Beranjak Dewasa

by - March 03, 2022

Melangkah sendiri memang tidak mudah, apalagi bayang-bayang rasa takut sering menemani di setiap perjalanan hidup. Oh ini rasanya beranjak dewasa, tak seperti harap yang dulu pernah terbayang. Tak seperti halnya burung dengan kedua sayapnya dapat bebas berkeliaran, berpindah satu tempat ke tempat lain, menemui kawanan burung lainnya, dan menetap pada tempat yang ingin disinggahi. Kaki ini sungguh payah menentukan tempat persinggahan, menyamarkan semua rasa takut untuk tetap berdiri kuat. Ah lagi-lagi di persimpangan jalan yang mempertanyakan sebuah keputusan. Memilih untuk tetap berada disini atau berpulang pada kenyamanan atau bahkan mencari tempat baru. 

Hari-hari berlalu semakin terasa lama bila tak diyakini hati akan bisa melaluinya. Menemukan kedamaian pada kampung halaman menjadi ragu untuk dirasakan kembali. Karenanya ada yang menaruh harapan pada pundak yang nyatanya tak begitu kuat. Nyatanya begitu membutuhkan sandaran juga. Harap demi harap, kian terasa jelas tersampaikan. Bahwa diri bukanlah seorang kanak-kanak yang riang bermain di taman sulfat dulu. Bahwa diri bukanlah anak ragil yang selalu melekat dekat dengan orang tuanya. Menyadari bahwa kehidupan ini akan membawa diri pada babak baru. Iya babak baru, yang penuh ketidakpastian.

Menghela nafas, menarik diri pada jangkar kesadaran. Hari ini belum berakhir. Bukankah Tuhan masih baik memberi kehidupan? Bukankah Tuhan tidak pernah meninggalkan kita sendiri? Sering saja lupa akan kuasa Nya menjadi dalih mengapa kita sering menghindar dari tantangan kehidupan. Padahal sudah sungguh baik petunjuk yang diberikan Tuhan, namun seringkali lalai menjadi teman kita. 




Berlari mungkin menjadi pilihan banyak orang untuk mencapai tujuan pada tepat waktunya, namun adakalanya berjalan menjadi pilihan yang tepat untuk menikmati setiap keindahan perjalanan yang mungkin tidak terlihat ketika kita melaju cepat. Berbicara mungkin menjadi pilihan banyak orang untuk memperdengarkan jelas suaranya kepada orang lain, namun adakalanya menulis menjadi pilihan yang tepat untuk mengutarakan hati kepada orang lain. Pilihan-pilihan hidup yang sebenarnya memiliki dua sisi hitam dan putih. 

Tidak ada satupun orang yang tahu tentang hari esok. Dan bukan tugas kita untuk menentukan pilihan hidup, karenanya ada Dzat yang Maha Menentukan Takdir. Namun bukan maksud untuk berdiam diri tanpa melakukan sebuah perjalanan. Tetaplah melaju, merencanakan suatu hal yang baik di hari esok, dan taruhlah harap pada Tuhan Yang Maha Esa saja. Kecewa adalah hal yang wajar untuk dirasakan ketika kita menemui hal yang tidak sesuai keinginan kita, tidak apa-apa. karena kita seorang manusia yang memiliki keterbatasan ilmu dibanding Tuhan yang maha Berilmu, bukankah setiap kejadian yang Tuhan berikan tersimpan hikmah yang baik untuk kita? 


© Jakarta, 3 Maret 2022

Sumber Foto : https://bgr.com/science/dandelion-seeds-wind-physics/


You May Also Like

2 $type={blogger}

  1. tulisan refleksi diri yg menarik. sy mencoba meraba benak penulis, apakah sedang galau untuk berpindah tempat?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah sebelumnya terima kasih sudah membaca tulisan saya kak 🙏
      haha sepertinya mudah ditebak ya, betul kak
      sebenarnya ini refleksi diri yang merasa kalau saat beranjak dewasa itu banyak keputusan-keputusan yang diambil bukan berdasarkan keinginan dirinya sendiri (ya begitulah kak, panjang kalau diceritain haha)

      Delete


Terimakasih sudah membaca, mohon beri komentar yang bijak dan sesuai dengan topik yang dibahas