14 Days+ in Yogyakarta!

by - December 29, 2022

Dedaunan hijau menjadi pemandangan pertama yang aku lihat di balik kamar. Ditambah hasil kreasi tangan Papa membuat bonsai yang ditata rapi di halaman. Suhu kamar yang tanpa pendingin ruangan pun sudah berhasil membuat aku menarik erat selimut di pagi hari. Sesekali hujan datang menyapa di sore hari, ditemani oleh kilat dan langit abu pekat. Aku sangat bersyukur bisa kembali pulang di kota ini, kembali bertemu dengan orang-orang yang ku sebut "rumah". Walau suhu menunjukkan 23 derajat celcius di pagi hari dan berkurang 2 derajat lebih tinggi di siang hari, aku tetap merasakan hangat karena bisa berkumpul kembali bersama keluarga. Siang ini, tidak terlalu terik, malah awan utara masih dengan nakal menutupi matahari, membuat gradasi langit yang seakan membuat sinyal pertanda hujan akan turun. 

Foto : Gunung Merapi by IG @indoflashlight


Tidak banyak tempat yang aku kunjungi. Rasanya nyaman untuk berlama di rumah terutama di kamarku yang sudah berbulan-bulan aku tinggalkan. Tidak banyak wajah yang aku temui di kota ini, Walaupun demikian aku sangat bersyukur wajah yang aku rindukan bisa aku temui--Mama, Papa,  anak lanang keponakan onti dan tiga kakak (yang seperti biasanya mereka bersatu untuk meledek adiknya), dan tidak lupa teman dekatku sewaktu SMA. 


Aku bersyukur kepulanganku di penghujung akhir tahun ini banyak aku habiskan untuk keluarga. Makan bersama setiap malam; membuat zuppa soup; membuat kue croissant dengan aneka topping; makan kebab kesukaan; makan mie afui palembang; makan bubur krecek di pagi hari; makan bakso Presiden Malang sewaktu mama dan papa pulang dari Malang (bakso kesukaan sewaktu masa kecil di Malang); olahraga pagi bersama sambil disuguhkan pemandangan Gunung Merapi; menyampaikan impian-impian ke Mama dan Papa (supaya dido'akan dan menjadi kenyataan); berdiskusi soal anime, berdiskusi soal ide usaha sama mas; mengenalkan kesukaan baruku ke mba (re: sedang sukanya mendengar lagu mandarin wkwk), dan seringkali saat ketiga kakak berkumpul di rumah--aku biasa menjadi bahan ledekan mereka 😤 tapi aku tahu mereka hanya bercanda, dan berbaik sangka saja, mereka mempunyai bahasa sayang yang unik kepada adiknya (meski begitu, aku masih sulit mempercayainya 😒)


Alhamdulillah


Aku sangat bersyukur aku bisa menikmati momen-momen yang sederhana seperti itu, dan bisa merasa bahagia akan hal itu. 


Di akhir aku mau share playlist mandarin ku, yang semoga bisa bermanfaat bagi teman-teman yang bosan dengan playlist-nya itu-itu mulu.. yaa, maybe ada yang suka..





©Yogyakarta, 29 Desember 2022

You May Also Like

0 $type={blogger}


Terimakasih sudah membaca, mohon beri komentar yang bijak dan sesuai dengan topik yang dibahas