Rantai Raga

by - May 10, 2019





Dalam dekapan awan yang kembali pekat
Dalam rinai hujan yang berpulang
Aku kembali mengeja kata takdir yang telah tersuara

Terbata, seperti ada batas yang membuatku terhalang mengartikan  keadaan
Terdengar kata andai yang semakin keras
Mengadu untuk dipertanyakan
Tak tersampai hingga membuatnya melemah

Sekian ratus bahkan ribu kata, tertulis olehnya
Tersampaikan kepada alam
Bahkan sering menanyakan alur cerita untuknya
Beralih, yang tersisa hanyalah sebuah penolakan
Berbuah pada sebuah kata kutukan

Aku kembali merantai raga
Bertemankan pada angan,
Namun melemah pada genggaman keyakinan

Ucap terakhir yang kusebut adalah sebuah perjanjian pada alam
Diri ingin tetap terus menghamba
Tanpa menoleh sedikit pada dunia
Namun, awan yang pekat kembali mengundang

Merantai raga
Patah, yang tersisa hanyalah meninggalkan pengkhianatan seorang hamba
Bukannya untuk tetap berdiri walau ombak menghadang
Bukannya untuk tetap merendah dengan penuh harap
Diri yang tetap selalu bertemankan pada riuh dunia



©Tangerang Selatan, 10 Mei 2019





You May Also Like

0 $type={blogger}


Terimakasih sudah membaca, mohon beri komentar yang bijak dan sesuai dengan topik yang dibahas