Setia Menunggu

by - June 15, 2020



“Apakah benar yang kamu katakan, setia menunggu? Sampai detik ini pun, masih setia menunggu atas sebuah ketetapan? Kamu hebat! Aku iri padamu”

Siapa yang tak lelah ketika ditugaskan ‘menunggu’? Jujur, aku selalu tidak mau ambil bagian tugas untuk 'menunggu’, aku selalu hindari apapun itu bentuk 'menunggu’, karena membuat waktuku hanya terbuang pada satu tujuan yang tak pasti.
Aku salah selama ini dalam mengartikan kata 'menunggu’. Nyatanya, walaupun aku keras kepala sekali tidak ingin mengambil porsi untuk bertugas 'menunggu’, tetap saja aku dihadapkan dengan persoalan ini. Sudah mencoba menghindari dan berusaha menjemput, tetapi tersadar.. Bukankah jika ingin mencapai satu tujuan, kita harus melalui beberapa proses, kita sedang di masa 'menunggu’ bukan?
Iya benar, aku iri dengan sorangan disana yang masih memegang teguh iman di masa 'menunggu'nya. Terimakasih telah setia menunggu, terimakasih telah menjadikan masa menunggumu menjadi momen yang tepat untuk mengakar pada keimanan.

Jeda diantara Kelana
Seorang penghuni, tak selamanya betah berdiam lama pada satu tempat. Ia akan terus mencari harapan untuk tetap menyambung kehidupannya. Sejatinya sorangan berdiam lama pada satu titik. Berkumpul ramai, bukan hanya menjadi sendiri yang dipunyanya.
Manusia lain yang bersamanya juga menunggu. Menunggu waktu yang tak pasti. Menunggu telah mengantarkan pada sebuah tanda tanya besar, makin ditunggu makin cemas dirasa. Tetapi, apakah memang semuanya menyadari? Bahwa kita dirangkul oleh satu tujuan diantara banyak tujuan yang dibuat oleh tangan kita.

Aku menyadari bahwa di fase ini, nyatanya aku sedang 'menunggu’. Ketika kaki ini mulai mencoba untuk menjajaki cerita baru, status baru, kehidupan baru, bukankah kita dihadapkan fase menunggu lebih dulu?
Seperti halnya kupu-kupu, tidak serta merta langsung tumbuh dengan keelokan sayapnya. Ada beberapa tahapan kehidupan yang harus dilalui olehnya agar bisa nantinya terbang indah menjadi seekor 'kupu-kupu’.
Lagi, lagi aku harus menunggu, ucapku dalam hati. Masih ingatkah kamu wahai diri, di masa 'menunggu’ mu yang telah lalu? Rasanya bosan, rasanya tak sabar, rasanya takut dan perasaan lainnya yang tidak dibenarkan. Masa dimana kamu memilih untuk berpindah ranah dan melepas status pelajarmu untuk menjemput bangku kuliah (baca lagi untuk dirimu Catatan Anak Rantau). Atau di masa kamu sedang merajut mimpi lainnya?
Jika dirasa membosankan.. coba ingat kembali perjuangan kerasmu di 'masa menunggu’ mu yang telah lalu. Begitu melelahkan bukan, tetapi bukankah ada rasa puas yang dirasa olehmu ketika kamu mencoba untuk sabar dan tetap setia menunggu?
Kita tidak dapat menyangkal bahwa jeda selalu ada diantara kelana kita. Jika kamu bersikukuh menghindar dan menyudahi perjalanan, dan memutus kesetiaan pada masa menunggumu untuk menceraikan tujuan yang dibuat olehmu. Ingatlah, sebenarnya masa 'menunggu’ masih mendiami dirimu.
Ingatlah diri kita telah dibuat 'menunggu’ oleh Allaah sedari kita ada di dunia. Ya benar, dunia ini bukankah tempat dimana masa 'menunggu’ mu juga? Dalam masa penantian yang tak pasti, nyatanya akan mengantarkan kita pada tujuan yang pasti.
قُلۡ إِنَّ ٱلۡمَوۡتَ ٱلَّذِي تَفِرُّونَ مِنۡهُ فَإِنَّهُۥ مُلَٰقِيكُمۡۖ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَٰلِمِ ٱلۡغَيۡبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ٨
Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan" (Al Jumu'ah : 8)
Ingatlah sejatinya kita dihadapkan dengan persoalan 'menunggu’ yang mendasar.
©Yogyakarta, 14 Juni 2020
Ilustrasi foto oleh Mike dari Pexels


You May Also Like

0 $type={blogger}


Terimakasih sudah membaca, mohon beri komentar yang bijak dan sesuai dengan topik yang dibahas