Setia Menunggu
“Apakah benar yang kamu katakan, setia menunggu? Sampai detik ini pun, masih setia menunggu atas sebuah ketetapan? Kamu hebat! Aku iri padamu”
Siapa yang tak lelah
ketika ditugaskan ‘menunggu’? Jujur, aku selalu tidak mau ambil bagian tugas
untuk 'menunggu’, aku selalu hindari apapun itu bentuk 'menunggu’, karena
membuat waktuku hanya terbuang pada satu tujuan yang tak pasti.
Aku salah selama ini dalam mengartikan kata
'menunggu’. Nyatanya, walaupun aku keras kepala sekali tidak ingin mengambil
porsi untuk bertugas 'menunggu’, tetap saja aku dihadapkan dengan persoalan
ini. Sudah mencoba menghindari dan berusaha menjemput, tetapi tersadar.. Bukankah
jika ingin mencapai satu tujuan, kita harus melalui beberapa proses, kita
sedang di masa 'menunggu’ bukan?
Iya benar, aku iri dengan sorangan disana
yang masih memegang teguh iman di masa 'menunggu'nya. Terimakasih telah setia
menunggu, terimakasih telah menjadikan masa menunggumu menjadi momen yang tepat
untuk mengakar pada keimanan.
Jeda diantara Kelana
Seorang penghuni, tak
selamanya betah berdiam lama pada satu tempat. Ia akan terus mencari harapan
untuk tetap menyambung kehidupannya. Sejatinya sorangan berdiam lama pada satu
titik. Berkumpul ramai, bukan hanya menjadi sendiri yang dipunyanya.
Manusia lain yang bersamanya juga menunggu.
Menunggu waktu yang tak pasti. Menunggu telah mengantarkan pada sebuah tanda tanya
besar, makin ditunggu makin cemas dirasa. Tetapi, apakah memang semuanya
menyadari? Bahwa kita dirangkul oleh satu tujuan diantara banyak tujuan yang
dibuat oleh tangan kita.
Aku menyadari bahwa di fase ini, nyatanya aku
sedang 'menunggu’. Ketika kaki ini mulai mencoba untuk menjajaki cerita baru,
status baru, kehidupan baru, bukankah kita dihadapkan fase menunggu lebih dulu?
Seperti halnya kupu-kupu, tidak serta merta
langsung tumbuh dengan keelokan sayapnya. Ada beberapa tahapan kehidupan yang
harus dilalui olehnya agar bisa nantinya terbang indah menjadi seekor
'kupu-kupu’.
Lagi, lagi aku harus menunggu, ucapku dalam
hati. Masih ingatkah kamu wahai diri, di masa 'menunggu’ mu yang telah lalu?
Rasanya bosan, rasanya tak sabar, rasanya takut dan perasaan lainnya yang tidak
dibenarkan. Masa dimana kamu memilih untuk berpindah ranah dan melepas status
pelajarmu untuk menjemput bangku kuliah (baca lagi untuk dirimu Catatan Anak Rantau). Atau di masa kamu sedang merajut mimpi lainnya?
Jika dirasa membosankan.. coba
ingat kembali perjuangan kerasmu di 'masa menunggu’ mu yang telah lalu.
Begitu melelahkan bukan, tetapi bukankah ada rasa puas yang dirasa olehmu
ketika kamu mencoba untuk sabar dan tetap setia menunggu?
Kita tidak dapat menyangkal bahwa jeda
selalu ada diantara kelana kita. Jika kamu bersikukuh menghindar dan
menyudahi perjalanan, dan memutus kesetiaan pada masa menunggumu untuk
menceraikan tujuan yang dibuat olehmu. Ingatlah, sebenarnya masa 'menunggu’
masih mendiami dirimu.
Ingatlah diri kita telah dibuat 'menunggu’
oleh Allaah sedari kita ada di dunia. Ya benar, dunia ini bukankah tempat
dimana masa 'menunggu’ mu juga? Dalam masa penantian yang tak pasti, nyatanya
akan mengantarkan kita pada tujuan yang pasti.
قُلۡ إِنَّ ٱلۡمَوۡتَ ٱلَّذِي
تَفِرُّونَ مِنۡهُ فَإِنَّهُۥ مُلَٰقِيكُمۡۖ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَٰلِمِ ٱلۡغَيۡبِ
وَٱلشَّهَٰدَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ٨
Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka
sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan
kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan
kepadamu apa yang telah kamu kerjakan" (Al Jumu'ah : 8)
Ingatlah sejatinya kita dihadapkan dengan
persoalan 'menunggu’ yang mendasar.
©Yogyakarta, 14 Juni 2020
Ilustrasi
foto oleh Mike dari Pexels


0 $type={blogger}
Terimakasih sudah membaca, mohon beri komentar yang bijak dan sesuai dengan topik yang dibahas