Tak Ingin Padam : Jagalah Agar Tetap Bersinar!

by - August 04, 2020


Setiap orang tentu memiliki pemikiran yang berbeda. Norma atau aturan sopan santun yang ditanam dalam asuhan keluarga, juga tentu memiliki perbedaan. Nyatanya tidak semua orang dapat menerima perbedaan itu. Kembali, diri ini diingatkan melalui ujian yang diberikan olehNya. Berhadapan lagi dengan seseorang yang pernah singgah membuat luka pada hati ini, memang tidak mudah dan cukup menguras emosi.  Papa selalu mengingatkan untuk tetap berbuat baik kepada setiap orang dan tetap mengusahakan untuk memberikan kesan yang baik karena barangkali itulah perjumpaan terakhir kita. Memang tidak mudah untuk tetap berusaha melaksanakan pesan papa, karena sesekali respon masing-masing orang akan berbeda dalam menilai sikap kita.

Di masa pandemi seperti ini membuat kita terpaksa menjalin komunikasi jarak jauh. Kaget, marah bercampur sedih, kiranya begitulah gambaran perasaan yang menyerbu serentak dalam diri ini. Merenungi apa yang menjadi kesalahan dalam berkata. Tersadar, bahwa kesalahanpahaman bisa saja terjadi ketika kita tidak dapat berinteraksi secara langsung apalagi berinteraksi melalui tulisan yang tidak bernada dan tidak menampilkan mimik wajah kita. Sebenarnya ada celah keinginan untuk marah, namun untungnya disadarkan oleh Allah untuk fokus hanya kepada Allah saja.

Ya, jeda diantara kelana, sudah seharusnya kita berjeda ketika rasa lelah menghampiri diri kita, rasa lelah yang tidak datang sendiri karena juga mengundang perasaan lain yang merugikan kita. Bejeda untuk berpikir dua kali sebelum bertindak sembari memupuk kesabaran, karena meyakini bahwa Allah menyukai orang-orang yang bersabar. Memilih untuk fokus pada apa yang Allah sukai saja. Memilih untuk tetap berbuat baik dan mengusahakan untuk menjalankan pesan dari papa. Alhamdulillah bersyukur, tidak menuruti hawa nafsu ini.  Sambil berdo’a agar diberikan jalan keluar yang terbaik, merasa bersyukur lagi karena pada akhirnya Allah ijinkan untuk menata ulang hati ini kembali. Hanya kepada Allah saja, kita semua memulangkan perasaan sedih, kecewa, marah, dan berlindung dari segala penyakit hati.

“Selalu tinggalkan kesan yang baik, barangkali itu pertemuan akhir”

Tidak mudah menjalani pesan diatas. Tersadar bahwa yang saya perbuat adalah hal yang keliru karena terus mengusahakan memberikan kesan yang baik, sementara melupakan bahwa masing-masing diri kita memiliki pemikiran yang berbeda, otomatis respon yang kita terima akan berbeda juga. Tersiksa sendiri yang dirasakan ketika hanya fokus untuk mendapatkan penilaian baik dari orang lain. Padahal sudah tahu bahwa tidak semua orang dapat dibuat senang oleh kita. Ya pesan diatas adalah sebaik-baik usaha manusia, namun bukan menjadi suatu kegagalan dalam diri yang sedang mengupayakan pesan diatas jika nantinya kita menemukan kekecewaan yang didapat dari respon orang lain. Lagi, karena sejatinya.. tidak semua orang dapat dibuat senang oleh kita

Tersadar kembali bahwa setiap diri seseorang memiliki Cahaya, yang dimana cahaya tersebut merupakan gambaran bagaimana Allah bekerja dalam diri kita. Teringat kembali apa yang pernah ditulis oleh teman dekat saya, Ukhti Fakhriyah Elita dalam bukunya ‘Its Okay to Not Be Okay’. Setiap diri kita pernah menemukan permasalahan hidup. Permasalahan yang hadir mengundang kecamuk perasaan yang sewaktu-waktu dapat menggelapkan hati kita. Jika kita menuruti hawa nafsu hingga akhirnya membuat kita lalai dalam berperilaku baik, maka cepat-cepatlah ingat Allah. Gantilah fokus kita pada Allah. Cari saja apa yang disukai oleh Allah, ketimbang harus beredebat dengan permasalahan kita. Nyatanya, dalam permasalahan tersebut tidak selamanya hati kita terselimuti dengan kegelapan, jika kita dapat menyalakan Cahaya-Nya dalam hati kita. Percaya atau tidak, inilah bentuk kasih sayang Allah, ada manusia yang bisa menyikapi permasalahan dengan kesabaran dan dapat mengambil hikmahnya karena pada dirinya tersimpan Cahaya Allah yang selalu ia jaga untuk tetap bersinar, ketimbang ia membiarkan kekesalan menumpuk menjadi titik hitam yang dapat menggelapkan hatinya. Cahaya Allah dalam diri ini merupakan sebuah hadiah yang bisa saja wujudnya berupa pemahaman baru, penjagaan dari perilaku buruk,  ataupun perasaan tenang dalam diri.

Mari sejenak kita renungi firman Allah dalam surat Al Muthafiffin ayat 14

 كَلَّاۖ بَلۡۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِم مَّا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ ١٤

14. Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka

Dalam hadist berikut diterangkan makna ayat tersebut

Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda “Seseorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan “ar raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’.”

Ibnu Qayyim Al Jauziya rahimahullah mengatakan “Jika dosa semakin bertambah, maka itu akan menutupi hati pemiliknya”. Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebutkan perkataan Hudzaifah dalam fatwanya, Hudzaifah berkata “Iman membuat hati nampak putih bersih. Jika seseorang hamba bertambah imannya, hatinya akan semakin putih”.

Tentu ini menjadi bagian dari tugas diri untuk berlatih sabar kembali. Kita bisa saja melewati ujian entah dengan cara apa yang kita pilih, namun jika melupakan untuk mengikutsertakan Iman didalamnya, sudah pasti kita termasuk orang-orang yang merugi dan menemukan kebuntuan dalam perjalanan kita. Bersyukur jika kita bisa menyadari bahwa kita tidak dapat melalui ujian dengan sendirinya, maka sudah seharusnya kita memulangkannya kepada Allah, menghidupkan kembali Cahaya Allah dalam diri kita.

Ada tulisan menarik yang meneduhkan, Tulisan dibawah ini, saya kutip dari Kak Thessa Revananda Putri

Ingin lenyap. Begitu kira-kira. Nurani tergelap kita pernah bersuara. Kekhawatiran terbesar kita pernah mengudara. Ketakutan kita pernah tak henti-hentinya bercengkrama. Memanipulasi seluruh batas logika dan rasional diri kita. Menjelajah seluruh ruang sunyi dalam diri kita. Yang jika, kita sampai hati mematuhi dan mengimani seluruh rasa itu. Mungkin, kita akan menjadi manusia yang paling menyesal dan merugi pada akhirnya. Karena telah mengizinkan, seluruh bayang dan ilusi itu, singgah dalam benak. Menjadi sebuah keyakinan meskipun tidak diaminkan. Dan Tuhan, begitu baiknya menyeka seluruh niat itu. Agar tidak sampai terjadi. Karena Ia tahu, masih ada setitik iman dan harapan, yang terbenam dalam benak. Masih ada setitik kebaikan, untuk-Nya dapat mempertimbangkan. Menghendaki segala kemuliaan arah dan jalan. Agar kelak sampai di tujuan. Yang meskipun titik itu berukuran sangat kecil, dan begitu kasat pandang.

Sumber Inspirasi :

It’s Okay to Not Be Okay (baca di KBM App: fakhriyahelita)

Be Holding by tessarevananda

Rumaysho.com : Maksiat Menggelapkan Hati

Ilustrasi foto oleh Ozgur Ozkan dari Pexels

 

You May Also Like

4 $type={blogger}

  1. Terimakasih sudah membaca kak,salam kenal juga🙏

    ReplyDelete
  2. Halo salam kenal. Saya paling suka kalimat yang ini kak "selalu tinggalkan kesan yang baik"

    ReplyDelete
  3. Halo salam kenal juga kak..terimakasih sudah membaca🙏

    ReplyDelete


Terimakasih sudah membaca, mohon beri komentar yang bijak dan sesuai dengan topik yang dibahas