Dialog Hati : Menanggapi Status di Sosial Media

by - May 19, 2020



Ada ‘titik’ dimana kamu impikan namun belum bisa sampai kesana. Jangan berpikir untuk mengutuk diri, percayalah pengembaraan ini selalu tertahan pada 'koma’. Dimana pada penggalan cerita ini seharusnya dapat dimanfaatkan dirimu untuk bermuhasabah dan belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Kali ini biarkan aku kembali berdialog dengan hati. Satu topik cerita sedang bergeming keras di pikiran ini. Sebenarnya, hanya persoalan sudut pandang dalam menanggapi sebuah takdir.
Sebuah perumpamaan hidup, jika tak mencari maka tak ditemukan. Mungkin kiranya itulah perjuangan untuk tetap hadir di dunia. Aku pun juga sedang melakukan hal yang sama, yang membedakan hanyalah garis takdir masing-masing dari kita
Masalahnya bukan mereka, namun lagi pada permasalahan sudut pandangku. Jika aku tak berdamai, aku akan terus-terusan merasa tak percaya diri akan Ketetapan Allah yang sudah digariskan padaku.
Cermin Diri
Perlahan aku mengeja kata-kata yang tertulis olehnya. Awalnya payah lisan ini mengiakan kebenaran. Bahwa diatas langit, masih ada langit. Namun mengapa, banyak orang yang ku kenal seakan tak mempedulikan. Ku bilang 'seakan’ tak sepenuhnya benar dalam menduga. Aku lupa, sendirinya aku pun lalai dalam berkaca. Tabiat insan yang tak jauh dari kemasyhuran.
Seakan ku dibuat diam, apa yang juga terjadi pada kehidupanku pada tempo lalu. Aku pernah merasakan bepergian jauh. Kemudian, ku kabarkan pada sebuah medium. Namun, apa salah yang dilakukan oleh orang jika pernah ku lakukan hal yang sama pada tempo lalu? Kenapa menyempit lalu terkekeh setelah menyadari ada yang keliru?

Hai kamu, yang diposisi sama denganku sekarang. Tak ingin berkabar pada dunia, kemana, dimana, sedang apa kita sekarang ini. Aku belajar untuk tidak membagikan momen kepada siapapun. Karena memang bagiku, tak ada momen spesial yang bisa ku bagi sekarang ini, aku hanya ingin belajar menikmati porsi hidupku sendiri dan bersama orang-orang dalam momen itu secara langsung. Itulah mengapa saat ini aku ingin menjadi orang yang hadir dan utuh, namun terkadang perlu juga tempat untuk menyimpan kenangan dari momen itu, percayalah aku juga sedang belajar.

Aku diingatkan keberadaan akan langit di atas langit. Kita tidak sepatutnya larut lalu meninggi atas apa yang terima oleh kita.

Terkadang diri ini harus keras dalam 'menyaring’, agar bisa tepat dalam berbagi momen namun tak menyakiti hati orang lain. Tentu di bagian ini aku pun masih belajar. Cara pandang minimalis kata orang, namun jangan disalahartikan tak ada perjuangan keras didalamnya. Karena sejatinya meyimpan kelebihan dari apa yang ingin kita pertontonkan, terlebih sangatlah tidak mudah. Dan dari situlah minimalis bukan berarti semuanya tak ada perjuangan.
Hai juga untuk dirimu, yang terkadang masih seperti aku, yang masih suka mencari tahu kehidupan orang dan lalai dalam penerimaan diri. Kamu tidak sendirian, jangan menyangkal jika ada perasaan tidak percaya diri hadir. Jangan menyalahkan juga orang-orang yang 'mempertontonkan’. Kembali, ini persoalan sudut pandang. Aku dan kamu sejatinya perlu merubah lensa dari kacamata sudut pandang kita. Tugasmu hanyalah menerima, berdamai, dan ikhlas saja. Lebih baik lagi jika suatu saat nanti kamu sudah bisa merasakan di posisi yang kamu inginkan, juga memikirkan apa yang dirasa oleh orang pada pemikiranmu yang lampau. Terus sertakan kata simpati jika kamu merasa 'paling hebat’. Ingatlah, diatas langit masih ada langit.
Tulisan ini sebenarnya terinpirasi oleh kata-kata ini
Ustadz Salim A Fillah pernah mengatakan sungguh beruntung mereka yang tak dikenal di bumi, namun terkenal di langit ketika hidup. Lalu Allah buat Ia dikenal penghuni bumi baru ketika sudah tiada di dunia. Ia dijaga oleh Allah dari penyakit-penyakit hati di dunia karena keterkenalannya. Tak selamanya kemuliaan seseorang itu diukur dari seberapa banyak orang yang mengenal dan mengapresiasinya.(Dikutip dari tulisan dari tumblr senjaya : Yang Tak Terlihat dan Tak Terdengar, Boleh Jadi Lebih Utama)

Sebuah gambaran dunia yang baru. Kita tidak perlu menanyakan kabar, dengan sendirinya sorangan akan berkabar dengan kita, bukankah kamu merasa begitu?  Dengan menampilkan kehidupannya sekarang agar untuk dikenal—dialah yang mempunyai kesibukkan diatas segala pencapaian dirinya, namun sorangan disana bahkan kamu wahai diri, apakah tidak memikirkan hati yang lain, yang mungkin saja tersakiti dengan apa yang kamu kabarkan pada dunia?

©Yogyakarta, 9 Mei 2020


Sangat direkomendasikan membaca tulisan ini, sangat menginspirasi! 





You May Also Like

0 $type={blogger}


Terimakasih sudah membaca, mohon beri komentar yang bijak dan sesuai dengan topik yang dibahas