Belajar untuk Menerima

by - February 16, 2019


Bersyukurlah, jika kamu masih bisa pulang ke rumah untuk menemui orang tuamu, kakakmu, adikmu, atau orang terkasih, karena itu menjadi hal yang paling dirindukan anak rantau jika lama tak berpulang atau seperti aku ini mudah saja langsung merindu sehabis pulang yang padahal baru saja bertemu orang terkasih. Aneh, tetapi itulah yang terjadi. Jika kamu bilang ini lebai atau berlebihan, mungkin kamu belum mengenal dekat dengan perasaanya.

Seminggu pertama, rasanya banyak sekali pelajaran yang aku dapatkan. Bersyukur yang harus aku ucap, disaat sendiri yang aku rasa, masih ada Allah yang tetap menguatkan aku. Pilihan jalan hidup yang sudah seharusnya aku terima, untuk tidak berhenti di satu titik, mengakhiri perjuangan ini, terlebih ketika aku mengingat kembali perjuangan kerasku untuk mendapatkan bangku kuliah. Ini yang sudah ku duga, aku akan berprasangka yang tidak-tidak dengan keadaan. 

Persoalan hati untuk menerima lebih tepatnya, karena tak mudah bagiku untuk memulai perantauan dengan sendirinya—ya, biasanya ada kakak yang bisa jadi tempat andalanku untuk pulang, rehat sejenak dari dunia kampus, dan menceritakan serba-serbi yang aku rasakan, aku ceritakan semuanya. Tetapi rasanya berbeda, pulang kali ini rasanya berbeda, aku merasakan benar-benar sendiri.

Entahlah, dikatanya berlebihan. Aku juga bingung untuk bertanya alasannya mengapa, bahkan kepada diriku sendiri, aku bingung untuk mengakui bahwa aku masih ingin tetap bersama, lebih tepatnya malu untuk mengakui. Tak tertahan dengan segala kepura-puraan untuk tetap tersenyum, akhirnya mengalir begitu saja air mata disepanjang satu minggu ini. Ah ini terlalu berlebihan memang, tetapi itulah yang terjadi. 

Aku baru meyadari aku merasakan kehilangan, aku merasakan benar-benar sendiri di tanah rantau, dan yang membuat sedih mendalam adalah ketika aku lupa bahwa yang aku katakan bukanlah yang sebenarnya terjadi---aku tidak benar-benar sendiri, harusnya aku sadar bahwa aku tidak sendiri, karena ada Allah. Disaat itulah, aku baru menyadari, apa yang seharusnya aku tangisi. Imanku, kemana ia pergi?

Aku merasakan ada yang hilang namun Allah mengizinkan juga ada yang mendekat, untuk menenangkan.

Disaat itu, aku benar-benar baru menyadari bahwa berartinya seseorang yang sudah lama bersamaku, termasuk teman sesama perantauan. Bersyukur sekali dipertemukan dengan teman yang sudah mau mendengar setiap perkataanku yang tidak jelas karena berlomba dengan isak-isak cengengku.

Aku belum pernah memang melihatnya sedih, dan lucu juga—menyuruhnya untuk menangis, baru menyadari bahwa aku pertama kali yang blak-blakan memperlihatkan kesedihan ini, ah harusnya aku menunggu dia untuk bersedih sambil bercerita, biar aku yang menang dengan segala perjuangan hidup di perantauan, yaa—memang harus aku akui  aku yang kalah. Tetapi bagi dia, pastinya ini bukanlah sebuah perlombaan kekuatan, dia sangat menerima segala keluh kesahku, bahkan rasanya aku kehilangan urat maluku, yang sudah terlanjur menangis didepannya, dia memakluminya. 

Katanya ini bukanlah persoalan “kamu cengeng atau engga mba”. Karena kamu memang butuh untuk bercerita, untuk berbagi, jangan merasa sendiri. Ah tersadar kembali, aku melupakan sosok teman di kehidupanku.

Terimakasih ya nada, sudah mau berbagi beban denganku. Katanya, beban jangan diambil terus dilahap sendirian, bagaikan sebuah makanan, bagilah ke orang yang benar-benar kamu ingin kasih. Karena yang namanya beban, tidak akan sanggup jika kamu membawanya sendiri, apalagi mengubur terlalu dalam akan menjadi penyakit bahkan sulit buat kamu untuk menerimanya, jika kalau beban memang harus dibagi,bagilah ke orang yang tepat, dan lebih baiknya lagi bagilah untuk mencari solusi kepadaNya---untuk bercerita kepada Allah. 

MasyaAllah, begitu baik dan indah cara Allah menyadarkan aku untuk tetap kuat dan menghargai orang-orang disekitarku. Bagiku, inilah saatnya untuk belajar menerima, belajar untuk tetap kuat, dan menyandarkan segala pengharapan kita hanya kepada Allah saja. Terlebih lagi, aku diajak belajar olehNya, diberi nikmat kesempatan untuk menyusun kembali imanku, bahwa aku tidak sendirian, dimanapun aku berada, jika aku tetap terus mengingat Allah, maka Allah akan juga terus mengingatku, membersamaiku, itu yang sudah menjadi janjiNya bagi orang-orang yang beriman. Bersemangatlah diri!





(ini cocok untuk cover film "The Girl on Camellia"😀)




You May Also Like

0 $type={blogger}


Terimakasih sudah membaca, mohon beri komentar yang bijak dan sesuai dengan topik yang dibahas