Allah itu ada bedanya, mungkin kebanyakan manusia ingin mendapatkan outcome dunia dari permasalahan hidupnya, tetapi mungkin tujuan Allah sebenarnya ingin manusia untuk mendapatkan outcome yang bisa jadi bekal di akhiratnya, mungkin dari ujian yang Allah berikan kepada kita adalah cara Allah membukakan pintu hidayah untuk kita, 

MasyaAllah so sweet--nya Allah, kita harus juga bisa so sweet ke Allah.

Perkara soal hati yang ikhlas itu juga tidak membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain, teman. Seperti halnya bulan dan matahari, keduanya punya waktu bersinar yang bebeda. Jadi jangan merendah jika orang lain mendapatkan sesuatu yang kamu ingini tetapi kamu sendiri belum mendapatkannya, tenang ini cuma soal waktu—seperti matahari dan bulan saja yang punya waktunya masing-masing untuk bersinar.





Ah pelajaran hidup ini membuat aku semakin aku lega, dan sangat bersyukur kepada Allah..
Kalau kamu jenuh dengan hidupmu, mungkin itu saatnya kalian untuk berjeda dulu dengan tugas dunia

Kalian juga bisa mendengarkan ceramah Ustadz Adi di link berikut..

Semoga Bermafaat





You May Also Like

0 $type={blogger}


Terimakasih sudah membaca, mohon beri komentar yang bijak dan sesuai dengan topik yang dibahas