Awalan Cerita bagi Para Pembaca
Bismillahirrahmanirrahim..
Tidak mudah untuk
menerima suatu keadaan yang tidak sesuai harapan, bukan? Itulah yang disebut sebagai
ujian dari beberapa tokoh yang aku temui. Jika ingin mengetahui apakah ini benar-benar
ujian atau sebaliknya-sebuah keberuntungan, cobalah untuk seksama kita membuka tirai
ujian yang seringkali terlihat samar oleh kita. Akan ada pemandangan yang indah
jika kamu ketahui, pahami, dan syukuri.
Kamu pernah merasakan sedih, kecewa, marah, bahagia, takut, resah, dan semua warna-warni perasaan yang silih berganti, aku pun juga merasakan demikian. Tetapi jangan salahkan keadaan, bahkan mengutuk diri sendiri, karena sesungguhnya yang terlampaui batas akan menjadi kerugian bagi kita sendiri.
Tanpa sadar, kita hanyalah seorang hamba yang selalu merasakan kejutan dari permainan dunia ini, namun apakah cukup hati kita untuk merasakan? Tanpa memahaminya?
Rasanya terlewatkan begitu saja, jika hanya menyicipi tanpa tahu rasa yang sebenarnya, bahwa dunia bukanlah persinggahan terakhir kita. Dunia bukanlah sekedar tempat dimana kita hidup menjadi pribumi bahkan menjadi nomaden sekalipun yang berpindah ranah. Bukan sekedar bergantung pada kata teman, maupun keluarga bahkan tokoh-tokoh yang ingin dikenal lainnya.
Bukan hanya soal cerita tentang ranah maupun tokoh namun juga waktu.
Demi Masa (Al Asr ayat 1), salah satu ayat CintaNya untuk kita, ingatlah waktu akan bergulir dengan cepat membawa kita pulang padaNya. Karenanya, dunia hanyalah sementara, maka jangan sia-siakan waktu untuk perasaan yang merugikanmu.
Jika sedih yang terasa karena ujian yang bergitu berat, maka ingatlah janji Allah-karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Jika lelah terasa menghampirimu, ingatlah sekeras apapun usaha kamu, namun rasanya tidak ada hasil yang kamu dapatkan atau tidak sesuai dengan harapan kamu, maka Allah sudah menjanjikan balasan yang terbaik bagimu- orang-orang yang telah berusaha (An Najm ayat 39-42).
Sejatinya Sang Kuasa ingin menjadi muara terakhirmu dari segala macam usaha yang telah kamu perbuat, karena Allah menantimu untuk selalu berdo’a dan menjadi do’a sebagai penguat usaha yang sedang kamu perjuangkan. Dan kata “jika” pada perasaan lainnya menghampirimu, maka ingatlah bahwa bentuk apapun perasaan itu yang kamu rasakan, adalah salah satu bagian dari banyaknya tanda kasih sayang Allah untukmu.
Kamu pernah merasakan sedih, kecewa, marah, bahagia, takut, resah, dan semua warna-warni perasaan yang silih berganti, aku pun juga merasakan demikian. Tetapi jangan salahkan keadaan, bahkan mengutuk diri sendiri, karena sesungguhnya yang terlampaui batas akan menjadi kerugian bagi kita sendiri.
Tanpa sadar, kita hanyalah seorang hamba yang selalu merasakan kejutan dari permainan dunia ini, namun apakah cukup hati kita untuk merasakan? Tanpa memahaminya?
Rasanya terlewatkan begitu saja, jika hanya menyicipi tanpa tahu rasa yang sebenarnya, bahwa dunia bukanlah persinggahan terakhir kita. Dunia bukanlah sekedar tempat dimana kita hidup menjadi pribumi bahkan menjadi nomaden sekalipun yang berpindah ranah. Bukan sekedar bergantung pada kata teman, maupun keluarga bahkan tokoh-tokoh yang ingin dikenal lainnya.
Bukan hanya soal cerita tentang ranah maupun tokoh namun juga waktu.
Demi Masa (Al Asr ayat 1), salah satu ayat CintaNya untuk kita, ingatlah waktu akan bergulir dengan cepat membawa kita pulang padaNya. Karenanya, dunia hanyalah sementara, maka jangan sia-siakan waktu untuk perasaan yang merugikanmu.
Jika sedih yang terasa karena ujian yang bergitu berat, maka ingatlah janji Allah-karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Jika lelah terasa menghampirimu, ingatlah sekeras apapun usaha kamu, namun rasanya tidak ada hasil yang kamu dapatkan atau tidak sesuai dengan harapan kamu, maka Allah sudah menjanjikan balasan yang terbaik bagimu- orang-orang yang telah berusaha (An Najm ayat 39-42).
Sejatinya Sang Kuasa ingin menjadi muara terakhirmu dari segala macam usaha yang telah kamu perbuat, karena Allah menantimu untuk selalu berdo’a dan menjadi do’a sebagai penguat usaha yang sedang kamu perjuangkan. Dan kata “jika” pada perasaan lainnya menghampirimu, maka ingatlah bahwa bentuk apapun perasaan itu yang kamu rasakan, adalah salah satu bagian dari banyaknya tanda kasih sayang Allah untukmu.
Aku
melewatkan cerita bagaimana bisa aku ingin bercerita padamu tentangNya
Kata Cinta semakin deras mengalir, akan salah berbuah dosa jika aku tak memaknainya dengan sempurna. Kata Cinta, akan menjadi jebakan jika kita menuruti hawa nafsu yang secara fitrah tersimpan pada diri manusia. Kata Cinta, menjadi teka-teki bagi yang haus akan sebuah pengharapan yang tidak dibenarkan. Namun kata Cinta, menjadi indah jika kita kembali pada “Siapa yang menumbuhkan” dan “Kemana cinta ini seharusnya berlabuh”.
Itulah alasan yang menguatkan aku kembali bercerita kepadamu. Sudah lama rasanya, tangan ini tak bertugas untuk merangkai kata menjadi sebuah cerita.
Ada
yang sudah tahu namun ragu untuk menyampaikan, ada yang salah? Itulah yang
terlihat pada cermin didepanku, berlindung pada “kenyamanan” dunia dan
melupakan bahwa masing-masing diri kita mempunyai tugas untuk saling berbuat
kebaikan.
Aku ingin mengajakmu untuk menyelami ayat cintaNya lebih dalam lagi, ayat yang singkat namun menyentuh hati. Allah telah memperingati bahwa keadaan kita sungguh dalam kerugian, namun Allah menenangkan untuk para pemilik hati yang kembali padaNya, yaitu orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan saling menasihati untuk tetap menaati kebenaran dan tetap pada kesabaran (Al Ashr ayat 2-3).
Itulah mengapa, aku tidak bisa berdiam diri untuk membiarkan kamu sendiri dan membiarkan ilmu ini hanya menguap di kepalaku saja.
Bagiku jalan dakwah adalah hal tidak mudah namun bukan sepenuhnya menyulitkan. Karena ilmu yang sedikit aku punya, akan aku coba untuk belajar menyampaikannya lewat tulisan ini.
Semoga dakwah ini berkembang menjadi rutinitas istiqomah kita bersama, walaupun melalui media yang berbeda (video, pidato, tulisan) namun sejatinya jangan pernah berhenti berjuang untuk memperjuangkan Kecintaan pada Allah.
Bagiku, dakwah adalah sebuah tugas yang harus aku sadarkan dalam diriku, dan aku memaknainya dakwah tidak hanya melalui ucapan saja, namun juga bisa melalui tulisan, dan perbuatan.
Sedikit demi sedikit, menapaki jalan dakwah ini dan tetap merendah, karena hanyalah Allah yang menguasai Ilmu, dan berlindung kepadanya agar diberi kekuatan untuk menapaki setiap jalan cinta ini.
Sungguh indah jika kita memaknai seluruh kegiatan sehari-hari kita di dunia ini dengan landasan untuk beribadah kepada Allah.
Dan satu lagi, adalah sebuah kata penutup dari sambutan penulis, mengutip yang tidak sepenuhnya sempurna dari nasehat Ustadz Handi Bony, bahwa sesungguhnya dakwah itu bagaikan melemparkan bola ke dinding, semakin keras kekuatan kita untuk melemparkan bola tersebut akan menmantul keras kembali pada diri kita.
Begitu juga dakwah, bola diibaratkan sebuah ilmu, jika kita giat menyampaikan ilmu yang mengajak pada kebaikan, kita akan mendapatkan ilmu itu kembali, malahan mendapatkan ilmu yang banyak, sejatinya belum kita pahami bahkan membawa banyak manfaat untuk kita.
Aku ingin mengajakmu untuk menyelami ayat cintaNya lebih dalam lagi, ayat yang singkat namun menyentuh hati. Allah telah memperingati bahwa keadaan kita sungguh dalam kerugian, namun Allah menenangkan untuk para pemilik hati yang kembali padaNya, yaitu orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan saling menasihati untuk tetap menaati kebenaran dan tetap pada kesabaran (Al Ashr ayat 2-3).
Itulah mengapa, aku tidak bisa berdiam diri untuk membiarkan kamu sendiri dan membiarkan ilmu ini hanya menguap di kepalaku saja.
Bagiku jalan dakwah adalah hal tidak mudah namun bukan sepenuhnya menyulitkan. Karena ilmu yang sedikit aku punya, akan aku coba untuk belajar menyampaikannya lewat tulisan ini.
Semoga dakwah ini berkembang menjadi rutinitas istiqomah kita bersama, walaupun melalui media yang berbeda (video, pidato, tulisan) namun sejatinya jangan pernah berhenti berjuang untuk memperjuangkan Kecintaan pada Allah.
Bagiku, dakwah adalah sebuah tugas yang harus aku sadarkan dalam diriku, dan aku memaknainya dakwah tidak hanya melalui ucapan saja, namun juga bisa melalui tulisan, dan perbuatan.
Sedikit demi sedikit, menapaki jalan dakwah ini dan tetap merendah, karena hanyalah Allah yang menguasai Ilmu, dan berlindung kepadanya agar diberi kekuatan untuk menapaki setiap jalan cinta ini.
Sungguh indah jika kita memaknai seluruh kegiatan sehari-hari kita di dunia ini dengan landasan untuk beribadah kepada Allah.
Dan satu lagi, adalah sebuah kata penutup dari sambutan penulis, mengutip yang tidak sepenuhnya sempurna dari nasehat Ustadz Handi Bony, bahwa sesungguhnya dakwah itu bagaikan melemparkan bola ke dinding, semakin keras kekuatan kita untuk melemparkan bola tersebut akan menmantul keras kembali pada diri kita.
Begitu juga dakwah, bola diibaratkan sebuah ilmu, jika kita giat menyampaikan ilmu yang mengajak pada kebaikan, kita akan mendapatkan ilmu itu kembali, malahan mendapatkan ilmu yang banyak, sejatinya belum kita pahami bahkan membawa banyak manfaat untuk kita.



1 $type={blogger}
Terimakasih sudah membaca, silahkan untuk memberi masukan kepada saya di kolom komentar, terimakasih..
ReplyDeleteTerimakasih sudah membaca, mohon beri komentar yang bijak dan sesuai dengan topik yang dibahas