Awal Jejak Rasa
Ada yang gamblang terutarakan, ada yang tersimpan di hati. Menjalin silaturahim menjadi ajang yang dirindukan pada masa ini. Berat, bagi siapapun yang tak ingin berdamai. Dari sini, kita mulai kembali. Dari sini kita belajar dari pelajaran lalu.
Lisan yang sebenarnya tak
pernah luput dari kata salah. Satu ucap, dua ucap, bahkan lebih. Kita yang
semakin tenggelam dengan perkataan orang lalu membalas juga–menenggelamkan
dengan cara yang sama.
Itu yang tampak. Yang tidak
tampak, bagaimana kabarnya wahai hati?
Apa masih ada rasa jengkel,
dendam yang belum tersalurkan?
Mari perlahan, tariklah
nafasmu, rasakan aliran udara yang masuk melalui rongga hidungmu lalu rasakan
lebih dalam lagi sampai dadamu terasa sesak, hembuskan perlahan dan rasakan
hangatnya udara yang keluar disekitar hidung dan bibirmu.
Bawa dirimu pada kesadaran
penuh. Perbaiki sudut pandangmu, coba rasakan jika kamu dibenci oleh seseorang,
bagaimana rasanya? Tidak enak bukan?
Maka itulah, cara yang bisa aku
upayakan sebelum benar aku akan membenci seseorang, aku berusaha menempatkan
diriku pada orang yang aku benci. Lalu kemudian, aku menyadari bahwa mungkin
ada beberapa alasan yang tidak bisa diutarakan oleh orang
tersebut. Mungkin juga, tidak ada alasan yang baik yang mereka punya,
hanya sebuah kekhilafan berlaku demikian. Bukankah kita pernah melakukan hal
yang sama?
Jika menemui penyakit-penyakit
hati lainnya, coba kita buka ruang obrolan kita sama Allah.
Ceritain semuanya ke Allah dari yang kamu rasakan itu, sebelum kamu cerita ke
saudara atau temanmu, kalau belum lega dan rasanya sesak, menangislah
memohon ampunan dan perlindungan ke Allah dari segala bentuk penyakit hati.
Istighfar, percayalah kita
semua manusia tempat salah, lupa, dan khilaf.
Perlahan yuk maafkan kesalahan
orang. Mungkin dia tidak sengaja, mungkin memang ada pelajaran yang tidak sama
didapatkan oleh mereka (jadilah berbeda paham), mungkin dia sedang lelah
sehingga mudah tersulut emosi, mungkin saja dia dari awal sejak lahir sudah
dididik di lingkungan yang keras (jadilah intonasi suaranya terdengar galak).
Dan kata 'mungkin' yang harus
bisa kamu utarakan di hati. Menerka alasan mereka berlaku demikian. Tentu
dengan alasan-alasan yang positif. Sebenarnya ini cara agar membuat hatimu
lega, ikhlas, berdamai dengan diri sendiri, dan ujungnya adalah
penerimaan–memafkan. Jika sudah berdamai dengan diri sendiri, nantinya kamu
akan kuat tidak mempedulikan sikap orang lain tersebut kepada dirimu.
Bersemangatlah..jangan pernah berhenti
untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi
© Yogyakarta, 24 Mei 2020 (1 Syawal 1441 H)
Aku ulangi tulisan
dari akun tumblr-ku diatas, setelah mendengar kabar dunia kembali mendengungkan
persoalan kemanusiaan.
Ada tulisan lain yang menarik untuk direnungkan, aku ambil dari tulisan di akun ig @qilqilazhra
.Benar dan Salah. Menurut kamu siapa yang benar dan siapa yang salah? Apakah kita berhak menyalah orang karena merasa paling benar? Apakah ilmu dan pengalaman kita cukup banyak hingga bisa untuk menyalahkan orang lain?Nyatanya semua orang punya teori atas pendapat dan perilakunya. Nyatanya semua orang belum pantas untuk menyalahkan. Karena semua orang belum merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Dan ujung-ujungnya semua berakhir dengan menerima perbedaan juga kan? Bukankah perbedaan adalah Rahmat dari Tuhan yang dengan itu kita diperintahkan untuk saling mengenal.


0 $type={blogger}
Terimakasih sudah membaca, mohon beri komentar yang bijak dan sesuai dengan topik yang dibahas